
"Tuan Daniel, berhentilah!" lirih Dania sembari mengulurkan tangannya ke hadapan lelaki itu.
Daniel menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Jangan! Jangan dekati aku! Menjauhlah dariku karena aku bisa menyakitimu kapan saja," sahut Daniel sembari mencoba mengontrol emosinya.
Namun, bukannya pergi, Dania malah semakin mendekat dan terus mendekat. Hingga akhirnya Daniel terpojok antara gadis itu dan meja kerjanya. "Menjauh lah, Dania. Menjauh lah!"
Saat Daniel sudah tidak berdaya di hadapannya, Dania refleks memeluk tubuh lelaki pemarah itu. Ia memberikan pelukan hangat bahkan rasa hangat itu menjalar hingga ke dalam hati dan pikiran Daniel.
"Tenanglah, Tuan. Aku ada di sini bersamamu," ucap Dania.
Hati Daniel yang tadinya begitu panas seketika menjadi hangat. Daniel bahkan tidak pernah merasakan kehangatan yang seperti ia rasakan saat ini. Perlahan Daniel mengangkat tangannya dan membalas pelukan Dania.
"Maafkan aku," lirihnya.
Dania sontak mengangkat kepalanya dan menatap wajah Daniel saat itu. Wajahnya yang tadi memerah, perlahan menjadi normal kembali dan malah sebaliknya, lelaki itu tampak sedih dan merasa bersalah karena sudah mengatakan hal yang buruk tentang Dania.
"Kemarilah, Tuan."
Dania meraih tangan Daniel dan mengajak lelaki itu untuk duduk ke kursi kerjanya. Sementara Daniel duduk, Dania masih berdiri di samping lelaki itu dengan bersandar di meja kerjanya yang begitu berantakan.
Pelayan yang sejak tadi memperhatikan apa yang terjadi di ruangan itu dengan tubuh gemetar, akhirnya menjadi sedikit lebih tenang setelah melihat Dania berhasil memenangkan majikannya tersebut. Ia mengelus dadanya sambil menghela napas lega. "Syukurlah," gumam Pelayan itu.
Pelayan itu segera keluar dari ruangan tersebut dan ketika ia membuka pintu ternyata Roy baru saja tiba di sana sambil menatap Pelayan itu dengan wajah heran.
__ADS_1
"Apa yang terjadi, Bi?" tanya Roy yang sama sekali tidak menyadari kejadian yang terjadi barusan.
"Tuan Daniel, Tuan. Ia kembali mengamuk karena suatu hal," sahut Pelayan itu.
"Apa?! Lalu bagaimana dia sekarang?" pekik Roy.
"Sekarang Tuan Daniel sudah baikan. Nona Dania berhasil menenangkannya," kata Pelayan itu sambil tersenyum semringah menatap Roy.
"Nona Dania?" Roy memasang wajah heran tatkala mendengar nama gadis itu disebutkan. Apa lagi setelah mendengar bahwa Dania mampu menenangkan emosi Daniel yang meledak-ledak. Setahu Roy, selama ini tidak ada yang mampu meredam kemarahan lelaki itu.
"Apa kamu serius?" tanya Roy yang masih tidak percaya dengan perkataan Pelayan itu.
"Sumpah demi Tuhan, Tuan Roy. Saya melihat dengan mata kepala saya sendiri bahwa Tuan Daniel sontak menjadi tenang setelah Nona Dania memeluknya," jawab Pelayan itu lagi dengan sangat antusias.
"Baik, Tuan." Pelayan itu bergegas pergi mengambilkan minuman untuk Daniel.
Sementara Roy perlahan membuka pintu ruangan itu dan ia pun melihat suatu pemandangan yang begitu manis. Dania menyentuh kedua pipi Daniel dan menatap lekat kedua bola mata lelaki yang sedang duduk di hadapannya itu.
"Jangan pernah lakukan itu lagi, Tuan. Jangan sakiti dirimu sendiri," tutur Dania sembari mengelus lembut pipi Daniel.
"Kenapa kamu tidak takut padaku, Dania? Semua orang selalu pergi meninggalkan aku di saat aku mengamuk. Mereka takut kepadaku, tapi kenapa kamu tidak?" jawab Daniel dengan suara yang terdengar sangat lirih.
Ya, selama ini tidak ada yang berani menghadapi kemarahan Daniel. Semua orang memilih untuk pergi dan membiarkan Daniel dengan kemarahannya yang memuncak, terkecuali Roy.
__ADS_1
Asisten pribadi lelaki itu selalu setia berdiri di samping Daniel walaupun Daniel mengamuk tidak jelas dan tidak jarang Roy menjadi sasaran pelampiasan kemarahan Daniel. Walaupun Roy berani berdiri di samping lelaki itu, tetapi sampai sekarang Roy masih belum tahu bagaimana cara mengendalikan amarah majikannya tersebut.
Dania tersenyum. "Karena kamu adalah suamiku, Tuan. Dan sebagai seorang istri, aku akan selalu setia berada di sampingmu," jawab Dania.
Jawaban yang begitu singkat dan padat. Namun, begitu mengena di hati Daniel. "Tapi, pernikahan kita bukan atas dasar cinta, Dania. Aku bahkan tidak memiliki perasaan apapun kepadamu dan aku yakin kamu pun begitu. Jadi, bagaimana kamu bisa mengatakan hal itu?"
Dania menundukkan kepalanya sejenak sambil tersenyum kecut. "Mungkin bagi Tuan, aku bukanlah siapa-siapa. Mungkin aku hanya seorang wanita pengganti yang terpaksa Tuan nikahi. Tetapi tidak bagiku, Tuan. Aku tidak pernah main-main soal pernikahan ini dan aku sudah berjanji akan terus bersamamu baik suka maupun duka," lirih Dania.
Daniel terdiam dengan tatapan tajam menatap kedua bola mata gadis itu. Tidak ada kebohongan di sana, tidak ada kepura-puraan di bola mata nan indah tersebut. Sekarang Daniel benar-benar yakin bahwa Dania bukanlah Adelia, bahwa sifat Dania berbanding terbalik dari Adelia.
"Maukah kamu berjanji padaku, Dania? Berjanjilah untuk tetap memegang teguh perkataanmu barusan, karena aku sudah mulai mempercayainya," lirih Daniel lagi.
"Ya, aku berjanji, Tuan. Aku akan perkataanku barusan," sahut Dania dengan sangat antusias.
Daniel tersenyum tipis kemudian merentangkan tangannya. "Sekarang, maukah kamu memelukku lagi?"
"Tentu saja, kenapa tidak, Tuan." Dania pun kembali memeluk tubuh lelaki itu dengan erat sama seperti sebelumnya. Namun, kali ini Dania memeluknya dengan perasaan aman dan nyaman. Tak seperti sebelumnya, memeluk dengan perasaan cemas.
Daniel membalas pelukan Dania dan tiba-tiba saja mata lelaki itu tertuju pada Roy yang masih berdiri di depan pintu dengan mata membulat sempurna. "Hei! Kamu mengintipku, ya!" kesal Daniel sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya, memberi isyarat kepada Roy agar segera pergi dari ruangan itu.
Tanpa bersuara, Roy pun segera keluar dan menutup kembali pintu ruangan itu sambil tersenyum lega.
"Mungkin Tuhan memang sengaja memberikan Nona Dania sebagai pengantin pengganti untukmu, Tuan Daniel. Buktinya si gadis aneh itu bisa meredam amarahmu," gumam Roy yang kini bersandar di dinding ruangan itu sambil menunggu Daniel dan Dania puas berpelukan di dalam ruangan tersebut.
__ADS_1
...***...