Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Rumah Sakit


__ADS_3

Setibanya di Rumah Sakit, Roy segera mengajak Dania dan Selly menuju ruangan di mana Daniel sedang dirawat.


Pertama kali pintu terbuka, tatapan Dania langsung tertuju pada sosok tampan yang sedang terbaring di atas tempat tidur pasien. Lelaki itu tersenyum hangat menyambut kedatangan kedua gadis itu.


"Apa yang terjadi padamu, Mas?" tanya Dania sembari menghampiri tempat tidur pasien dan duduk di samping lelaki itu. Dania memperhatikan sekujur tubuh Daniel yang kini dihiasi oleh perban berwarna putih.


Sebelum menjawab pertanyaan dari gadis itu, Daniel sempat melototkan matanya kepada Roy. Seakan memberikan tekanan penuh kepada Roy agar tidak menceritakan hal memalukan yang tadi ia alami kepada istrinya itu. Roy mengerti apa yang dimaksud oleh Daniel barusan dan ia pun mengangguk.


"Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Benar 'kan, Roy," jawab Daniel kemudian sambil tersenyum simpul.


"Baik-baik saja? Apa aku tidak salah dengar, Kak? Coba lihat bagaimana kondisi Kakak saat ini? Apa itu yang disebut baik-baik saja? pekik Selly yang tidak setuju dengan ucapan lelaki itu. Ia menunjuk ke arah luka-luka yang menghiasi tubuh Daniel untuk menunjukkan bahwa lelaki itu menang sedang tidak baik.


Daniel terkekeh pelan. "Aku memang baik-baik saja, kok. Buktinya aku masih bisa bernapas saat ini," jawabnya dengan santai.


Selly hanya bisa menggelengkan kepalanya. Ia tidak tahu apa yang membuat Daniel menjadi pribadi yang begitu kuat. Padahal biasanya lelaki itu lebaynya minta ampun.


"Oh ya, Selly, hampir saja aku lupa memberitahumu. Hari ini Ayah dan Ibumu akan ke sini untuk menjenguk sekaligus menjemputmu," ucap Daniel lagi.


Selly menekuk wajahnya, ia masih belum ingin kembali. Selain karena ia merasa nyaman tinggal bersama Daniel, ia pun masih ingin memperjuangkan perasaannya terhadap Erick.


"Tapi, Kak! Aku masih ingin tinggal di sini, boleh ya? Please!" lirih Selly sambil menangkupkan tangannya ke dada.

__ADS_1


Daniel kembali tersenyum tipis. "Aku tidak pernah melarangmu untuk tinggal bersama kami, selama kamu tidak menggangu aktifitasku. Tapi, kalau itu keputusan Ayah dan Ibumu, aku pun tidak bisa berbuat apa-apa," sahut Daniel.


"Oh ya, Dania. Kamu belum pernah bertemu dengan Tante Riska 'kan? Setelah bertemu dengannya, kamu pasti akan menyukainya karena Tante Riska itu orangnya baik sekali," lanjut Daniel sembari merengkuh pundak Dania yang sedang duduk di samping tubuhnya.


"Ya, Kak Daniel benar, Dania. Ibuku adalah Ibu sambung terbaik sedunia! Sama seperti yang aku ceritakan kepadamu sebelumnya," sambung Selly dengan penuh semangat.


"Aku benar-benar tidak sabar ingin bertemu dengannya. Semoga saja Tante Riska menyukaiku," sahut Dania sambil tersenyum getir. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia merasa takut. Takut Tante Riska tidak menyukainya karena menurut Dania sendiri, wanita itu lebih merestui Daniel bersama Adelia ketimbang dirinya.


"Tentu saja, Dania! Tidak diragukan lagi, Ibuku pasti akan menyukaimu. Apa lagi kamu adalah gadis yang sangat baik. Beda dengan si Itu," sahut Selly dengan penuh penekanan ketika menyebut kata 'Si Itu'.


"Si Itu, siapa maksudmu?" Daniel mulai memasang wajah masam menatap Selly.


Pletak!


"Aw!"


Daniel yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya, menyetil kening Selly. "Jangan pernah ingatkan apapun soal dia! Aku tidak ingin siapapun menyebut dan mengingatkan bahwa orang itu pernah hadir di kehidupanku! Mengerti?" tegas Daniel sambil menatap lekat kedua bola mata Selly.


"Baiklah, Kak. Aku janji," sahut Selly sembari mengelus keningnya yang masih terasa sakit akibat sentilan Kakak sepupunya itu.


Tak terasa malam pun tiba.

__ADS_1


Selly memilih pulang, sementara Dania memilih tinggal di Rumah Sakit untuk menemani suaminya yang masih dalam perawatan.


"Sebaiknya kamu pulang saja, Dania. Biar Roy dan yang lainnya menemaniku di sini," ucap Daniel sembari mengelus lembut pipi Dania yang merah merona.


"Tidak, aku akan tetap di sini menemanimu. Kamu 'kan suamiku, Mas. Masa aku pulang dan membiarkan kamu tidur sendirian di tempat ini," sahut Dania.


Daniel tersenyum puas. "Oh ya, kapan tamu bulananmu berakhir? Kamu tidak lupa 'kan akan hutang-hutangmu padaku?"


"Masih belum, Mas. Nanti kalau sudah selesai pasti akan kubilang sama kamu," jawab Dania.


"Awas kalau kamu bohong! Aku tidak akan segan-segan merazia tubuhmu jika kamu berbohong padaku," ancam Daniel sambil menyeringai.


"Tidak akan! Aku tidak akan pernah berbohong padamu."


"Kemarilah!"


Daniel menarik tubuh Dania ke dalam pelukannya kemudian mengajak gadis itu untuk berbaring bersama di atas tempat tidur pasien tersebut.


"Malam ini kita akan tidur di sini. Semoga besok aku sudah diperbolehkan pulang dan kita akan kembali ke kediaman kita," lanjut Daniel.


...***...

__ADS_1


__ADS_2