
Tidak berselang lama, Samuel pun kembali. Lelaki itu sudah selesai membersihkan tubuh serta mengganti pakaiannya. Ia pun kembali terlihat keren, sama seperti sebelumnya.
"Tuan, sepertinya wanita ini sedang sakit. Apa kah kita harus membawanya ke Rumah Sakit?" tanya lelaki itu ketika Samuel sudah berdiri disampingnya.
Samuel memperlihatkan kondisi Adelia yang kini tergolek lemah di tanah, di samping mobilnya. Wanita itu masih sadar, hanya saja tubuhnya sangat lemah dan ia tidak sanggup melakukan apapun lagi. Samuel terkejut, ia baru menyadari kondisi Adelia yang sebenarnya.
"Rumah Sakit? Apa kamu sudah gila? Apa kamu ingin mereka berhasil menemukan persembunyian kita, begitu? Aku yakin, Ibu dari wanita ini tidak akan tinggal diam begitu saja. Ia pasti sudah meminta pertolongan kepada polisi setempat, atau malah meminta pertolongan sama Tuan Daniel," jawab Samuel.
"Lalu, apa yang harus kami lakukan sekarang?"
"Masih sama seperti sebelumnya. Kita jalankan rencana sebelumnya. Dan soal Adelia, aki rasa dia baik-baik saja. Aku yakin ia hanya kelelahan atau sedang mabuk perjalanan," jawab Samuel dengan gamblangnya.
"Baiklah kalau begitu, Tuan."
Samuel masuk ke dalam mobil yang kini sudah bersih, sama seperti sebelumnya. Sementara lelaki yang tadi mengemudikan mobil, mengangkat tubuh Adelia yang sudah lemah kemudian membawanya masuk. Ia mendudukkan tubuh Adelia di samping Samuel.
"Sebaiknya kita berangkat sekarang. Aku tidak ingin sesiapapun tahu keberadaan kita."
"Baik, Tuan."
Tanpa sepengetahuan mereka, sebuah mobil mengintai gerak-gerik mereka dari kejauhan. Sesosok lelaki yang sengaja dikirim oleh Roy untuk memata-matai Samuel dan anak buahnya.
__ADS_1
Tidak sulit bagi lelaki itu untuk menemukan keberadaan Samuel dan Adelia. Dengan hanya bermodal nomor ponsel milik Samuel, lelaki itu bisa melacak di mana persembunyian Adelia dan Samuel.
Ia meraih ponselnya dengan sorotan tajam yang terus tertuju pada mobil milik Samuel dan para pengawalnya. Setelah menemukan nomor ponsel Roy, ia pun segera menghubungi lelaki itu untuk memberitahukan berita baik tersebut .
"Bagaimana?" Terdengar suara Roy dari seberang telepon. Roy sudah tidak sabar menunggu kabar baik dari lelaki itu agar masalah ini cepat terselesaikan.
"Saya sudah berhasil menemukan persembunyian Adelia dan lelaki itu, Boss. Dan sekarang saya sedang mencoba mengikuti mereka. Sepertinya lelaki itu sudah mulai menyadari bahwa Villa tersebut sudah terlacak dan sepertinya mereka tengah mencari tempat persembunyian yang baru."
"Bagus!" Roy tersenyum puas. Tidak sia-sia ia membayar mahal lelaki itu untuk memata-matai Samuel dan Adelia.
"Tapi ingat, kamu harus tetap berhati-hati agar tidak ketahuan oleh mereka. Jangan sampai rencana kita gagal. Jujur, aku ingin masalah ini cepat selesai. Aku dan Tuan Daniel sudah benar-benar malas berhubungan dengan wanita itu. Seandainya ini bukan permintaan Nona Dania, Tuan Daniel tidak mungkin peduli walaupun wanita itu berakhir di tangan Samuel," tutur Roy, mencoba mengingatkan kepada lelaki itu.
"Baik, Boss! Akan aku laksanakan!"
Roy memperhatikan satu persatu foto-foto yang dikirimkan oleh lelaki itu dengan seksama. "Apa yang sebenarnya terjadi pada Adelia? Apa mungkin dia sedang sakit? Atau mungkin ...."
Roy menghentikan ucapannya. Lelaki itu menghembuskan napas panjang kemudian menghampiri Daniel yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
Melihat Roy mendekat ke meja kerjanya, Daniel pun segera mengangkat kepalanya dan menatap lelaki itu. "Apa?"
"Coba lihat ini, Tuan?" Roy menyerahkan ponsel miliknya kepada Daniel.
__ADS_1
Daniel menyambut benda pipih tersebut kemudian memperhatikannya dengan seksama. "Ini 'kan Adelia? Ada apa dengannya? Apa dia sedang sakit?" tanya Daniel heran.
"Entahlah. Tapi kalau menurut saya, Adelia--" Roy menghentikan ucapannya.
"Ya, ya, aku paham." Daniel mengangguk pelan sembari mengembalikan ponsel milik Roy. "Jika firasat kita benar, lalu bagaimana nasib bayi itu? Kita sudah melakukan hal yang salah karena sudah memisahkan bayi itu dengan Ayahnya. Atau ... mereka sama sekali belum menyadari hal itu?"
Roy mengangkat kedua bahunya. "Entahlah, Tuan. Kalau menurut saya, yang penting misi kita sudah selesai. Menemukan Nona Adelia dan membawanya kembali ke Ibunya. Dan untuk soal itu, itu sudah bukan urusan kita," jawab Roy.
Daniel mencebikkan bibirnya. "Ya, kamu benar." Namun, tiba-tiba saja lelaki itu melemparkan pena yang masih melekat di jarinya kepada Roy.
Pletak! Pena itu mengenai punggung Roy yang kini berjalan menjauh darinya. Roy tersentak kaget dan segera berbalik menghadap Daniel.
"Heh, ini tidak adil!" gerutu Daniel dengan wajah menekuk kesal.
"Kenapa, Tuan?" Roy menautkan kedua alisnya sambil menatap heran Big Bossnya itu.
"Bagaimana bisa Adelia hamil lebih dulu! Aku iri! Aku benar-benar iri! Seharusnya Dania yang hamil, aku ingin punya bayi juga, Roy!" kesalnya.
Roy tersenyum tipis. "Berjuanglah lebih keras lagi, Tuan Daniel. Kalau perlu, saya bisa carikan Dokter Spesialis Kandungan terbaik di kota ini untuk Anda dan Nona Dania membuat program kehamilan," jawab Roy.
"Kalau soal berjuang, aku sudah berjuang tiap malam, Roy. Dua hingga tiga kali dalam semalam, hingga Dania kesal padaku. Tapi menurutku saranmu juga bagus. Aku dan Dania bisa ikut program kehamilan biar kami secepatnya punya bayi."
__ADS_1
Daniel tersenyum tipis. Di dalam otak lelaki itu sudah terbayang-bayang seorang bayi mungil yang akan meramaikan keluarga besarnya nanti.
...***...