Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 115


__ADS_3

"Yah, sebaiknya kita pulang saja. Ibu sudah lelah dan ingin beristirahat." Bu Ida mulai tidak tenang berada di pesta itu. Entah kenapa sejak tadi pikirannya terus tertuju pada Adelia.


"Sebentar lagi lah, Bu. Lagi rame ini," sahut Pak Adi yang sedang asik menikmati pesta.


"Lagi rame apanya? Ayah itu senang di sini karena Ayah suka memperhatikan wanita-wanita kaya itu, 'kan? Yang melenggak-lenggok dengan pakaian serta perhiasan dan aksesoris mahal mereka," kesal Bu Ida sambil mendengus.


"Ibu bicara apaan, sih? Tidak jelas," balas Pak Adi yang juga tidak kalah kesal.


"Kalau Ayah tidak ingin pulang, aku akan pulang sendiri!" Bu Ida bangkit dari posisinya kemudian beranjak dari meja tersebut.


Akhirnya Pak Adi pun segera menyusul. Ia berjalan di samping Bu Ida dan berniat menuju tempat berkumpulnya Daniel dan Dania serta keluarga besar mereka. Namun, Bu Ida menahannya. Ia melarang Pak Adi untuk menemui pasangan itu.


"Ayah mau kemana?" tanya Bu Ida dengan mata membulat. Sementara tangannya memegang erat tangan Pak Adi.


"Pamit sama Dania. Masa kita pulang main nyelonong aja sih, Bu."


"Tidak usah! Apa kamu tidak malu, di sana ada Riska dan juga suaminya. Coba lihat penampilan suaminya dan lihat bagaimana penampilanmu sekarang. Kalian bagai bumi dan langit. Tidak usah ke sana jika tidak ingin mempermalukan dirimu sendiri," tutur Bu Ida dengan wajah kesal.


"Tapi, Bu."


"Ayo, sebaiknya kita pulang saja!"


Bu Ida menarik tangan Pak Adi agar segera mengikutinya dan dengan terpaksa, Pak Adi pun mengikuti keinginan Sang Istri. Mereka berjalan menuju tempat parkir dan segera pulang tanpa berpamitan kepada Dania dan Daniel.

__ADS_1


Di perjalanan.


"Kamu kenapa sih, Bu. Dari tadi Ayah perhatikan kamu tampak gelisah," ucap Pak Adi kepada Bu Ida.


Ya, sejak tadi Bu Ida terlihat gelisah. Pikirannya selalu tertuju pada Adelia. Entah apa sebabnya, ia pun sama sekali tidak mengerti. Yang pasti Bu Ida merasakan ada sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Adelia, putri kesayangannya.


"Entahlah, Ayah. Sejak tadi Ibu merasa was-was dan makin ke sini, perasaan Ibu semakin tidak enak saja. Apa ini ada hubungannya sama Adelia, ya?"


"Hush! Jangan bicara seperti itu. Tidak baik!" sahut Pak Adi.


Tidak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Pak Adi pun tiba di halaman depan rumah mereka. Setelah keluar dari mobilnya, Bu Ida langsung memperhatikan di sekeliling tempat itu.


"Sepertinya Adelia masih berada di rumah," ucap Bu Ida sembari memperhatikan balkon lantai dua, di mana kamar Adelia berada.


Bu Ida yang sejak tadi mengkhawatirkan keadaan Adelia, segera menuju kamar anak perempuannya itu. Setibanya di sana, ternyata pintunya terkunci rapat. Bu ida mencoba membuka pintu kamar tersebut, tetapi tidak bisa.


"Adelia! Apa kamu di dalam?" tanya Bu Ida sambil mengetuk pintu tersebut dengan cukup keras.


Namun, tak terdengar jawaban sedikit pun dari dalam ruangan tersebut. Sudah berkali-kali Bu Ida memanggil nama anak perempuannya itu, tetapi hasilnya tetap sama. Tak ada jawaban dari Adelia dan hal itu membuat Bu Ida semakin panik.


"Yah, Ayah! Bisa bantu Ibu membuka pintu kamar Adelia? Pintunya terkunci dari dalam dan Ibu yakin sedang terjadi sesuatu kepada Adelia," teriak Bu Ida sambil menuruni anak tangga.


Pak Adi yang sedang duduk bersantai di sofa ruang televisi, terkejut mendengar teriakkan Bu Ida. "Apa sih, Bu! Kok teriak-teriak?!"

__ADS_1


"Adelia, Yah! Ibu yakin Adelia ada di dalam kamarnya, tapi ia tidak merespon panggilan Ibu. Apa mungkin Adelia pingsan?"


"Ih, Ibu kalau ngomong suka sembarangan! Siapa tahu dia sedang tertidur di dalam kamarnya dan Ibu malah mengganggu tidurnya," sahut Pak Adi.


"Tidak, Ayah! Ibu yakin sekali Adelia tidak sedang tertidur. Kalau dia tertidur, dia pasti bangun kalo Ibu panggil sampai sekeras itu. Lagi pula, di dalam kamarnya tidak terdengar ada suara pergerakan. Ibu jadi cemas, Yah."


Akhirnya Pak Adi pun mengalah. Ia mengambil sebuah linggis kemudian membawanya ke kamar atas, di mana kamar Adelia berada.


"Ibu ini menyusahkan saja! Kenapa Ibu tidak simpan kunci serepnya. Jadi kalau ada kejadian mendadak seperti ini, kita tidak perlu susah-susah! Mana sayang lagi, pintunya 'kan jadi rusak," celetuk Pak Adi dengan wajah menekuk kesal.


"Hhh, Ayah! Di saat genting seperti ini, masih sempat-sempatnya memikirkan soal pintu yang rusak. Rusak 'kan masih bisa diperbaiki lagi," kesal Bu Ida, tak mau kalah.


Setibanya di pintu kamar Adelia, Pak Adi pun segera mencongkel pintu tersebut dengan menggunakan linggis yang tadi ia bawa. Tidak membutuhkan waktu lama, pintu itu pun terbuka dan kuncinya rusak, di rusak oleh Pak Adi.


Setelah pintu terbuka, Bu Ida bergegas masuk. Ia kembali terserang panik setelah melihat kondisi kamar Adelia yang begitu berantakan. Belum lagi noda darah di atas tempat tidurnya. Serta di lantai kamar pun masih terlihat titik-titik noda darah menuju ke kamar mandi.


"Adelia! Kamu di mana, Nak!" teriak Bu Ida lagi.


Ia berlari menuju kamar mandi kemudian membuka pintu tersebut. Mata Bu Ida terbelalak setelah melihat sebuah pemandangan yang begitu mengerikan di dalam ruangan tersebut.


"Adelia!!!"


...***...

__ADS_1


__ADS_2