
"Terus, Dania! Dan sekarang lakukan dengan lebih cepat!" titahnya dengan mata yang masih terpejam.
Dania yang begitu bersemangat tiba-tiba menjadi gemas. Tanpa ia sadari, ia memegang benda itu dengan sangat erat. Bukan hanya itu, saking gemasnya dengan benda tersebut, Dania ingin sekali mencubit dan menggigitnya dengan keras.
Daniel yang pada awalnya merasakan kenikmatan, tiba-tiba berubah menjadi sakit akibat banda keramatnya serasa dicekik dengan erat. "Aww! Apa yang kamu lakukan, Dania? Kamu mencekik juniorku!" pekik Daniel dengan mata membulat menatap Dania.
Dania tersenyum getir sembari melepaskan genggaman tangannya dari benda itu. "Maafkan aku, Tuan! Tapi benda itu bikin aku gemas! Aku ingin sekali menggigitnya seperti ini," ucap Dania sambil menggigit tangannya sendiri saking gemasnya.
Daniel bergidik ngeri melihat tingkah Dania yang begitu aneh. Tiba-tiba nyali Daniel menciut, ia khawatir jika gadis itu tidak bisa mengontrol perasaannya. Bisa-bisa juniornya kena gigit dan akhirnya merajuk tak bangun-bangun atau yang lebih parahnya lagi, kepala si junior lepas dari badannya karena di gigit si gadis aneh itu.
"Apa kamu sudah gila? Memangnya juniorku ini sosis bakar yang bisa kamu gigit-gigit, begitu?!" kesal Daniel. Bahkan saking kesalnya, benda keramat itu pun ikut menciut dan kembali ke ukuran normal.
Bukannya takut melihat ekspresi Daniel saat itu, Dania malah kembali tersenyum. "Habisnya bentuknya hampir mirip dan bikin aku gemassss!" ucap Dania sembari mendekatkan kedua tangannya ke arah benda keramat itu dengan ekspresi yang seperti ingin meremass-remass benda itu.
Sontak saja Daniel menepis kedua tangan Dania dengan cepat untuk mengamankan juniornya dari cengkeraman gadis aneh itu. "Hush! Jangan sentuh lagi! Kamu benar-benar mengerikan!" kesal Daniel, ia mencoba melindungi benda keramat tersebut dengan cara merapatkan kedua kakinya.
"Ayolah, Tuan! Sini, biar aku lakukan lagi. Aku berjanji tidak akan melakukan hal-hal aneh itu lagi, suer!" ucapnya sambil mencoba membuka kedua kaki Daniel yang kini tertutup rapat.
"Tidak usah! Kamu sudah membuat nyaliku menciut dan sekaligus membuatku takut. Sebaiknya lupakan saja," kesal Daniel.
Lelaki itu meraih kembali celana boxer yang tadi ia lepaskan. Kemudian duduk bersandar sama seperti sebelumnya. "Kemarilah, Dania."
__ADS_1
Dania yang tadinya terdiam, kini menghampiri lelaki itu kemudian duduk di sampingnya. Daniel meraih pundak gadis itu dan membawanya ke dalam pelukannya. "Ya, sudah. Malam pertama kita sudah gagal dan sekarang aku memutuskan untuk menunggu hingga tamu bulananmu selesai."
Dania mendongakkan kepalanya dan menatap lekat wajah Daniel yang kembali terlihat tenang. "Benarkah itu, Tuan?" tanya Dania.
Daniel menganggukkan kepalanya perlahan. "Ya. Aku pasti bisa menahannya. Memangnya seberapa lama sih tamu bulanan itu mengunjungimu? Dua hari, tiga hari?"
"Satu minggu. Bahkan kadang sampai sepuluh hari," sahut Dania.
"Apa?! Selama itu?!" pekik Daniel seakan tidak percaya.
Dania mengangguk. "Ya, Tuan."
Lebih baik menunggu si Nona bersih dari pada harus meminta bantuan tangan jahil Dania yang bisa-bisa membuat juniornya kenapa-napa. Begitulah kira-kira yang ada di pikiran Daniel saat itu.
"Oh ya, dan satu lagi. Mulai sekarang berhentilah memanggilku dengan sebutan tuan. Bukankah aku adalah suamimu? Jadi, panggilah aku dengan sebutan yang terdengar sangat manis," ucap Daniel lagi.
Dania menautkan kedua alisnya. "Panggilan yang manis, seperti apa misalnya?"
"Sayang, Hubby, Cinta, Papi, Mas, Abang, atau apalah," sahut Daniel lagi, masih memeluk erat tubuh Dania.
Dania tampak berpikir keras. Memikirkan panggilan apa yang pas untuk lelaki itu. "Mas aja, ya? Lagi pula itu adalah panggilan yang paling manis dan paling mudah untuk disebut," ucap Dania kemudian sambil tersenyum manis menatap lelaki itu.
__ADS_1
"Paling manis? Oh ... jadi selama ini kamu selalu memanggil Erick dengan sebutan Mas Erick, itu artinya panggilan manismu untuknya begitu?" kesal Daniel yang mulai menampakkan tanduknya.
Danie menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Ah, tidak-tidak! Bukan begitu, Tuan! Eh, Mas! Maksudku, Mas itu panggilan umum yang biasa aku sebutkan untuk laki-laki. Aduh, bagaimana cara menjelaskannya? Nanti aku salah lagi," ucap Dania kemudian.
"Tuh 'kan, itu bukan panggilan manis, Nona Dania! Sebaiknya aku yang tentukan. Panggil aku 'Sayang' mulai dari sekarang! Ingat itu! 'Sayang'," tegas Daniel dengan penuh penekanan.
"Baik, Tuan! Ehm, Sayang!" sahut Dania dengan cepat.
"Bagus!" Daniel kembali menarik tubuh Dania dan menyandarkan kepala gadis itu ke dadanya polosnya.
Tiba-tiba tangan Dania kembali menjalar ke arah celana boxer Daniel. Daniel terkejut dan sontak menepuk tangan Dania dengan kasar.
"Jangan macam-macam!" Mata Daniel membulat sempurna menatap Dania dan seolah mengancam gadis itu.
Dania terkekeh pelan. "Aku gemas, pengen tak uwel-uwel, Sayang!"
"Ya, dan aku gemas kepadamu! Pengen tak jitak-jitak!" sahut Daniel dengan wajah serius.
Dania menarik kembali tangannya dengan wajah menekuk kemudian kembali bersandar di dada lelaki itu. "Baiklah, tidak jadi."
...***...
__ADS_1