Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Berbincang Bersama Selly


__ADS_3

Selly memutuskan untuk menginap di kediaman Daniel karena ia memang sudah terbiasa menginap di kediaman mewah Kakak sepupunya itu.


Malam itu, Selly dan Dania tengah asik berbincang sembari menunggu Daniel yang masih sibuk bersama Roy di ruangan pribadinya. Mereka tengah sibuk mengerjakan pekerjaan mereka yang sempat tertunda karena mencemaskan Selly tadi siang.


Di dalam kamar Selly.


"Selly, boleh aku bertanya sesuatu tentang Mas Daniel padamu?" tanya Dania yang tengah berbaring di atas tempat tidur Selly dengan posisi terlentang dan matanya tertuju pada langit-langit kamar tersebut.


Selly yang juga dalam posisi yang sama seperti Dania, menoleh kepada gadis itu. "Tanya soal apa? Kalau aku tau, pasti aku kasih tau," jawabnya.


"Ini soal masa lalu Mas Daniel. Kamu tahu sendiri 'kan bagaimana posisiku di samping Kakak sepupumu itu. Aku hanya pengantin pengganti dan aku tidak tahu banyak tentangnya."


"Ya, aku tahu. Memangnya apa yang ingin kamu tanyakan? Tanyakan saja padaku dan jangan pernah merasa sungkan karena sekarang kita 'kan sahabatan," sahut Selly yang sekarang mengubah posisinya. Gadis itu tiarap di samping Dania sambil menatap wajahnya lekat.


"Apa menurutmu Mas Daniel masih mencintai Kak Adelia? Lalu, apa kamu tahu sebenarnya apa yang membuat Mas Daniel tidak bisa menahan emosinya yang kadang menjadi tak terkendali. Jujur Selly, aku sangat ketakutan ketika dia marah-marah seperti itu," ucap Dania. Masih dengan tatapan menerawang menatap langit-langit kamar tersebut.

__ADS_1


Selly menghela napas berat sebelum ia menjawab pertanyaan Dania saat itu. "Dulu Kak Daniel begitu mencintai Adelia. Adelia adalah wanita pertama yang mampu meluluhkan hatinya yang selama ini beku terhadap wanita. Namun, jika kamu tanya bagaimana perasaan Kak Daniel saat ini terhadap wanita itu, jujur aku tidak tahu. Aku bahkan tidak berani bertanya padanya."


Dania menoleh ke arah Selly dan menatapnya lekat. Dania tahu bahwa saat itu Selly berkata jujur. "Lalu soal amarahnya yang tak terkendali?"


"Nah, kalau soal itu ...."


Selly menghentikan ucapannya sembari bangkit dari tempat tidur tersebut. Gadis itu melangkah menuju pintu kamar kemudian memperhatikan keadaan di luar kamarnya. Setelah memastikan bahwa di tempat itu aman dan tidak ada siapapun di sana, Selly pun kembali ke posisi awal kemudian duduk di samping Dania yang masih berselonjor.


"Apa kamu tahu? Kata Ayahku, Kak Daniel itu dulunya tidak begitu. Dia bocah yang sangat periang dan juga sangat sopan. Namun, semuanya berubah setelah Pamanku, Ayah dari Kak Daniel menuntutnya untuk menjadi anak lelaki yang sesuai dengan keinginannya. Paman ingin Kak Daniel menjadi seorang pengusaha besar, persis seperti dirinya. Sementara anak seusianya masih asik menikmati masa-masa bermain, beda halnya dengan Kak Daniel yang terus dipaksa belajar dan terus belajar. Dan bukan hanya itu! Ia juga sering mendapatkan perlakuan yang tidak menyenangkan dari mendiang Ayahnya. Hingga akhirnya sikap Kak Daniel pun berubah," tutur Selly.


"Ya, mungkin semua orang yang tidak tahu bagaimana kisah masa lalu Kak Daniel, pasti akan berpikir seperti itu. Padahal sebenarnya, hmmm," Selly menggelengkan kepalanya.


"Ayah pernah membawa Kak Daniel untuk memeriksakan kondisinya kepada Dokter. Kata Dokter, Kak Daniel itu sebenarnya mengalami Intermittent Explosive Disorder, di mana ia tidak bisa mengendalikan emosinya karena ia memiliki banyak trauma di masa kecilnya. Ya, seperti kata Ayahku, Kak Daniel sering mendapatkan kekerasan dari mendiang Ayahnya jika ia melakukan kesalahan. Dokter menyarankan agar Kak Daniel ikut terapi, tetapi dia tidak mau. Kak Daniel yakin bahwa dirinya baik-baik saja dan ia tidak terima jika disebut-sebut memiliki kelainan seperti itu," lanjut Selly kemudian.


"Kasihan dia. Lalu, apakah Mas Daniel akan seperti itu untuk selamanya?" tanya Dania kemudian.

__ADS_1


"Kata Dokter, semakin dewasa usianya, hal itu pun akan semakin berkurang. Tapi ya itu, menunggu dia tua, keburu lumutan! Kasihan yang berada di samping Kak Daniel, salah satunya kamu dan Kak Roy yang harus siap menerima caci maki dan amukan darinya," jawab Selly.


"Oh ya, kalau menurutku Adelia kabur karena ia takut kepada Kak Daniel. Mungkin saja ia tahu bagaimana kondisi Kak Daniel yang sebenarnya. Kalau dipikir-pikir, mana ada cewek yang bersedia kabur dari sisi Kak Daniel, secara Kak Daniel itu tampan dan juga kaya raya. Kecuali ya itu," lanjut Selly dengan sangat antusias. Ia menyilangkan tangannya ke dada kemudian mendengus kesal.


"Ya, mungkin kamu benar," lirih Dania.


"Apa kamu tidak tahu ke mana Adelia kabur? Maaf, tapi kamu 'kan Adiknya? Tidak mungkin kamu tidak tahu ke mana Kakakmu pergi," tanya Selly dengan penuh selidik.


Dania menggelengkan kepalanya. "Aku benar-benar tidak tahu, Selly. Aku dan Adelia hanya saudara tiri dan selama ini hubungan kami pun tidak pernah baik," lirih Dania lagi.


Selly membulatkan matanya dengan sempurna. "Astaga! Benarkah itu?! Maafkan aku, Dania! Aku benar-benar tidak ngeh kalau sebenarnya kalian itu hanya saudara tiri. Aku bahkan tidak memperhatikan nama Ayah kalian di kartu undangan dulu. Sekali lagi, maafkan aku!" ucap Selly dengan penuh penyesalan.


"Tidak apa-apa, Selly. Santai saja," sahut Dania sambil tersenyum hangat.


...***...

__ADS_1


__ADS_2