Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Pertemuan Dania Dan Tante Riska


__ADS_3

Sementara itu di sebuah ruangan yang letaknya tak jauh dari ruangan Daniel di rawat.


"Bu, kenapa Ibu bisa pingsan? Memangnya ada masalah apa, Bu?" tanya Selly dengan wajah cemas menatap Tante Riska yang baru saja sadar dari pingsannya.


Bukannya menjawab pertanyaan Selly, wanita itu malah menanyakan di mana Dania berada. "Di mana Dania? Aku ingin bertemu dengannya," lirih Tante Riska.


"Loh, memangnya kenapa sama Dania, Sayang?" tanya Om Tommy yang kebingungan karena tiba-tiba saja istrinya itu mencari keberadaan istri dari keponakannya tersebut. Bukan hanya Om Tommy, Selly pun tidak kalah bingung.


"Ya, Bu. Sebenarnya ada apa? Apa Ibu dan Dania sudah saling mengenal sebelumnya?" tanya Selly.


Tante Riska bangkit dari tempat tidurnya. Walaupun kepalanya masih terasa sakit, tetapi ia masih bisa melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu tanpa menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Selly dan Om Tommy.


"Bu! Ibu mau ke mana?" Selly berlari kecil menyusul Tante Riska yang ternyata ingin kembali menuju kamarnya Daniel.


Om Tommy pun ikut menyusul kedua wanita beda usia tersebut dari belakang. Ia terus memperhatikan gelagat istrinya yang terlihat aneh tersebut. Setibanya di depan pintu ruangan Daniel, Tante Riska segera membuka pintu tersebut dan kini tatapannya langsung tertuju pada pasangan yang sedang asik berpelukan di atas tempat tidur pasien.


"Dania!" panggil Tante Riska.


Daniel dan Dania melerai pelukan mereka kemudian menatap ke arah Tante Riska yang kini datang mendekat.

__ADS_1


"Bicarakan lah dengan kepala dingin, Dania. Jangan utamakan emosimu, oke?" Daniel berbisik di samping telinga Dania sambil mengelus punggung gadis itu.


"Semoga saja aku bisa," jawab Dania.


Dania turun dari bed pasien kemudian berdiri di samping benda itu dengan tatapan yang masih tertuju pada Tante Riska.


Kini Tante Riska sudah berdiri tepat di hadapan Dania. Wanita itu akhirnya tidak dapat menahan air mata yang sejak tadi tertahan di pelupuk matanya. Tangisnya pecah dan ia pun segera memeluk tubuh Dania dengan erat.


Namun, tak sedikit pun Dania berkeinginan membalas pelukan wanita itu. Ia tetap diam dan tubuhnya bahkan tidak bergerak sama sekali. Saat itu dadanya terasa sesak. Dengan sekuat tenaga, Dania mencoba menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia tidak ingin terlihat menyedihkan di hadapan wanita itu.


Setelah puas memeluk Dania, Tante Riska melerai pelukannya kemudian menatap lekat kedua bola mata gadis itu. "Dania sayang! Ini Ibu, Nak. Ibumu, Riska Melati. Apa kamu masih mengenali Ibu?" tanya Tante Riska.


"Apa?" pekik Selly. "Benarkah itu, Dania adalah anaknya Ibu?" Dengan langkah cepat, Selly mendekat ke arah kedua wanita itu.


Daniel menggelengkan kepala saat Selly tidak sengaja melihat ke arahnya. Dengan bahasa isyarat, Daniel meminta Selly untuk tidak ikut campur untuk sementara dengan urusan kedua wanita itu.


Akhirnya Selly mengerti dan memilih menutup mulutnya. Begitu pula Om Tommy, lelaki itu bahkan segera keluar dari ruangan tersebut dan membiarkan istrinya menyelesaikan masalahnya sendiri.


"Ya, aku masih ingat dan aku sedikit kecewa karena Anda tidak mengenaliku," sahut Dania datar.

__ADS_1


"Dania," sela Daniel, mencoba mengingatkan istrinya itu untuk tidak mengutamakan emosinya.


"Tidak apa, Daniel. Apa yang dikatakan oleh Dania memang benar. Aku memang bodoh, aku bahkan tidak mengenali anakku sendiri," sahut Tante Riska yang masih menatap wajah Dania tanpa berkedip sedikitpun.


"Sudah 14 tahun lamanya kita tidak bertemu, Dania. Dan kamu terlihat sangat berbeda. Kamu berubah menjadi gadis yang sangat cantik dan Ibu bahkan pangling melihat perubahanmu," tutur Tante Riska sambil membelai pipi Dania dengan sangat lembut.


Dania menghela napas kasar. Penuturan Ibunya tersebut tidak cukup membuatnya menjadi lebih tenang. Ia masih kecewa kepada wanita tersebut.


"Ya, 14 tahun bukanlah waktu yang sebentar dan aku tidak tahu alasan apa yang membuat Anda sama sekali tidak ingin menemuiku," balas Dania.


Mendengar apa yang diucapkan oleh gadis itu, Tante Riska sontak menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Kenapa kamu bilang seperti itu, Nak?"


"Ternyata apa yang dikatakan oleh Ibu Ida selama ini benar. Dulu aku selalu berpikir bahwa Ibu Ida hanya mengarang-ngarang cerita saja agar aku membenci Anda. Namun, sepertinya aku salah. Apa yang dikatakan oleh Ibu Ida benar. Anda sama sekali tidak pernah peduli padaku," lanjut Dania dengan wajah dingin membalas tatapan Tante Riska.


"Tidak, Nak! Tidak seperti itu. Apa pun yang dikatakan oleh wanita itu semuanya bohong. Berikanlah Ibu kesempatan untuk menceritakan yang sebenarnya, setelah itu terserah padamu jika kamu masih tidak percaya kepada Ibu," lirih Tante Riska.


Selly dan Daniel hanya menjadi pendengar yang baik tanpa ingin ikut campur dengan masalah kedua wanita itu. Namun, yang pasti mereka ingin yang terbaik untuk Dania dan juga Tante Riska.


...***...

__ADS_1


__ADS_2