
"Adelia, anakku! Kamu kenapa, Nak!"
Bu Ida berteriak histeris saat menyaksikan kondisi Adelia yang tidak sadarkan diri di dalam kamar mandi. Posisinya masih dalam kondisi duduk di atas toilet dan di dalam toilet tersebut tampak dipenuhi dengan darah segar. Darah yang keluar dari area sensitif Adelia.
"Ayah! Tolong, Yah!" teriak Bu Ida sambil menutup matanya. Ia tidak tahan melihat banyaknya darah yang menggenang di dalam toilet dan juga area sensitif anak perempuannya itu.
Mendengar teriakkan Bu Ida, Pak Adi pun segera berlari dan menyusul Bu Ida yang sedang berada di dalam kamar mandi milik Adelia.
"Astaga, Adelia!" pekik Pak Adi tak kalah histeris dari Sang Istri.
"Tolong anakku, Yah! Tolong Adelia, bawa dia ke Rumah Sakit!" lirih Bu Ida.
"Baik, tolong ambil selimut atau apapun, Bu. Untuk menutupi tubuh Adelia," ucap Pak Adi sembari berlari ke arah Adelia. Karena saat itu Adelia hanya mengenakan braa-nya saja.
Tidak berselang lama, Bu Ida datang dengan membawa selimut. Ia segera menyerahkan selimut tersebut kepada Pak Adi. Pak Adi menyambutnya dan melilitkan selimut tersebut ke tubuh Adelia. Setelah tubuh Adelia tertutup dengan selimut, Pak Adi pun segera mengangkat tubuhnya dan membawanya menuju halaman depan, di mana mobilnya terparkir.
Sementara Pak Adi masih membopong tubuh Adelia menuju halaman depan, Bu Ida bergegas ke kamarnya untuk mengambil uang simpanannya. Uang yang selama ini ia tabung sedikit demi sedikit dari sisa gaji Pak Adi.
Ketika tiba di dalam kamar, Bu Ida langsung menuju lemari pakaian, di mana ia menyimpan uang tersebut. Namun, betapa terkejutnya Bu Ida ketika ia membuka tempat penyimpanan uangnya. Tak ada uang sepeser pun di sana.
__ADS_1
"Loh, uangku mana? Kan uangnya ku letakkan di sini!" gumam Bu Ida sambil mengobrak-abrik isi lemarinya tersebut.
Karena saking penasarannya, Bu Ida mengeluarkan seluruh isi lemarinya dan menghamburkannya ke sisi-sisi lemari. Namun, uang itu tetap tidak ditemukan dan memang tidak ada di sana. Bu Ida semakin panik. Padahal rencananya uang itu akan ia gunakan untuk membayar Rumah Sakit Adelia hari ini, tetapi uang itu malah raib.
"Ya, Tuhan! Bagaimana ini? Jika uang itu tidak ada, lalu bagaimana aku membayar biaya Rumah Sakit untuk Adelia?" gumamnya dengan mata berkaca-kaca.
"Apa jangan-jangan Ayah yang mengambilnya?" gumamnya lagi.
Di tengah kebingungannya, terdengar suara Pak Adi yang berteriak memanggil namanya di halaman depan.
"Bu! Ibu! Apa yang Ibu lakukan? Cepat, kasihan Adelia!" teriak Pak Adi.
"Sebentar!"
Di perjalanan.
"Yah! Uang simpanan yang Ibu simpan di dalam lemari tiba-tiba hilang. Jangan-jangan Ayah yang ambil, ya?" tanya Bu Ida dengan nada kesal.
Pak Adi tampak terkejut. Ia bahkan sama sekali tidak tahu menahu soal uang tersebut. "Ibu bicara apa, sih? Kenapa Ibu menyalahkan Ayah? Ayah saja tidak tahu bahwa Ibu punya uang simpanan," jawab Pak Adi yang tidak kalah kesal.
__ADS_1
"Lalu kalau bukan Ayah, siapa lagi?"
"Apakah yang tinggal di rumah itu hanya aku dan kamu, Bu? Bukankah masih ada Adelia. Mungkin saja Adelia yang mengambil uangmu! Enak saja sembarangan menuduh aku sebagai pencurinya. Uang gajiku saja kuserahkan semua sama kamu, lalu untuk apa aku mencuri uang itu darimu? Dulu saja, sewaktu Dania masih tinggal bersama kita. Jika kamu kehilangan sesuatu, pasti Dania yang kamu salahkan. Bahkan tanpa mendengar penjelasannya, kamu tidak segan-segan menghukumnya. Sekarang saat Dania sudah tidak ada, malah aku yang kamu salahkan," kesal Pak Adi.
Sontak Bu Ida terdiam. Apa yang dikatakan oleh Pak Adi memang masuk akal. Namun, ia masih tidak percaya jika Adelia yang mengambil uangnya. Selama ini ia selalu menganggap Adelia adalah anak yang baik, yang tidak pernah melakukan hal-hal aneh. Apalagi sampai mencuri uangnya.
"Jika memang benar Adelia yang mencuri uangku, lalu uang itu ia gunakan untuk apa?"
Pak Adi tidak menjawab. Ia masih menggerutu sendirian di depan sambil terus memacu mobilnya.
"Yah, Ibu sudah tidak punya uang lagi. Lalu bagaimana cara kita membayar biaya Rumah Sakit Adelia nanti? Apa Ayah punya simpanan?" lirih Bu Ida dengan wajah cemas.
"Mana ada. Uang gajiku 'kan sudah kuserahkan semuanya padamu."
"Kalau pinjam sama Pak Jaka?" lirih Bu Ida lagi.
"Tidak bisa, Bu. Pinjaman kita yang dulu-dulu saja masih panjang catatannya. Masa mau pinjam lagi?" keluh Pak Adi.
"Kalau begitu Ayah minta tolong saja sama Tuan Daniel, si menantu kesayanganmu itu. Percuma punya menantu kaya kalau tidak bisa membantu mertuanya yang sedang kesusahan," celetuk Bu Ida.
__ADS_1
Pak Adi menghembuskan napas berat. "Nanti Ayah coba bicara sama Dania," jawabnya.
...***...