Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Aku Mencintaimu


__ADS_3

Keesokan harinya.


Dari pada mencari masalah baru dengan Daniel, Dania memilih bangun pagi-pagi sekali. Ia bergegas mandi kemudian berpakaian seperti biasanya. Pakaian yang sering ia gunakan untuk mengajar.


Daniel yang baru saja membuka matanya, langsung tersenyum tatkala mata elangnya itu tertuju pada gadis cantik berpakaian formal yang tengah duduk di depan cermin riasnya.


Shhttt!


Daniel memanggil Dania dan gadis itu pun segera menoleh.


"Ya?"


"Bagaimana tidurmu tadi malam? Pasti sangat nyenyak 'kan?" goda Daniel.


Dania memasang wajah masam. Ia merasa kesal mendengar pertanyaan bodoh yang dilontarkan oleh Daniel. Bagaimana tidak, hampir separuh malam ia tidak bisa bergerak karena ulah suami jahilnya itu. Alhasil, bukannya merasa lebih segar setelah bangun tidur, tubuh Dania malah terasa sangat lelah dan sakit, hampir di setiap bagian inci tubuhnya.


"Nyenyak bagaimana? Tubuhku bak kupu-kupu dalam kepompong, tidak bisa bergerak sama sekali. Dan sekarang tubuhku terasa sakit semua, Mas Daniel," kesal Dania sembari memijit pinggang, lengan dan pundaknya secara bergantian.


Daniel terkekeh pelan sembari bangkit dari tempat tidur hangatnya. Ia menghampiri Dania yang masih duduk di depan cermin hias kemudian berdiri tepat di belakang kursi gadis itu. Ia menatap lekat ke arah cermin, menatap wajah Dania yang terlihat sangat cantik dengan polesan make up bergaya naturalnya.


"Kamu sangat cantik, Dania," ucap Daniel.


Tanpa disangka dan tanpa diduga, Daniel menunduk kemudian melabuhkan ciuman hangatnya di kening Dania. Dania pun tersenyum, ini pertama kalinya Daniel menciumnya dengan sangat lembut dan penuh perasaan.


"Aku mencintaimu," ucap Daniel. Pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Dania.


"Hah?!" Dania terkejut bukan main. Ia tidak menyangka bahwa Daniel akan mengatakan hal itu kepadanya. "A-apa aku tidak salah dengar?" Dania tampak begitu bahagia. Bahkan senyuman gadis itu terlihat mengembang dengan sempurna.

__ADS_1


"Memangnya apa yang kamu dengar?" tanya Daniel kemudian.


"Mas bilang, Aku cinta padamu," jawab Dania dengan semringah.


"Coba katakan sekali lagi?"


"Aku cinta padamu," jawab Dania sambil menautkan kedua alisnya.


Daniel mendekatkan wajahnya ke wajah gadis itu. "Benarkah? Wah, terima kasih atas cintanya," jawab Daniel sambil terkekeh pelan.


"Hah?! Loh, 'kan barusan Mas bilang begitu, Mas cinta padaku," kesal Dania sembari memperhatikan wajah Daniel.


"Kapan aku bilang begitu? Sepertinya telingamu perlu diperiksa," jawabnya sembari melenggang pergi.


"Mas Daniel, katakan lagi!" ucap Dania dengan setengah berteriak kepada Daniel yang melenggang menuju kamar mandi.


"Mas, ucapkan sekali lagi! Aku ingin dengar," lirih Dania sembari menatap Daniel yang kini menghilang di balik pintu kamar mandi.


"Ah, benar-benar menyebalkan," gumam Dania.


Selang beberapa saat kemudian.


"Hari ini aku tidak bisa mengantarkanmu ke yayasan. Ada meeting yang harus aku hadiri pagi ini," tutur Daniel sembari menatap Dania yang tengah merapikan jas yang ia kenakan.


Setelah pakaian Daniel rapi, Dania pun membalas tatapan Daniel sambil tersenyum hangat. "Tidak apa, aku bisa naik ojek."


"Apa! Naik ojek? Jangan bilang abang ojeknya si Erick yang menyebalkan itu, ya! Eh, aku tidak akan pernah biarkan hal itu terjadi. Dan jika itu benar, maka aku bisa pastikan bahwa hari ini adalah hari terakhirmu mengajar di yayasan itu!" ancam Daniel sambil mendengus kesal.

__ADS_1


Dania menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Bukan, Mas. Aku bisa pastikan bahwa abang ojeknya adalah abang ojek beneran dan bukan Mas Erick! Serius," balas Dania.


Daniel memutarkan bola matanya dengan malas. "Ingat, mulai hari ini aku tidak akan membiarkan kamu pergi sendirian, termasuk mengajar. Aku akan berikan sopir pribadi plus satu orang pengawal pribadi yang akan selalu menemanimu ke manapun kamu pergi," tutur Daniel dengan wajah datar menatap Dania.


"Apa?!" Dania tampak protes.


"Ini perintah dariku dan kamu tidak boleh membantah!" tegas Daniel.


Dania memijit pelipisnya. Ia tidak percaya bahwa sekarang dirinya seperti seorang penjahat yang harus selalu berada dalam pantauan lelaki itu. Dan menolak pun rasanya tidak mungkin karena suaminya itu anti penolakan. Mau tidak mau, Dania pun terpaksa menyetujuinya.


Benar saja, setelah sarapan selesai Daniel pun pamit terlebih dahulu menuju kantornya. Sementara Dania masih terdiam di halaman depan rumah megah itu sambil menunggu sopir pribadi yang akan mengantarkannya ke yayasan milik Erick.


Tidak butuh waktu lama, sebuah mobil mewah milik Daniel berhenti tepat di hadapan Dania. Baru saja Dania ingin meraih gagang pintu tersebut, tiba-tiba pintunya terbuka. Tampaklah seorang gadis cantik yang begitu ia kenal sedang duduk di dalam sana sambil tersenyum manis.


"Selly? Ngapain kamu di sini?" tanya Dania dengan wajah heran.


"Masuklah, Nona Dania. Hari ini aku mendapat tugas dari Tuan Daniel untuk menjadi pengawal pribadi Anda," jawabnya sambil terkekeh pelan.


"Oh Tuhan! Mas Daniel memang benar-benar sudah keterlaluan," gumam Dania sembari masuk kemudian duduk di samping Selly yang masih tersenyum kepadanya.


"Jadi, yang akan menjadi pengawal pribadiku itu kamu, Selly?" tanya Dania lagi sambil menatap lekat kedua bola mata indah gadis itu.


"Sebenarnya tidak, Nona Dania. Hanya untuk sementara, sebelum Tuan Daniel menemukan sosok pengawal pribadi yang tepat untuk Anda," jawab Selly.


Dania membuang napas berat. "Ya, sudahlah."


...***...

__ADS_1


__ADS_2