
Samuel tampak gelisah. Lelaki itu mondar-mandir di dalam kamarnya. Sementara Adelia yang kini kembali dalam kondisi terikat, terus memperhatikan lelaki itu dengan perasaan jijik dan kesal.
Ceklek!
Pintu kamar itu terbuka dan tampak salah satu anak buahnya masuk ke dalam ruangan tersebut. Ia menghampiri Samuel kemudian berucap pelan. "Tuan, semuanya sudah siap."
Samuel akhirnya tersenyum dan ia pun tampak begitu senang. "Bagus. Sekarang, bantu aku membawa wanita ini," titah Samuel kepada lelaki itu.
"Baik, Tuan."
Samuel dan lelaki itu berjalan menghampiri Adelia yang masih terikat di atas tempat tidur. Mereka mulai melepaskan satu-persatu ikatan di tubuh wanita itu. Setelah kedua tangannya terlepas dari ikatan tersebut, dengan secepat kilat Adelia melepaskan lakban yang sejak tadi menutupi mulutnya.
"Ayo bangun!" titah anak buah Samuel sembari menarik tubuh Adelia dengan kasar dan meminta wanita itu untuk mengikuti perintahnya.
"Kalian mau membawaku ke mana, ha? Lepaskan aku! Aku tidak mau," tolak Adelia dengan sekuat tenaga mempertahankan dirinya di tempat itu. Ia berpegangan di sisi tempat tidur dengan erat dan berharap lelaki itu tidak bisa membawanya keluar dari ruangan tersebut.
"Sudah, diam! Jangan banyak bicara. Sekarang ikuti aku!" titah lelaki itu dengan wajah sangar menatap Adelia. Karena Adelia terus bersikukuh untuk tetap mempertahankan posisinya, lelaki itu pun kembali menyeret Adelia dengan kasar.
"Aww! Kamu menyakitiku!" rintih Adelia karena lelaki itu memegang tangannya dengan begitu erat dan membuat pergelangan tangannya menjadi sakit dan memerah.
Karena kesal mendengar ocehan Adelia, lelaki itu kembali membekap mulut Adelia dengan menggunakan sapu tangan miliknya. Setelah Adelia tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi, lelaki itu pun tersenyum puas.
"Sekarang kamu tidak bisa bicara lagi, kan?" ucapnya sambil tergelak.
__ADS_1
Adelia pun akhirnya hanya bisa pasrah dan mengikuti kemana mereka membawanya. Samuel membukakan pintu mobil, sementara lelaki yang sejak tadi memegangi tubuh Adelia, mendorong wanita itu hingga masuk ke dalam mobil.
"Masuk!"
Setelah Adelia masuk, Samuel pun duduk di samping wanita itu dengan wajah dingin. Tangan Adelia yang tadinya bebas dari ikatan, kini kembali diikat oleh lelaki itu dengan sangat erat.
Mobil yang ditumpangi oleh Adelia dan Samuel kini melaju meninggalkan Villa tersebut. Sementara di belakang mobil mereka, tampak sebuah mobil mengikuti dari belakang. Mobil yang ditumpangi oleh para pengawal Samuel, yang sengaja ditugaskan untuk berjaga-jaga dari sesuatu yang tidak diinginkan.
Di perjalanan.
"Mmm, mmm!" gumam Adelia yang mulutnya masih disumpal sapu tangan. Adelia terus bergumam dan hal itu benar-benar membuat Samuel naik pitam.
"Diam!" bentak Samuel dengan wajah memerah.
"Apa, sih!"
Samuel yang jenuh pun akhirnya melepaskan bekapan mulut Adelia. Namun, baru saja sapu tangan itu lepas dari mulutnya, tiba-tiba Adelia memuntahkan seluruh isi perutnya.
Muntahan wanita itu bahkan sampai mengenai kemeja serta celana mahal milik Samuel. Mata lelaki itu membulat dan ia benar-benar kesal melihat tingkah Adelia.
"Kamu menjijikkan sekali, Adelia! Iyeuhhh,"
"Berhenti sebentar, aku ingin membersihkan pakaianku!" titah Samuel kepada lelaki yang mengemudikan mobilnya.
__ADS_1
"Baik, Tuan."
Lelaki itu pun segera menepikan mobilnya dan membukakan pintu untuk Adelia dan Samuel. Sementara Samuel membersihkan dirinya, Adelia masih saja memuntahkan isi perutnya di pinggir jalan.
"Ada apa lagi ini?" tanya lelaki yang tadi menyeret Adelia.
"Wanita itu muntah dan mau tidak mau Tuan Samuel harus menghentikan perjalanan kita untuk sejenak," jawab lelaki yang kini sedang membersihkan mobil kesayangan milik Samuel tersebut.
"Hah, wanita ini memang menyusahkan saja!" gerutu lelaki itu lagi.
Adelia kesal mendengar percakapan kedua lelaki itu. Namun, sayangnya ia sudah tidak memiliki tenaga untuk membela diri. Jangankan untuk membela diri, ia bahkan sudah tidak mampu berkata-kata karena muntahnya kali ini benar-benar menguras tenaganya.
Setelah isi perutnya keluar habis, Adelia pun jatuh ke tanah dengan posisi terlentang. Penglihatannya mulai kabur dan dunia seolah-olah berputar dengan begitu cepat. Wajah Adelia pun tampak memucat kala itu.
"Heh, dia kenapa?" tanya lelaki yang tadi menyeret Adelia. Ia memperhatikan kondisi Adelia saat itu dengan seksama.
"Entahlah, mungkin dia sedang sakit," jawab yang lainnya.
"Bagaimana ini? Kita tidak mungkin membawanya ke Rumah Sakit, 'kan? Bisa-bisa kita dalam bahaya," tutur lelaki itu lagi.
"Kita tunggu saja perintah dari Tuan Samuel."
...***...
__ADS_1