Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 76


__ADS_3

Samuel pun akhirnya luluh. Lelaki itu membuka ikatan yang melingkar di pergelangan tangan Adelia hingga benar-benar terlepas.


Adelia terlihat begitu senang. Ia mengelus pergelangan lengannya yang memerah tersebut secara bergantian sambil terus menyunggingkan senyumnya untuk Samuel.


"Terima kasih, Samuel sayang. Aku cinta padamu," ucap Adelia.


Adelia melirik ke seluruh ruangan dan mencari celah, di mana ia bisa melarikan diri dari cengkeraman lelaki itu.


"Aku juga," jawab Samuel.


Baru saja Samuel memalingkan wajahnya untuk meraih sesuatu di atas nakas, Adelia segera bangkit dari posisinya dan berlari secepat kilat menuju pintu yang memang tidak terkunci. Memyadari hal itu, tentu saja Samuel tidak tinggal diam.


Lelaki itu mengejarnya dengan cepat sambil berteriak memanggil anak buahnya yang sedang berjaga. "Pengawal! Pengawal! Tutup pintu utama dan jangan biarkan wanita jal*ng itu kabur!" teriaknya dengan lantang.


Mendengar teriakkan Samuel, para lelaki yang memang berjaga di sisi-sisi ruangan, segera mengikuti perintah majikannya tersebut. Mereka berlari ke pintu utama kemudian berdiri di sana guna menghadang Adelia yang berusaha kabur.


"Dasar wanita sialan!" umpat Samuel dengan wajah memerah.

__ADS_1


Adelia yang tidak tahu bahwa dirinya tengah dihadang oleh anak buah Samuel di pintu utama, terus berlari menuju tempat itu. Namun, ketika ia menyadari bahwa ada beberapa lelaki yang sudah menghadangnya, Adelia pun menghentikan langkahnya.


Wanita itu berhenti sejenak sambil berpikir keras. Bagaimana caranya kabur dari Villa tersebut. Adelia mundur beberapa langkah ke belakang dan ia terperanjat saat menyadari sosok Samuel sedang berlari ke arahnya.


"Gawat! Bagaimana ini! Di pintu ada para penjaga dan di belakangku ada Samuel," gumam Adelia yang kini tampak kebingungan.


Dengan modal nekat, Adelia berlari ke arah pintu utama walaupun ia tahu di sana ada beberapa orang laki-laki bertubuh besar sedang menghadangnya.


"Tahan dia! Jangan sampai dia lolos," teriak Samuel lagi sambil mengumpat kesal.


"Ah, bagaimana ini?" Adelia semakin terpojok dan akhirnya Samuel berhasil menyergapnya dari belakang.


"Sekarang kamu mau kemana, ha? Berani sekali kamu membohongiku, Adelia! Kamu harus diberi sedikit pelajaran agar tidak mengulangi kesalahan ini lagi untuk kedua kalinya," ucap Samuel dengan setengah berbisik di samping telinga Adelia.


"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi, Samuel. Aku berjanji tidak akan mengatakan apapun tentangmu kepada siapapun. Rahasiamu aman padaku, tapi kumohon lepaskan aku," lirih Adelia sambil mengiba agar dilepaskan.


Samuel menuntun Adelia dengan kasar menuju kamarnya. "Terima kasih atas tawarannya, tapi sayang aku sama sekali tidak tertarik. Aku lebih tertarik pada tubuhmu, Adelia," sahutnya sambil menyeringai licik.

__ADS_1


Adelia terus memohon agar dilepaskan, tetapi semuanya percuma saja. Samuel bahkan tidak ingin mendengarkan semua kata-kata yang keluar dari bibir wanita itu. Setibanya di kamar, Samuel membawa tubuh Adelia ke atas tempat tidur kemudian mendorongnya hingga ia terjengkang di sana.


Samuel melepaskan seluruh pakaiannya hingga yang tersisa hanya sebuah celana boxer untuk menutupi sebuah gundukan besar di dalam sana. Adelia terdiam sambil menatap tubuh polos Samuel.


Entah kenapa ia merasa sangat bergairah melihat tubuh sixpack yang sedang berdiri di hadapannya itu. Matanya bahkan tak mampu berkedip sedikitpun. Beberapa kali Adelia menelan salivanya, membayangkan gundukan besar di dalam celana boxer tersebut.


"Apa yang terjadi padaku! Kenapa hasratku begitu bergelora melihat tubuh polosnya," batin Adelia.


Samuel kembali menyeringai licik sembari menghampiri Adelia. "Kenapa Adelia? Apakah tubuhku begitu menggodamu?" bisik Samuel dengan sangat dekat. Bahkan bibir mereka hampir saja menempel satu sama lain.


"Apa yang kamu berikan padaku, Samuel! Aku yakin kamu sudah memberikan aku sesuatu di makanan atau minumanku barusan," sahut Adelia yang tampak kesal. Namun, ia tidak mampu menahan gejolak hasratnya. Ingin menyentuh dan disentuh oleh Samuel saat itu juga.


Samuel bertepuk tangan sambil tertawa pelan. "Ya, kamu tepat sekali! Aku memang memberikanmu obat perangs*ng di minumanmu agar kamu tidak bisa menolak keinginanku. Sekarang, layani lah aku dengan baik, My Sweet Heart."


"Kamu memang gila!" pekik Adelia.


...***...

__ADS_1


__ADS_2