Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Jubah Milik Dania


__ADS_3

Waktu sudah menunjukkan pukul sembilan pagi. Namun, lelaki pemarah itu tidak juga keluar dari kamarnya. Sementara Roy sudah hampir dua jam menunggu lelaki itu di depan mobilnya sambil berbincang bersama para pengawal yang berjaga di depan, termasuk Max.


"Ngomong-ngomong, di mana Tuan Daniel? Sudah hampir dua jam aku di sini. Tetapi Tuan Daniel belum juga kelihatan batang hidungnya," tanya Roy kepada para pengawal tersebut.


Para lelaki bertubuh besar itu mengangkat kedua bahu mereka dan ada beberapa yang menggelengkan kepala.


Melihat respon para pengawal tersebut, Roy pun berencana menemui Tuannya langsung. "Ya, sudah. Aku coba lihat ke dalam," ucap Roy sembari melangkah masuk ke dalam rumah megah tersebut.


Ketika memasuki ruang utama, ia berpapasan dengan salah seorang pelayan yang sedang bertugas membersihkan ruangan itu. Perlahan Roy menghampirinya kemudian bertanya kepada pelayan tersebut.


"Di mana Tuan Daniel?"


"Tuan Daniel masih berada di kamarnya, Tuan" sahut Pelayan itu.


Roy menautkan kedua alisnya heran. "Masih di kamar? Jam segini?" Lelaki itu memperlihatkan jam tangan mahal yang melingkar di pergelangan tangannya kemudian mendongak ke lantai atas, di mana kamar utama berada.


"Semoga Tuan Daniel tidak lupa bahwa hari ini dia sudah memintaku untuk menjemputnya. Sudah hampir satu minggu ia tidak masuk kerja," gumam Roy sembari meneruskan langkahnya menuju kamar utama.


Dengan langkah cepat, Roy menaiki deretan anak tangga menuju kamar utama. Dan setibanya di depan kamar nan megah tersebut, tiba-tiba Roy menjadi ragu menemui Big Bossnya itu.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang dilakukan oleh Tuan Daniel di dalam sana? Ah, semoga aku tidak mengganggunya," ucap Roy dalam hati.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Roy memberanikan diri untuk mengetuk pintu tersebut.


Tok tok tok!


"Tuan, maaf mengganggu. Apa Tuan baik-baik saja?" tanya Roy dengan sangat hati-hati.


Tubuh besar itu tampak menggeliat di atas tempat tidur. Ia mengucek matanya yang masih terasa berat kemudian melihat ke arah jam dinding mahal yang menggantung di salah satu dinding kamar.


Daniel terperanjat setelah sadar bahwa jarum pendek di jam dinding tersebut sudah menunjuk ke arah angka sembilan. "Ya, Tuhan. Apa aku tidak salah lihat?" gumamnya sembari bangkit dari posisinya dengan cepat.


"Roy, bisakah kamu menungguku sebentar lagi?" ucap Daniel ketika wajahnya sudah keluar dari balik pintu. Sementara separuh tubuhnya masih tertutup daun pintu.


Roy sempat membulatkan matanya ketika pintu terbuka. Ia tidak menyangka bahwa ia akan menyaksikan pemandangan yang sama sekali tidak pernah terbayangkan olehnya. Lelaki itu mengulum senyum dan mencoba menahan agar tawanya tidak pecah saat itu.


Sosok Daniel yang selalu terlihat gagah dan keren. Daniel yang begitu mengagungkan sebuah penampilan, tetapi kali ini terlihat berbeda hingga seratus delapan puluh derajat.


Tanpa sadar, Daniel yang ingin meraih kimono tidurnya, malah meraih jubah tipis dan menerawang milik Dania. Jubah yang tadi malam Dania gunakan untuk menutupi lingerie transparannya. Dan bukan hanya itu, wajah tampan Daniel pun di penuhi dengan noda merah merona bekas lipstik Dania.

__ADS_1


"Kenapa wajahmu begitu, Roy? Apa kah ada yang salah padaku?" tanya Daniel yang belum menyadari bagaimana penampilannya saat itu.


Roy mencoba tersenyum seperti biasa. Lelaki itu sedikit membungkuk di hadapan Daniel kemudian menjawab pertanyaannya. "Bukan apa-apa, Tuan Daniel. Saya sangat senang melihat Anda baik-baik saja. Baiklah, selagi Anda bersiap, saya akan menunggu Anda di bawah," jawab Roy.


"Baiklah, aku akan segera bersiap," jawab Daniel sembari menutup pintu kamarnya kembali.


"Memangnya ada yang salah, ya?" Daniel mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan akhirnya mata elang itu menohok tajam pada sebuah kimono tidur yang tergeletak di samping tempat tidur mewahnya.


"Loh, itu 'kan kimono tidurku. Lalu, apa yang tengah aku kenakan saat ini?" gumamnya dengan wajah panik. "Beranikah aku melihatnya?" lanjut Daniel.


Perlahan Daniel melirik ke arah tubuhnya dan setelah tahu apa yang ia kenakan saat itu, ia pun berteriak histeris. "Aakkhhh!"


Kebetulan saat itu Dania baru saja keluar dari kamar mandi. Wanita muda itu baru saja menyelesaikan ritual mandi paginya. Pada saat ia keluar dari ruangan itu, mata Dania langsung tertuju pada sosok Daniel yang berteriak histeris dengan penampilan yang terlihat sangat lucu.


Rambut lelaki tampan itu begitu berantakan. Sekujur kulit putih mulusnya di penuhi dengan tanda merah bekas lipstik yang Dania kenakan tadi malam. Sementara tubuhnya dibalut dengan kain tipis dan menerawang hingga seluruh tubuhnya terlihat dengan sempurna. Termasuk juniornya yang kembali On.


"Kenapa kamu mengenakan jubah itu, Sayang?" tanya Dania sambil menahan tawanya.


"Apa kamu tahu, aku barusan menemui Roy dengan penampilan seperti ini!" pekik Daniel sambil mengusap wajahnya dengan kasar.

__ADS_1


...***...


__ADS_2