Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 86


__ADS_3

"Syukurlah! Beruntung Dania bersedia membantu kita, kalau tidak ... Ibu tidak tahu harus meminta tolong kepada siapa lagi," ucap Bu Ida sambil melangkahkan kakinya menuju halaman depan, di kediaman megah Daniel.


"Dania adalah gadis yang baik dan pemaaf. Ayah sangat yakin, walaupun ia pernah kecewa kepada kita, ia tidak akan pernah bisa membenci kita," jawab Pak Adi.


Ketika tiba di halaman depan, Pak Adi dan Bu Ida segera menghampiri mobil mereka. Namun, baru saja mereka ingin menyentuh gagang pintu, tiba-tiba saja sebuah mobil mewah memasuki halaman tersebut.


Mobil itu terus melaju dan kini mendekat ke arah Pak Adi dan Bu Ida. Mobil mewah itu terparkir tepat di samping mobil Pak Adi. Pasangan paruh baya itu tampak bingung dan penasaran siapa pemilik mobil mewah tersebut.


Beberapa saat kemudian, pintu mobil pun terbuka dan tampaklah sepasang suami-istri keluar dari dalam mobil tersebut. Mata Pak Adi dan Bu Ida terbelalak setelah tahu siapa pemilik mobil tersebut. Pak Adi bahkan tidak bisa berkata-kata dan kini mulutnya tampak terbuka lebar.


Ternyata ekspresi Sang Pemilik mobil pun sama. Mereka tidak kalah terkejutnya. Terutama Riska, Ibunda Dania yang kini tengah bergandeng mesra dengan Tommy, pamannya Daniel.


"Mas Adi?"


"Ri-Riska, kamu?" ucap Pak Adi dengan terbata-bata setelah sadar bahwa pemilik mobil mewah tersebut adalah mantan istrinya. Wanita yang sudah ia campakkan demi sosok Ida Haryani, si janda kembang beranak satu.


Pak Adi memperhatikan penampilan mantan istrinya itu dari ujung kepala hingga ujung kaki. Benar-benar berubah seratus delapan puluh derajat dan wanita itu terlihat jauh-jauh lebih cantik dan modis.

__ADS_1


Sekarang tatapan Pak Adi beralih kepada Bu Ida yang dulu sempat menjadi wanita dambaan seluruh lelaki di kampungnya. Wanita itu sudah tidak secantik dulu. Kerutan-kerutan di wajah wanita itu terlihat sangat jelas dan lingkungan hitam yang menghiasi kedua pelupuk mata Bu Ida membuat mata Pak Adi gatal.


"Kenapa kamu melihatku seperti itu?!" kesal Bu Ida dengan mata membesar menatap Pak Adi.


Pak Adi tidak menjawab dan kini tatapan lelaki itu kembali ke pasangan suami-istri yang masih berdiri di hadapannya. Tommy mengulurkan tangannya ke hadapan Pak Adi sambil tersenyum hangat.


"Apa kabar, Pak Adi?" tanya Tommy.


Dengan malu-malu, Pak Adi menyambut uluran tangan lelaki itu. "Baik, Tuan Tommy. Senang bisa bertemu Anda di sini," jawab Pak Adi.


Bu Riska mencoba tersenyum kepada Bu Ida, tetapi wanita itu enggan membalas senyumannya. Jangankan tersenyum, ia bahkan tidak ingin melihat ke arah Bu Riska.


"Tidak, Tuan Tommy. Kami baru saja selesai menemui Tuan Daniel dan sekarang kami ingin pulang," jawab Pak Adi.


"Oh, ya, sudah kalau begitu. Kami masuk dulu, ya."


"Ya, silakan, Tuan."

__ADS_1


Tommy dan Riska pun segera masuk ke dalam rumah megah tersebut. Mereka ingin menjemput Selly yang sudah beberapa hari tinggal di sana bersama Daniel dan Dania. Sementara Bu Ida dan Pak Adi masuk ke dalam mobil mereka dan melaju, meninggalkan halaman rumah megah tersebut.


"Aku tidak menyangka, ternyata Riska menikah dengan salah satu anggota keluarga besar Dirgantara. Ya ampun!" gumam Pak Adi sambil menggelengkan kepalanya pelan.


"Hebat ya, mereka. Tidak anaknya, tidak Ibunya, sama-sama menjadi bagian dari keluarga Dirgantara yang terkenal dengan kekayaannya itu. Mujur sekali nasib mereka, huft! Tidak seperti diriku dan Adelia," gerutu Bu Ida sambil menekuk wajahnya.


"Loh, kenapa kamu bicara seperti itu, Da. Kamu menyesal sudah menikah denganku, iya?"


Bu Ida menghela napas kasar. Wanita itu masih memasang wajah malas sembari berpaling ke arah samping jendela.


"Jangan tanyakan hal itu padaku. Tanyakan itu pada dirimu sendiri. Aku bisa melihat dari tatapanmu kepada Riska barusan. Kamu membandingkan aku dengan dengannya, 'kan? Tentu saja aku kalah telak! Pakaian dan perawatan Riska pasti berharga mahal, sedang aku? Jangankan pakaian mahal, krim wajah saja harganya murahan," kesal Bu Ida.


"Hah, sudah! Jangan bahas itu lagi! Menyebalkan. Sebaiknya pikirkan saja nasib Adelia," sambung Pak Adi, tidak kalah kesalnya.


Sementara itu.


"Roy, aku tidak ingin ikut dalam misi itu. Dan semuanya aku serahkan kepadamu," ucap Daniel kepada Roy yang masih setia berdiri di sampingnya.

__ADS_1


"Baik, Tuan." Sejujurnya Roy pun enggan ikut serta dalam misi penyelamatan Adelia. Namun, karena itu permintaan Daniel, ia pun tidak bisa menolaknya.


...***...


__ADS_2