Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Gadis Manja


__ADS_3

"Dia Erick, laki-laki yang menolongku kemarin," bisik Selly sembari memegang tangan Dania dengan erat dan tatapan gadis itu tidak luput dari wajah tampannya Erick.


Dania tersentak kaget dengan mata membesar dan mulut menganga. "Jadi, Mas Erick ini yang menolongmu kemarin?!"


Selly mengangguk cepat. "Ya, dan aku tidak menyangka bahwa lelaki ini adalah sahabatmu, Dabia!" pekik Selly, tak mau kalah.


Ehem! Erick berdehem karena kedua wanita itu terus berbisik di hadapannya tanpa ia tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Emm, maaf Erick. Kenalkan, ini Selly. Adik sepupunya Mas Daniel," ucap Dania seraya menyikut tangan Selly yang masih berdiri di sampingnya agar segera memperkenalkan dirinya kepada Erick.


Dengan senang hati Selly pun mengulurkan tangannya kepada lelaki itu sambil memasang senyuman semanis mungkin.


Erick menaikan sebelah alisnya menatap Selly. Ia bahkan sempat mencebikkan bibirnya setelah tahu bahwa gadis cantik yang ia tolong kemarin adalah adik sepupunya Daniel. Bukannya menyambut uluran tangan gadis itu, Erick bahkan kembali membiarkannya sambil bergumam dengan cukup jelas.


"Andai kutahu dia Adiknya Daniel menyebalkan itu, mungkin aku biarkan saja ia kena jambret. Toh, harga ponsel itu tidak ada artinya buat dia," gumamnya sambil memasang wajah malas.


"Aku duluan ya, Dania. Ada tugas penting yang harus aku kerjakan hari ini," sahut Erick yang kemudian sembari melenggang pergi setelah memberikan senyuman manisnya untuk Dania.


"Hhh!" kesal Selly karena untuk kedua kalinya Erick acuh tak acuh terhadapnya.


Dania tersenyum kecut sembari mengelus punggung gadis itu dengan lembut. "Yang sabar ya, Selly. Sebaiknya kita masuk, anak-anak pasti sudah menunggu kedatanganku," ucap Dania.

__ADS_1


"Baiklah." Selly pun kembali melangkahkan kakinya di samping Dania menuju kelas Dania mengajar.


"Apa sifat Erick memang begitu?" tanya Selly kemudian. "Soalnya ini pertama kalinya aku benar-benar dicuekin oleh seorang cowok, Dania," lanjutnya.


Lagi-lagi Dania tersenyum kecut. "Entahlah, aku kurang tahu bagaimana sikapnya terhadap gadis lain. Tapi kalau denganku, dia selalu baik, kok."


Selly menghembuskan napas berat sambil memutarkan bola matanya. "Ya iyalah, Dania! Dia 'kan memang jatuh cinta padamu. Apa kamu tidak lihat bagaimana cara dia menatapmu? Sangat manis sekali, hmm ... seandainya dia menatapku dengan cara yang sama," gumam Selly.


Kini Dania tiba di depan kelasnya. Ia menghentikan langkah Selly yang ingin ikut masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Cukup sampai di sini saja, Sel. Aku tidak ingin kehadiranmu di dalam ruang kelas, membuat kegiatan belajar-mengajar kami terganggu. Cukup Mas Daniel yang bersikap aneh seperti itu. Kamu jangan, oke?" tegas Dania.


"Tapi--" Selly ingin protes karena Daniel menugaskan dirinya untuk terus memantau kegiatan Dania dan tidak boleh sampai lengah sedetikpun dari pandangannya.


Setelah ia pikir-pikir, apa yang dikatakan oleh Dania memang ada benarnya. Selly pun akhirnya mengangguk dan duduk di sebuah kursi panjang yang ada di luar ruang kelas sambil terus memantau kegiatan gadis itu.


Dua jam kemudian.


Selly tampak bosan berada di tempat itu tanpa melakukan apa-apa. Bahkan semua sosmednya sudah ia jelajahi hanya untuk sekedar mengusir rasa jenuhnya.


Namun, tiba-tiba mata gadis itu tertuju pada sosok tampan yang tadi acuh tak acuh padanya. Tanpa pikir panjang, Selly bergegas menghampiri Erick yang tengah mengajak anak didiknya berolah raga, berlari mengelilingi lapangan hingga beberapa kali putaran.

__ADS_1


"Kak, boleh kita bicara sebentar?" tanya Selly yang tampak berbasa-basi.


"Bicara saja di sini karena aku sedang sibuk," sahut Erick yang masih asik memantau anak didiknya.


"Ehm, baiklah kalau begitu, tapi janji jangan tersinggung, ya." Selly memperhatikan ekspresi Erick yang masih terlihat datar. "Kalau boleh tau, sejak kapan Kak Erick menyukai Dania?"


"Sejak pertama kali kami bertemu. Memangnya kenapa kamu bertanya-tanya soal itu kepadaku? Apa itu salah satu pertanyaan yang ingin ditanyakan oleh Kakakmu kepadaku?" Erick melirik Selly dengan tatapan setengah kesal.


Selly menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Sumpah! Bukan, Kak Erick! Itu murni pertanyaan yang keluar dari kepalaku sendiri dan bukan pertanyaan dari Kak Daniel."


"Memangnya apa tujuanmu datang ke sini? Aku yakin Daniel yang menyuruhmu. Benar, 'kan?" Erick kembali melirik Selly sekilas kemudian kembali fokus pada anak didiknya.


Selly menganggukkan kepalanya perlahan. Mengiyakan apa yang dikatakan oleh Erick barusan. "Kak Erick, boleh aku bertanya satu hal lagi?"


"Hmm," gumam Erick tanpa menoleh sedikitpun.


"Memangnya apa yang membuat Kak Erick menyukai Dania?"


Erick terkekeh pelan. "Dania itu istimewa. Selain sifat baiknya, ada satu hal yang membuat aku jatuh cinta. Dia gadis yang mandiri dan tidak pernah manja," sahut Erick dengan penuh penekanan ketika mengucapkan kata 'tidak pernah manja'.


Selly menekuk wajahnya. Jawaban dari lelaki itu membuat Selly merasa tersindir. Ya, selama ini ia selalu dimanjakan oleh Ayah dan Ibunya, bahkan Daniel pun tidak jarang ikut memanjakannya.

__ADS_1


...***...


__ADS_2