Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 96


__ADS_3

Daniel tersentak kaget karena tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya dari belakang. Ia berpikir itu tidak mungkin Dania, sebab istri kesayangannya itu masih berada di dalam kamar mereka.


Namun, setelah mendengar suara Adelia yang kini tengah memeluknya dari belakang. Daniel pun akhirnya tersadar dan segera melerai pelukan wanita itu dari tubuhnya.


"Lepaskan!" teriak Daniel lantang sambil menghempaskan tangan Adelia dengan kasar.


Wajah lelaki itu memerah dan terlihat sangat menakutkan. Bayang-bayang kemarahan Daniel dulu kembali terlintas di kepala Adelia. Namun, karena ia masih yakin bahwa Daniel masih mencintainya, ia pun mencoba memberanikan diri untuk menghadapi kemarahan lelaki itu.


"Da-Daniel ... ini aku, Adelia! Hari ini aku ingin minta maaf kepadamu. Aku ingin kita bisa kembali sama seperti dulu, Daniel." Adelia mencoba meyakinkan lelaki itu walaupun sebenarnya ia ketakutan saat melihat ekspresi lelaki itu.


Adelia masih mencoba mendekat dan ingin meraih tangan Daniel. Namun, belum sempat Adelia menyentuh tangannya, Daniel sudah menepis tangan wanita itu terlebih dahulu.


"Jangan sentuh aku, Adelia! Aku tidak sudi disentuh olehmu!" teriakkan Daniel menggelegar hingga ke langit-langit ruangan. Bahkan para pelayan yang sedang bekerja membersihkan ruangan itu pun segera berlarian.


Salah satu dari mereka berlari menuju kamar utama untuk memberitahukan kepada Dania bahwa saat ini suaminya kembali kumat. Lelaki itu tidak bisa mengontrol amarahnya saat bertemu dengan Adelia.


"Ta-tapi kenapa, Daniel? Bukankah kamu masih mencintaiku? Tidak usah berpura-pura, Daniel sayang. Aku tahu kamu hanya mencintai aku seorang. Pernikahanmu dengan Dania hanya sebuah sandiwara untuk menutupi kisahmu yang sebenarnya. Sekarang, kembalilah! Dan aku berjanji tidak akan pernah meninggalkan dirimu lagi," lirih Adelia dengan sedikit mengiba agar Daniel simpati padanya.

__ADS_1


"Akhhh!" Daniel kembali berteriak dan ia melemparkan apa saja yang ada di sampingnya ke arah wanita itu.


Adelia ketakutan dan akhirnya memilih menjaga jarak dari lelaki itu agar tidak terjadi sesuatu kepadanya.


"Enyah dari hadapanku! Aku sudah tidak ingin melihat wajahmu lagi, Adelia!" tegas Daniel sembari menunjuk ke arah pintu.


Adelia menggelengkan kepalanya pelan dan wajahnya tampak was-was. Sebenarnya Adelia sangat ketakutan dan juga merasa cemas saat itu. Namun, demi perasaannya kepada Daniel, ia rela melakukan apa saja, termasuk menghadapi kemarahan lelaki itu.


"Aku tidak akan pergi, Daniel. Aku akan terus di sini sampai kamu bisa menerimaku kembali," lirih Adelia.


Sementara itu di kamar utama.


Terdengar suara ketukan di pintu kamar utama dengan irama cepat dan tidak beraturan. Ketukan itu disertai dengan panggilan dari seorang pelayan yang berdiri di balik pintu tersebut. Dania begitu terkejut dan segera menghentikan aktivitasnya. Ia bergegas menghampiri kemudian membukanya.


"Ada apa, Mbak?" tanya Dania dengan terbengong-bengong.


"Tuan Daniel, Nona. Tuan Daniel kembali marah-marah di ruang utama," jawab pelayan itu dengan wajah memucat.

__ADS_1


"Ya, Tuhan! Siapa lagi sih yang jahil dan memicu kemarahannya! Kan sudah aku bilang untuk jangan memancing kemarahannya lagi!" kesal Dania sambil berlari kecil menuju ruang utama di mana Daniel ingin melakukan sesuatu kepada Adelia.


Sementara Pelayan itu terus mengikuti Adelia dari belakang dengan tergopoh-gopoh. Ia tidak berani menyampaikan kepada Dania yang sebenarnya bahwa wanita yang sudah jahil memicu kemarahan Daniel adalah kakaknya sendiri, Adelia."


Ketika tiba di ruangan itu, Dania tersentak kaget. Sesuatu yang mengerikan akan segera terjadi di depan matanya. Namun, sebelum itu benar-benar terjadi, Dania segera berlari menghampiri suaminya itu.


Saat itu Daniel terus mencoba menghampiri Adelia. Tatapan elang lelaki itu terlihat begitu menakutkan tertuju pada wanita itu. Bahkan Adelia yang tadinya begitu yakin bahwa Daniel tidak akan menyakitinya, kini menciutkan nyalinya.


Dania berlari dan memeluk Daniel dengan cepat. "Sayang! Hentikanlah! Kontrol emosimu, kumohon," lirih Dania sambil memeluk erat tubuh Daniel.


Emosi Daniel yang tadinya meledak-ledak, perlahan sirna. Napasnya yang memburu, perlahan menjadi normal kembali. Dadanya yang terasa panas pun akhirnya terasa dingin setelah Dania memeluk tubuhnya.


Lelaki itu membalas pelukan Dania kemudian mencium puncak kepalanya berkali-kali. "Maafkan aku, Dania."


Sementara Adelia hanya bisa terpelongo melihat aksi Dania menenangkan amarah Daniel dengan sangat mudah.


...***...

__ADS_1


__ADS_2