Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 92


__ADS_3

Akhirnya yang ditunggu-tunggu pun tiba. Mobil yang ditumpangi oleh Roy dan Adelia serta beberapa anak buah lelaki itu berhenti tepat di depan kediaman baru Pak Adi dan Bu Ida.


Dengan tergesa-gesa Pak Adi dan Bu Ida menghampiri mobil tersebut dan menunggu Adelia keluar. Sementara Dania berdiri di belakang Ayah dan Ibu tirinya bersama Max yang selalu setia berada di sampingnya.


Beberapa detik berikutnya, pintu mobil pun terbuka. Tampak lah wajah Roy yang kusut keluar dari mobil tersebut. Roy kesal karena di sepanjang perjalanan Adelia hanya tidur dengan posisi bersandar di pundaknya.


Ingin sekali ia mendorong kepala wanita itu agar menjauh dari pundaknya. Namun, teringat akan kondisi Adelia yang sedang hamil, ia pun mengurungkan niatnya.


Tidak lama setelah Roy keluar dari mobil, Adelia pun segera menyusul dan kini wanita itu berdiri tepat di hadapan Pak Adi dan Bu Ida. Bu Ida tidak bisa menahan rasa harunya. Ia segera merentangkan tangan kemudian memeluk Adelia dengan erat.


"Adelia, anakku! Ibu kangen banget sama kamu, Nak!" seru Bu Ida sambil menitikkan air matanya. Setelah sekian lama tidak ada kabar, sekarang anak perempuannya itu kembali lagi padanya.


"Aku juga, Bu. Aku sangat merindukan Ibu," jawab Adelia.


Setelah puas melepaskan rindu mereka, Bu Ida dan Adelia pun segera melerai pelukan mereka. Kini tatapan Adelia tertuju pada Dania yang berdiri tepat di belakang Ibunya. Ia memperhatikan penampilan Dania dengan seksama, bahkan tanpa berkedip sedikitpun.


Dania terlihat begitu cantik dengan pakaian mahal serta modis yang kini membalut tubuh indahnya. Bahkan beberapa perhiasan yang ikut menempel di tubuh Dania pun tak luput dari pengamatan Adelia.


Bukan hanya Adelia, Dania pun turut memperhatikan penampilan kakak tirinya itu. Menurut Dania, penampilan Adelia tampak berubah. Wanita itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Bahkan wajahnya yang selalu tampak glowing karena skincare mahal yang selalu ia gunakan, kini terlihat kucel dan memucat.


"Dania," sapa Adelia dengan wajah dingin menatap gadis itu.

__ADS_1


Dania menyunggingkan sebuah senyuman hangat kemudian mengulurkan tangannya. "Selamat datang kembali, Kak."


Namun, tangan Dania hanya dilihat begitu saja oleh Adelia. Wanita itu tampak enggan menyambutnya. Sadar bahwa Adelia tidak ingin menyambut uluran tangannya, Dania pun segera menarik kembali tangannya tersebut.


Melihat situasi yang mulai canggung, Bu Ida pun segera mengajak Adelia masuk ke dalam rumah baru mereka. "Sebaiknya kita masuk yuk, Sayang. Biar kita bisa ngobrol di dalam. Kamu juga, Dania. Mari kita masuk," ajak Bu Ida.


"Ya, ya! Ibumu benar," sambung Pak Adi yang tidak kalah bahagianya.


Setelah keluarga Pak Adi masuk ke dalam rumah mereka. Roy memanggil Max dan mencoba mengingatkan lelaki itu.


"Max, terus pantau keluarga Pak Adi. Jangan sampai mereka menyakiti atau menyinggung Nona kita, Mengerti?"


"Bagus! Aku percaya padamu." Roy menepuk pelan pundak Max. " Oh ya, kami pamit dulu, Max. Kami pun butuh istirahat, sebab misi ini benar-benar menguras tenaga kami," sambung Roy.


Setelah Roy pergi meninggalkan kediaman baru Pak Adi dan Bu Ida, Max pun bergegas menemui Dania yang kini sudah berada di dalam rumah tersebut.


"Bagaimana menurutmu rumah baru kita? Bagus 'kan?" ucap Bu Ida dengan bangga memperlihatkan seluk beluk rumah barunya kepada Adelia.


"Siapa yang memberikan rumah ini untuk kalian? Aku rasa tidak mungkin jika kalian membelinya," sahut Adelia sambil memperhatikan sekeliling ruangan itu.


"Memang tidak. Rumah dan mobil baru yang kami miliki saat ini adalah hadiah dari Tuan Daniel."

__ADS_1


"Hadiah dari Daniel? Hadiah untuk apa?" tanya Adelia.


"Sebagai ucapan terima kasihnya kepada kami, karena sudah menikahkan dirinya dengan Dania. Oups!" Bu Ida keceplosan dan ia mulai melirik wajah Adelia saat itu. Tentu saja ekspresi Adelia berubah dan wajahnya terlihat menekuk saat itu.


"Cuma ini yang bisa ia berikan untuk Ayah dan Ibu? Heh, kalau aku yang berada di posisi Dania, mungkin aku akan meminta Daniel membelikan rumah dan mobil yang jauh lebih bagus dan lebih mahal dari ini," sahut Adelia dengan sedikit kesal.


Bu Ida melirik Max yang kini sudah berada di belakang Dania untuk memastikan bahwa Nona-nya selalu aman. Tatapan mengerikan Max membuat nyali Bu Ida kembali menciut.


"Tidak, Nak. Ini pun sudah lebih dari cukup. Benar 'kan, Dania?" sahut Bu Ida berbasa-basi.


Dania tidak menjawab. Namun, tatapannya tetap tertuju pada Adelia yang menurutnya tidak pernah berubah. Sifat sombong wanita itu masih saja tampak dominan. Tiba-tiba Dania teringat akan hadiah yang tadi ia beli di butik.


"Oh ya, aku punya hadiah untukmu, Kak. Semoga Kakak menyukainya." Dania menyerahkan paper bag yang tadi ia letakkan di samping sofa kepada Adelia.


Lagi-lagi paper bag itu hanya dilihat saja. Adelia makin malas menyambutnya. Namun, Bu Ida refleks menyambut paper bag tersebut kemudian menyimpannya.


"Terima kasih ya, Nak. Adelia pasti sangat menyukainya," ucap Bu Ida sambil melirik Max.


"Sama-sama, Bu."


...***...

__ADS_1


__ADS_2