
"Sabar, Mas! Jangan tergesa-gesa, aku 'kan jadi takut," keluh Dania sambil menekuk wajahnya.
Daniel pun segera melepaskan Dania dari kungkungannya dan sekarang ia duduk di samping gadis itu. "Baiklah, kita mulai pelan-pelan saja," sahut Daniel kemudian.
Mata Dania yang tadinya masih tertuju pada Daniel, kini perlahan turun ke bawah dan menuju si Junior yang sejak tadi sudah tidak sabaran ingin bertemu dengan Nona Cantik miliknya.
Dania terkekeh pelan ketika melihat bulu-bulu halus yang tumbuh tak beraturan di bawah perut Daniel. "Mas, rambutnya terlalu subur. Aku bantu bersihin, ya? Soalnya gak enak dilihatnya!" ucap Dania tiba-tiba.
Gadis itu berdiri di hadapan Daniel kemudian melepaskan lingerie tipis yang menutupi tubuh polosnya itu. "Coba lihatlah, Nona-ku! Cantik, bukan? Dia sudah mulus karena para therapist itu sudah membersihkannya untukku," sambung Dania sembari memutarkan tubuh indahnya di hadapan Daniel.
Daniel tidak dapat berkata apa-apa selain menatap gadis itu tanpa berkedip sambil menelan salivanya.
"Boleh, ya?" ucap Dania sekali lagi, sambil mengedipkan matanya.
Daniel lagi-lagi tidak menjawab. Lelaki itu hanya mengangguk dan membiarkan Dania melakukan apapun yang dia inginkan. Dania berjalan menuju meja riasnya untuk mengambil sebuah pinset. Sementara mata Daniel, terus saja mengikuti tubuh polos itu tanpa bisa berkedip sedikitpun.
"Aku cabutin, ya!" Dania begitu semangat menghampiri Daniel sambil menenteng pinset tersebut.
"Tapi pelan-pelan ya, Sayang. Sakit soalnya," sahut Daniel.
"Ok!"
__ADS_1
Dania mendorong pelan tubuh Daniel hingga lelaki itu terbaring di atas tempat tidur empuk mereka. Sebelum mencabuti rumput liat yang tumbuh tak beraturan itu, Dania memberikan beberapa ciuman hangat ke tubuh Daniel yang saat itu terlihat begitu pasrah.
Ciuman pertamanya jatuh di leher jenjang lelaki itu dan meninggalkan noda lipstik berwarna merah berbentuk bibir. Kemudian turun ke dada lelaki itu dan meninggalkan noda yang sama.
Daniel memejamkan matanya, menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Dania. Bahkan terdengar sebuah desaahan keluar dari bibir seksi milik lelaki itu. "Akhhh ...."
Entah sudah berapa banyak noda lipstik berwarna merah merona itu menempel hampir di sekujur tubuh Daniel yang putih mulus tersebut. Gadis itu tersenyum puas karena kulit mulus itu sudah penuh dengan warna merah. Sekarang tiba saatnya untuk Dania mencabuti rerumputan yang tumbuh liar di sekitar junior.
"Tahan sedikit ya, Sayang! Sakitnya seperti digigit semut aja, kok."
"Hhh, ya. Yang cepat! Biar aku bisa mengeksekusi Nona-mu yang cantik itu," sahut Daniel.
Di saat Daniel sedang asik mengoceh, Dania berhasil mencabut salah satu dari banyaknya bulu yang menempel di bagian juniornya Daniel. Hal itu sontak saja membuat Daniel berteriak histeris.
"Maaf!" ucap Dania.
Namun, bukannya berhenti. Gadis itu malah semakin bersemangat melanjutkan aktivitas tidak biasanya tersebut. Mencabuti bulu-bulu berwarna hitam pekat itu tanpa peduli bagaimana reaksi Daniel.
"Aww!"
"Aww!"
__ADS_1
"Aww!"
Hingga akhirnya bulu-bulu berwarna hitam pekat itu pun dibabat habis oleh Dania dan kulit di sekitar junior lelaki itu tampak mulus sama seperti miliknya.
"Sudah selesai! Sekarang kita sama, Sayang!" pekik Dania sambil mengelus Nona Cantik-nya dan menyamakannya dengan daerah junior milik Daniel.
Daniel menyeringai. "Baguslah!"
Daniel sembari bangkit dari posisinya kemudian menarik tubuh Dania dan merebahkannya. Ia kembali mengungkung Dania sama seperti sebelumnya. "Sekarang, apakah aku bisa memulainya?"
Dania mengangguk pelan. "Ya!"
Setelah mendapatkan izin dari Sang Pemilik tubuh, Daniel pun segera memulai pemanasan. Hal pertama yang ingin ia nikmati adalah bibir merah merona tersebut sambil memainkan kedua bulatan kenyal milik Dania.
Dania sempat mendorong pelan tangan Daniel dari area bulatannya karena saat itu ia merasa geli. Namun, beberapa saat setelahnya, Dania pun merasakan kenikmatan yang tidak pernah ia bayangkan sebelumnya. Ia malah menuntun tangan Daniel untuk melakukan yang lebih liar lagi di sana.
Daniel menyeringai. Setelah puas menikmati bibir merah yang terasa seperti buah strawberry tersebut, kini bibir nakalnya mulai menelusuri setiap centi demi centi tubuh Dania. Leher jenjangnya, dadanya, hingga akhirnya bibir itu menempel pada puncak bulatan kenyal milik gadis itu.
Daniel mulai memainkan lidahnya di puncak bulatan kenyal berwarna coklat kemerahan tersebut. Seperti sebuah iklan terkenal di televisi, dipelintir ... dijilat ... kemudian digigit sedikit.
"Akhh!" Akhirnya keluar sebuah desaahan dari bibir gadis itu. Padahal sebelumnya ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengeluarkan suara-suara aneh ketika melakukan hal itu bersama suaminya tersebut.
__ADS_1
Namun, ternyata Dania tidak mampu menahannya. Suara itu tiba-tiba saja lolos dari bibirnya tanpa bisa ia tahan.
...***...