
"Tolong! Siapa saja, tolong aku!" teriak Dania sambil berlari-lari melewati ruangan demi ruangan yang ada di rumah megah tersebut.
"Ada apa, Nona?!" pekik salah seorang pelayan yang datang menghampiri Dania setelah mendengar teriakkan gadis itu.
"Tolong, Tuan Daniel mendadak jatuh pingsan di kamar! Aku tidak tahu harus bagaimana, tolong aku!" ucap Dania dengan wajah panik.
"Baik, Nona. Nona kembalilah ke kamar. Nanti aku akan segera menyusul bersama yang lainnya," jawab Pelayan itu, tidak kalah paniknya.
"Ya, jangan lama-lama! Aku takut terjadi sesuatu kepada Tuan Daniel," jawab Dania sebelum ia pergi meninggalkan ruangan itu dan kembali ke kamarnya.
Sepeninggal Dania, Pelayan itu kembali berlari mencari pertolongan kepada yang lainnya. Ia berlari ke halaman depan dan beruntungnya ia masih bisa menemui Roy yang ternyata masih berada di sana sambil mengobrol bersama para penjaga di kediaman mewah Daniel.
"Tuan Roy, beruntung Anda masih berada di sini," ucap Pelayan itu sambil mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal.
"Kamu kenapa, Bi?" tanya Roy yang merasa heran melihat Pelayan itu.
"Tuan Daniel, Tuan! Tuan Daniel pingsan," ucap Pelayan itu dengan mata membesar.
"Apa? Bagaimana bisa?!" pekik Roy yang segera berlari menuju kamar utama, di mana Daniel masih tidak sadarkan diri di dalam sana.
"Panggil Dokter, segera!" titah Roy kepada Pelayan yang mengikutinya dengan tergopoh-gopoh dari belakang.
"Ba-baik, Tuan!" Pelayan itu segera berlari ke arah lain dan mencoba menghubungi Dokter yang biasa menangani Tuan Daniel kalau sedang tidak enak badan.
__ADS_1
Setibanya di depan kamar utama, Roy langsung mengetuk pintu tersebut tanpa basa-basi lagi. "Nona Dania! Ini saya, Roy!"
"Roy!" Dania yang sedang duduk di samping Daniel pun segera berlari ke arah pintu dan membuka pintu tersebut untuk Roy.
"Apa yang terjadi pada Tuan Daniel? Bagaimana bisa ia jatuh pingsan?" tanya Roy sembari menyerobot masuk dan segera menghampiri tempat tidur mewah tersebut. Seumur-umur, ini pertama kalinya ia menemukan lelaki pemarah itu jatuh pingsan. Bahkan ketika masih kecil, saat lelaki itu selalu menjadi bulan-bulanan Sang Ayah, sekali pun Daniel tidak pernah jatuh pingsan.
Dania tampak bingung. Ia tidak tahu harus menjawab apa. Tidak mungkin ia berkata jujur kepada Roy bahwa Daniel jatuh pingsan akibat malam pertama yang begitu diidamkan oleh lelaki itu gagal karena Dania kedatangan tamu tak diundang.
"Ehm, itu ... sebenarnya Tuan Daniel ...." Dania kembali terdiam sambil menggulung-gulung kimono tidur yang ia kenakan untuk menutupi lingerie seksinya.
"Sebenarnya kenapa, Nona?" tanya Roy penuh selidik menatap Dania. Sementara tangannya masih meraba-raba kening Daniel yang suhu badannya masih terasa normal.
"Aduh, bagaimana cara mengatakannya!" gumam Dania dengan sangat pelan, hingga Roy sendiri tidak dapat mendengar apa yang ia ucapkan saat itu.
"Nona?" panggil Roy lagi.
Roy tidak bisa menyembunyikan tawanya. Lelaki itu menundukkan kepala menghadap lantai. Namun, pundaknya terlihat turun naik. Terlihat jelas bahwa saat itu ia sedang menertawakan nasib malang Daniel yang gagal menikmati malam pertamanya bersama Dania.
"Bagaimana bisa gagal, Nona Dania? Maaf, jika pertanyaanku lancang," lanjut Roy, yang kini mengangkat kepala dan mencoba menahan tawanya.
"Tamu bulananku tiba-tiba datang, Mas Roy. Tuan Daniel sepertinya sangat kecewa hingga akhirnya ia jatuh pingsan. Sekarang, bagaimana nasibku? Aku yakin, dia pasti akan menghukumku setelah ini," tutur Dania dengan wajah cemas.
Roy tersenyum. "Tidak akan, Nona Dania. Tuan Daniel pasti bisa memakluminya," jawab Roy dengan sangat yakin.
__ADS_1
"Tapi aku tidak yakin," lirih Dania lagi.
Tidak berselang lama, seorang Pelayan tiba di kamar utama bersama Dokter pribadi Daniel. Dokter segera menghampiri tempat tidur Daniel dan memeriksa keadaannya.
"Bagaimana, Dok?" tanya Roy yang sengaja berbasa-basi. Padahal ia sudah tahu bahwa Big Bossnya itu baik-baik saja.
"Ehm, sebenarnya Tuan Daniel baik-baik saja. Mungkin dia hanya kelelahan," sahut Dokter tersebut.
Roy ingin tertawa mendengar penuturan Dokter tersebut. "Bukan kelelahan, Dok! Melainkan syok karena malam pertamanya bersama Nona Dania harus gagal akibat kedatangan tamu tak diundang," batin Roy.
Tidak lama setelah Dokter memeriksa keadaannya, Daniel pun sadar. Lelaki itu terlihat masih syok. Ia bahkan menekuk wajahnya ketika bersitatap dengan gadis itu. Dania bergegas menghampiri Daniel dan duduk di sampingnya.
"Maafkan aku, Tuan! Tapi, ini bukanlah keinginanku," lirih Dania dengan sangat pelan.
"Heh, tapi kamu tetap harus bertanggung jawab!" sahutnya sambil mendengus kesal.
Dania menautkan kedua alisnya. "Ya, baiklah. Aku akan bertanggung jawab. Tapi, bagaimana caranya, Tuan?" lirih Dania lagi.
Daniel menyeringai menatap gadis itu. "Serius, kamu ingin bertanggung jawab?" tanyanya.
Dania mengangguk dengan cepat. "Ya, Tuan!"
"Baiklah kalau begitu. Tunggu hingga Dokter pulang," sahut Daniel sambil tersenyum puas.
__ADS_1
Dania pun pasrah. Hukuman apapun yang akan diberikan oleh Daniel kepadanya, pasti akan ia terima dengan ikhlas.
...***...