
Karena rasa penasaran yang amat sangat, Bu Ida pun segera memeriksakan kandungan Adelia ke Dokter Spesialis Kandungan dan ternyata hasilnya pun sama. Adelia positif hamil. Bahkan hasil pemeriksaan di tempat praktek Dokter Kandungan tersebut tidak bisa diragukan lagi karena lengkap dengan hasil pemeriksaan USG.
Bu Ida tidak bisa menahan kekesalan dan kesedihannya. Wanita paruh baya itu menangis lirih di dalam ruangan Dokter tersebut.
"Ya ampun, Adelia! Kamu benar-benar memalukan," gumam Bu Ida sambil menyeka air matanya.
"Sudahlah, Bu. Sebaiknya kita pulang dan bicarakan masalah ini di rumah saja! Apa Ibu tidak malu sama Bu Dokter?!" kesal Adelia dengan setengah berbisik.
Adelia meraih tangan Bu Ida kemudian membantunya berdiri. Setelah membayar jasa Dokter tersebut, Adelia pun segera berpamitan kepadanya. Kini ia menuntun Bu Ida yang masih terisak keluar dari ruangan itu.
"Sudahlah, Bu! Apa Ibu tidak malu dilihat banyak orang?" ucap Adelia yang semakin kesal.
"Yang seharusnya malu itu kamu, Adelia! Bagaimana bisa kamu hamil tanpa seorang suami." Bu Ida menepis tangan Adelia yang memeganginya dengan kasar.
"Ini kamu bilang memalukan? Nanti lihat saja bagaimana reaksi orang-orang setelah tahu seorang Adelia hamil di luar nikah! Kamu akan tahu bagaimana rasa malu yang sesungguhnya, Adelia! Ketika namamu mulai diperbincangkan oleh orang-orang di sekitarmu dan juga di jagat maya," sambung Bu Ida sambil melengos kesal.
__ADS_1
Bu Ida masuk ke dalam mobil taksi yang sejak tadi begitu sabar menunggu mereka selesai melakukan pemeriksaan. Bu Ida duduk di jok bagian belakang sambil memalingkan wajahnya ke arah samping. Sementara Adelia segera menyusul dan duduk di samping Ibunya.
Tidak ada perbincangan di antara kedua wanita beda generasi tersebut. Bu Ida sudah terlanjur kesal dan suasana hatinya saat itu benar-benar buruk. Sedangkan Adelia tidak ingin membahas masalah itu lebih jauh lagi karena ia pun sedang kesal. Kesal karena Samuel berhasil meninggalkan jejak di rahimnya.
Tidak berselang lama, Bu Ida dan Adelia pun tiba di kediaman mereka. Setelah membayar jasa taksi tersebut, Adelia segera masuk ke dalam rumah tersebut.
Sembari melangkah masuk, Adelia memperhatikan Bu Ida yang sudah melangkahkan kakinya memasuki ruangan itu terlebih dahulu. Bu Ida menghentikan langkahnya di ruang televisi kemudian menjatuhkan dirinya di sofa dengan wajah yang masih kusut.
"Heh, Adelia! Sini, Ibu masih belum selesai bicara denganmu!" panggil Bu Ida ketika Adelia melewatinya.
"Adelia!" bentak Bu Ida.
Bu Ida segera bangkit dari posisi duduknya kemudian menyusul Adelia. Setelah mereka berada di jarak yang sangat dekat, Bu Ida meraih tangan Adelia dengan kasar dan membawanya ke sofa yang ada di ruang televisi tersebut.
"Ibu, lepaskan! Tanganku sakit," keluh Adelia sembari mengelus pergelangan yang sakit akibat cengkeraman Bu Ida.
__ADS_1
"Sakit! Sakit! Kamu tahu, hati Ibu jauh lebih sakit dari apa yang kamu rasakan di pergelangan tanganmu itu! Sekarang jawab pertanyaan Ibu, anak siapa yang sedang kamu kandung itu, Adelia! Jangan bilang itu anaknya Tuan Daniel karena rasanya tidak mungkin," kesal Bu Ida dengan wajah memerah menatap Adelia.
Adelia masih mengelus pergelangan tangannya yang tampak memerah dan terasa sakit. Ia memasang wajah malas setelah mendengar pertanyaan Bu Ida barusan. Namun, sayangnya Adelia enggan mengatakan yang sebenarnya kepada Bu Ida tentang siapa Ayah biologis dari janin yang saat ini ada di dalam kandungannya tersebut.
"Adelia! Kami tidak tuli, 'kan! Sekarang jawab pertanyaan Ibu," teriak Bu Ida yang sudah tidak bisa menahan rasa kesalnya. Ia meraih kedua pundak Adelia kemudian mengoncang-goncangkan tubuh anak perempuannya itu dengan kasar.
"Jawab pertanyaan Ibu, Adelia! Siapa lelaki yang sudah menghamilimu!"
"Ah, lepaskan! Baiklah, akan aku katakan siapa lelaki itu. Pasang telinga Ibu baik-baik karena aku tidak ingin ada pertanyaan lainnya lagi!" kesal Adelia.
Bu Ida mendengus kesal. Ia menyilangkan tangannya ke dada dengan tatapan lurus ke depan. Menatap Adelia tanpa berkedip sedikitpun.
"Namanya Samuel. Dia teman seprofesiku. Dia pula lah yang selama ini menemaniku ketika dalam pelarian. Sekarang Ibu puas?!" Adelia melenggang pergi kemudian melewati tubuh Bu Ida yang masih terdiam di ruangan itu dengan wajah kusutnya.
...***...
__ADS_1