
Sekarang Dania sudah kembali ke ruangannya. Di mana keluarga kecilnya sedang berkumpul di sana. Bu Riska, Om Tommy dan Selly sedang berebut memperhatikan bayi tampan yang kini sedang tertidur pulas di keranjang bayi.
Masih seperti sebelumnya, Selly terus merekam momen-momen membahagiakan itu dengan kamera ponselnya. Tidak lupa, ia memotret bayi mungil nan tampan itu kemudian membagikannya ke berbagai akun sosmed miliknya.
Wajah bayi mungil nan tampan itu sengaja ia tutupi agar orang-orang yang melihat foto tersebut, penasaran dengan wajahnya.
Hingga akhirnya, status Selly terbaca oleh Erick. Lelaki itu tersenyum tipis melihat foto bayi mungil yang di-upload oleh Selly. Ia yakin sekali bahwa bayi mungil itu adalah bayi mungilnya Dania.
Ting!
Sebuah notifikasi pesan chat masuk ke dalam ponsel milik Selly. Selly segera membuka pesan chat tersebut dan ia terlihat begitu bahagia setelah tahu bahwa pesan chat itu dari Erick, sang lelaki pujaan hati.
[Bayi siapa itu? Bayi Dania, ya?] Tulis Erick di pesan chat tersebut.
[Coba Kak Erick tebak, bayi siapakah itu?] Balas Selly.
[Aku sangat yakin bahwa bayi mungil itu adalah bayinya Dania dan Daniel. Tapi, kenapa wajahnya tidak diperlihatkan? Aku 'kan penasaran.] Tulis Erick lagi.
[Rahasia! Jika Kakak penasaran, Kakak bisa datang ke sini dan lihat sendiri. Sekalian jenguk Dania.]
__ADS_1
[Menjenguk Dania? Apa kamu ingin aku mati berdiri karena diserang oleh para bodyguard-nya Tuan Daniel?]
Selly terkekeh pelan membaca chat balasan dari Erick.
[Ah, Kak Erick bisa saja. Jenguk aja, Kak. Tidak apa-apa, kok. Lagi pula Kakak 'kan sudah bisa move on dari Dania dan sekarang buktikan hal itu kepada Kak Daniel.]
Erick terdiam untuk beberapa saat setelah membaca chat dari Selly. Ia tersenyum tipis kemudian kembali mengetik balasan untuk gadis itu.
[Baiklah aku akan ke sana bersama teman-teman pengajar. Tapi serius 'kan tidak apa-apa?]
[Ya, Kak. Dijamin aman!]
"Terima kasih, Sayang. Karena sudah memberikan hadiah yang paling indah buatku," ucap Daniel sembari mengecup punggung tangan Dania.
"Sama-sama, Mas. Lagian tanpa kamu, mana bisa si Baby Boy muncul di rahimku," jawab Dania sambil terkekeh pelan.
"Baiklah, Sayang. Sebagai ucapan terima kasihku kepadamu, aku akan memberikan apapun yang kamu mau. Sekarang katakan padaku, kamu ingin minta apa dariku? Katakan saja, jangan sungkan," ucap Daniel sambil tersenyum lebar menatap Dania.
Dania mengerutkan alisnya sambil berpikir sejenak. "Aku minta buatkan gedung pencakar langit dalam waktu satu malam. Jika ayam berkokok, maka gedung itu harus sudah selesai. Bagaimana, ha? Apa kamu sanggup?"
__ADS_1
Daniel membuang napas kasar sambil memasang wajah malas. "Memangnya kita hidup di jaman Sangkuriang? Serius, Dania sayang. Kamu mau apa?"
Dania terkekeh pelan kemudian menggenggam erat tangan Daniel. "Aku memang punya permintaan, Mas Daniel. Namun, bukan perhiasan mahal, bukan tas dan pakaian bermerek, bukan pula rumah yang lebih megah dari yang kita miliki saat ini. Yang aku minta hanya satu, selalu jaga hatimu untuk kami. Untukku dan juga si kecil."
"Wah, kalau soal itu sudah pasti, Sayang. Hatiku tidak akan pernah tersentuh oleh siapapun lagi selain kalian," jawab Daniel dengan mantap.
"Walaupun nantinya aku akan menjadi gendut? Apa Mas Daniel tahu, jika seorang wanita sudah melahirkan dan dalam masa meng'ASI'hi, maka porsi makannya pun akan semakin banyak. Dia akan mudah lapar," jelas Dania.
"Ya, walaupun kamu menjadi gendut karena makannya semakin banyak. Aku akan tetap menjaga hatiku untukmu," jawabnya dengan wajah serius.
"Oh, aku meleleh ... tapi beneran ya, Mas. Jika nanti berat badanku naik, jangan pernah protes," ucap Dania sekali lagi.
"Iya, aku berjanji."
"Terima kasih!"
Dania pun meminta Daniel mendekat dan memeluk dirinya dengan erat.
...***...
__ADS_1