
Sementara itu di dalam kamar mandi.
Dania tampak kacau. Gadis itu duduk bersandar di dinding kamar mandi sambil memeluk kedua lututnya. Cairan bening yang tadi memenuhi mata indahnya, akhirnya merembes ke kedua pipinya.
"Tante Riska!" gumam Dania sembari menyandarkan kepada ke lututnya yang ia peluk.
"Kenapa aku begitu bodoh! Aku bahkan tidak ngeh ketika Selly menyebutkan namanya." Dania yang tidak dapat menahan kekesalannya, memukul kakinya dengan keras.
"Ibu ...," lirihnya. "Ternyata Ibu sudah punya keluarga baru dan melupakan aku. Ibu bahkan tidak mengenali wajahku," gumamnya dengan bibir bergetar.
"Apa Ibu tahu bagaimana cara Ayah dan Ibu Ida memperlakukanku? 14 tahun bukanlah waktu yang sebentar, Bu. Aku berjuang dengan keterbatasanku mencari keberadaanmu, tapi ternyata kamu sudah memiliki keluarga baru. Pantas saja selama ini Ibu tidak pernah berpikir untuk mencari tahu bagaimana kehidupanku. Ternyata Ibu sudah memiliki pengganti diriku," gumam Dania lagi.
Perasaan Dania hancur setelah mengetahui bahwa wanita yang begitu diagung-agungkan oleh Selly dan Daniel selama ini adalah Ibu kandungnya. Wanita yang selama ini ia cari-cari dengan segala keterbatasannya.
Dania bangkit dari posisinya. Ia berjalan menuju sebuah westafel dan bercermin di sebuah kaca yang menggantung di dindingnya.
"Aku kecewa, Bu. Selama ini aku pikir Ibu bernasib sama sepertiku, tapi ternyata aku salah. Salah besar! Sebenarnya tidak ada alasan untuk Ibu, untuk tidak mencari tahu bagaimana nasibku. Tapi ...." Dania terdiam sambil menyeka air matanya.
Ia meraih keran kemudian menyalakannya. Dania mencuci wajahnya beberapa kali hingga air matanya tersapu bersih. Namun, mata sembab itu tidak bisa membohongi bahwa gadis itu baru saja habis menangis.
__ADS_1
Di ruangan lain.
"Sebenarnya apa yang ingin Tante tanyakan kepadaku? Tanyakan saja, Tante. Jangan ragu-ragu," ucap Daniel ketika melihat Tante Riska yang tampak ragu-ragu mempertanyakan sesuatu yang mengganggu pikirannya saat itu.
Tante Riska menoleh kepada Om Tommy dan Selly. "Mas, bolehkah aku bicara empat mata bersama Daniel sebentar?"
Om Tommy tampak heran. Namun, ia tidak ingin mempermasalahkan hal itu. "Baiklah, Sayang." Om Tommy menghampiri Selly kemudian mengajaknya keluar dari ruangan itu. "Mari, Selly sayang. Ibumu ingin berbisnis tanpa sepengetahuan kita kayaknya," lanjutnya sambil tertawa pelan.
Selly pun menurut. Ia keluar dari ruangan itu sambil melambaikan tangannya kepada Tante Riska dan Daniel yang masih bersandar di sandaran tempat tidurnya.
Sepeninggal Om Tommy dan Selly, Tante Riska pun mulai membuka suaranya.
"Daniel, apakah Dania adik kandung dari Adelia?" tanya Tante Riska sambil menatap lekat kedua bola mata lelaki itu.
"Sebentar, Tante. Maafkan aku, karena selama ini aku tidak pernah mempertanyakan hal itu kepada Dania maupun Adelia sebelumnya. Tapi ...."
Daniel kembali berpikir dan mencoba mengingat nama Ayahnya Dania. Setelah beberapa detik berikutnya, ekspresi lelaki itu pun berubah. Matanya membulat sempurna dan ia pun tampak terkejut.
"Astaga, Tente. Suami apa aku ini! Aku bahkan baru sadar bahwa ternyata nama Ayah Dania dan Adelia berbeda. Ketika aku mengucap ijab kabul, nama wali yang mengikuti nama Dania adalah Pak Adi Kusuma. Sementara nama wali yang mengikuti nama Adelia adalah Pak Januardi Herman," pekiknya. "Berarti--"
__ADS_1
Belum habis daniel berkata, Tante Riska memotong ucapannya. "Adi Kusuma?!" pekik Tante Riska, tidak kalah terkejutnya.
Tubuh wanita itu melemah dan akhirnya ia tidak bisa mengendalikan emosinya. Wanita itu jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri. Melihat hal itu, Daniel pun panik. Ia berteriak memanggil-manggil Om Tommy serta pengawalnya.
"Om Tommy! Om Tommy! Pengawal! siapapun kemarilah!" teriaknya.
Mendengar teriakkan Daniel, Om Tommy pun bergegas masuk bersama beberapa pengawal serta Selly yang juga ikut panik.
"Riska! Astaga, kamu kenapa, Sayang!" pekik Om Tommy setelah melihat Istrinya yang tergolek tak berdaya di lantai, di bawah tempat tidur Daniel.
Om Tommy menghampiri Tante Riska dengan berlari kecil kemudian segera mengangkatnya dan membawanya keluar dari ruangan itu. Ternyata teriakan Daniel pun terdengar hingga ke telinga Dania. Gadis itu segera keluar dari kamar mandi dan menghampiri Daniel.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Kak? Kenapa Ibu bisa jatuh pingsan?" tanya Selly yang masih terlihat panik. Sementara Dania hanya diam dan mendengarkan percakapan antara Daniel dan Selly.
"Entahlah, Selly. Tiba-tiba saja Tante pingsan setelah mendengar nama Pak Adi Kusuma, Ayahnya Dania."
Kini mata Daniel tertuju pada Dania. Ia memperhatikan wajah sendu gadis itu kemudian meraih tangannya. "Apa kamu bisa menjelaskan ini, Dania sayang?"
Daniel yakin, Dania pasti tahu apa yang menyebabkan Tante Riska begitu syok dan akhirnya jatuh pingsan. Sejak tadi Daniel sudah curiga melihat ekspresi keduanya yang benar-benar tidak biasa.
__ADS_1
Selly pun ikut melirik ke arah gadis itu dan ia menunggu jawabannya.
...***...