
Setelah selesai memeriksa keadaan Daniel, Dokter pun pamit. Sementara Dania mengantarkan Dokter hingga pintu utama sebagai ungkapan terima kasih.
Sementara itu di dalam kamar utama.
Roy masih tampak mengulum senyum sambil sesekali melirik Daniel yang kini bersandar di sandaran tempat tidur. Wajah lelaki pemarah itu tampak menekuk dan ia terus saja memijit kepalanya yang terasa sakit.
Ternyata Daniel menyadari bahwa asistennya itu tengah menertawakan dirinya. Ia kesal dan segera menegurnya. "Heh, Roy! Kamu menertawakan aku, ya!" ketus Daniel.
"Ehm, mana mungkin saya berani, Tuan." Roy membungkuk hormat sembari tersenyum hangat menatap lelaki pemarah itu.
"Awas, ya! Jangan sampai cerita ini tembus ke telinga siapapun. Jika ada orang lain yang tahu, itu artinya kamu adalah orang pertama yang menjadi terdakwa," kesal Daniel sambil membuang muka.
Roy mengerti apa yang dimaksud oleh Tuannya itu. Ia pun kembali menganggukkan kepalanya. "Baik, Tuan."
"Ya, sudah. Sebaiknya kamu pulang. Aku ingin melakukan sesuatu bersama istriku," titah Daniel sambil mengibaskan-ngibaskan tangannya ke hadapan Roy.
"Siap, Tuan. Saya permisi dulu," sahut Roy yang kemudian membalikkan badannya dan segera pergi dari kamar tersebut.
Ketika Roy membuka pintu kamar tersebut ternyata ia berpapasan dengan Dania yang ingin masuk ke dalam kamarnya. Gadis itu tersenyum dan segera masuk. Sementara Roy bergegas keluar sembari menutup kembali pintu kamar tersebut.
Dania tampak ragu melangkahkan kakinya menghampiri Daniel. Ia takut lelaki itu marah kepadanya kemudian penyakit anehnya itu kembali kumat. Ternyata Daniel menyadari kehadiran Dania. Ia menatap gadis itu dengan alis yang saling bertaut.
__ADS_1
"Kenapa kamu masih berdiri di sana, Dania?"
Dania pun mempercepat langkahnya dan kini ia berdiri tepat di tepi ranjang dengan wajah cemas. Daniel menepuk ruang kosong di samping tubuhnya sembari meminta gadis itu untuk duduk di sana.
"Duduklah," titahnya.
"Baik," sahut Dania yang kini duduk di samping lelaki itu.
Daniel kembali menyeringai setelah melihat wajah cemas Dania. Ia tahu bahwa istri cantiknya itu tengah ketakutan kepadanya. "Masih ingat akan hukuman yang sedang menantimu, Dania sayang?"
Dania menganggukkan kepalanya pelan. "Ya, aku masih ingat. Sekarang apa yang harus aku lakukan, Tuan?" tanya Dania. Walaupun sebenarnya ia ragu dan takut, tetapi seperti janjinya. Ia akan tetap menjalankan hukumannya seperti yang diminta oleh Daniel.
"Ouhh, aku senang sekali punya istri penurut sepertimu!" ucap Daniel dengan gemas sembari mencubit pelan hidung Dania.
Mata polos Dania benar-benar ternodai. Ia membulatkan matanya dengan sempurna dan sepertinya ia tahu hukuman apa yang akan ia terima nantinya. Pasti berhubungan dengan benda yang sedang bergerak liar tersebut.
"Kamu tahu apa artinya ini?" tanya Daniel sambil mengerling nakal kepada Dania.
"A-apa, Tuan?" Tubuh Dania bergidik, sebenarnya ia belum siap untuk melihat benda itu secara nyata di depan matanya.
Daniel melepaskan celana boxernya dengan secepat kilat dan sekarang benda itu terlihat secara jelas dan nyata di depan mata kepala Dania. Dania sempat memejamkan matanya untuk sesaat dan kemudian membukanya lagi.
__ADS_1
Tatapan gadis itu kini tertuju pada benda berbentuk panjang dan besar dengan dihiasi rerumputan berwarna hitam pekat serta dua buah bola kecil yang menggantung di bawahnya. Benda itu nampak genit, terus bergerak-gerak dan seolah-olah meminta Dania untuk mengelusnya.
"Aku ingin kamu melakukannya secara manual dengan kedua tanganmu yang lembut itu. Bagaimana?" tanya Daniel lagi.
"Hmm, benar 'kan!" gumam Dania.
"Dania?"
"Hmm, ya! Baiklah, Tuan!" sahut Dania mantap walaupun sebenarnya hatinya belum mantap. "Ta-tapi, aku tidak punya pengalaman soal itu, Tuan. Bagaimana jika nanti aku melakukan kesalahan? Bagaimana jika nanti aku malah menyakitinya?" lanjut Dania dengan wajah cemas menatap Daniel.
"Tidak mungkin lah, aku yang akan menuntunmu nanti," jawab Daniel sambil tersenyum puas.
Dania pun menganggukkan kepala dan gadis itu pun mulai memberanikan dirinya untuk menghampiri benda tersebut. Sementara Daniel, lelaki itu membuka kakinya lebih lebar dan membiarkan Dania duduk tepat di hadapan benda yang paling menonjol tersebut.
Perlahan Dania mengulurkan tangannya dan mulai menyentuh benda kenyal itu untuk pertama kalinya. Begitu pula Daniel, lelaki itu tampak memejamkan matanya dan merasakan sentuhan lembut Dania untuk yang pertama kalinya.
"Agh!" Suara lenguhan keluar dari bibir Daniel ketika Dania menyentuh benda keramatnya. "Lakukan dengan lembut, ya!"
"Ba-baik, Tuan!" sahut Dania.
Daniel menggenggam tangan Dania yang menyentuh benda keramatnya kemudian menuntun tangan gadis itu untuk bergerak secara turun naik dengan ritme yang teratur. "Lakukan seperti ini, dengan lembut."
__ADS_1
...***...