Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 108


__ADS_3

Adelia masuk ke dalam kamar dan mengurung diri di sana setelah pertengkaran kecilnya bersama Bu Ida berakhir.


Adelia duduk di tepian tempat tidur sembari memukul-mukul perutnya. "Kenapa kamu hadir di dalam rahimku! Aku tidak mau, aku tidak mau kalau harus memiliki anak dari lelaki bajing*n itu!" umpatnya dengan kasar.


"Keluar kamu dari rahimku! Keluar kataku!" Adelia memukul perutnya lebih keras lagi hingga ia sendiri merasa kesakitan. Perutnya mendadak keram dan Adelia merasa sangat tidak nyaman saat itu.


Ia berbaring di atas tempat tidur dengan posisi miring dan akhirnya wanita itu pun terisak. Ia benar-benar menyesal. Menyesali perbuatan bodohnya selama ini. Ia rela meninggalkan Daniel dan ikut bersama lelaki itu dan sekarang ia sudah menuai hasil perbuatannya.


Sementara itu di ruang televisi.


Bu Ida yang begitu kecewa terhadap anak perempuannya itu, ternyata masih menyimpan rasa iba. Ia masih merasa kasihan akan kondisi Adelia saat ini. Bu Ida naik ke lantai dua dan menghampiri kamarnya.


Ceklek!


Ternyata pintu kamar Adelia tidak terkunci. Bu Ida membuka pintu kamar Adelia dan masuk ke dalam ruangan itu. Ketika Bu Ida mendekat, Adelia segera membalikkan tubuhnya ke arah tembok. Ia tidak ingin bertatap mata dengan Bu Ida untuk saat ini.

__ADS_1


Bu Ida duduk di tepian ranjang, tepatnya di samping tubuh Adelia yang saat ini berbaring dengan posisi membelakanginya. Ia mengelus puncak kepala anak kesayangannya itu dengan lembut dan penuh kasih sayang.


"Adelia, sekarang apa rencanamu? Tidak mungkin 'kan kita membiarkan anak ini lahir tanpa seorang Ayah?"


"Lalu?" Adelia menyahut pertanyaan Bu Ida tanpa berbalik sedikit pun.


"Ya kamu harus minta lelaki itu bertanggung jawab dong, Del! Masa kamu biarin dia bebas, sementara kamu menanggung semuanya di sini," kesal Bu Ida dengan wajah menekuk.


"Dia sedang mendekam di penjara, Bu. Memang apa yang bisa ia lakukan untukku? Menikahiku di dalam penjara dan akhirnya kami pun viral, begitu? Memalukan," jawab Adelia.


"Aku tidak mau menikah dengannya! Aku sudah terlanjur kesal."


"Heh! Saat ini saja bilangnya kesal. Dulu-dulu kamu kemana saja, Del? Kenapa tidak sejak dari dulu bilang kesal, sebelum kamu keenakan ngangkang bersama lelaki itu sampai kebablasan seperti ini," kesal Bu Ida.


"Ibu!" Adelia membalikkan badannya dan membalas tatapan Bu Ida.

__ADS_1


"Oh ya, Del. Ibu punya ide, bagaimana kalau kita minta pertanggung jawaban kepada Tuan Daniel. Bilang saja bahwa janin ini adalah miliknya. Siapa tahu dia percaya dan akhirnya ia bersedia menikahimu. Bagaimana?"


Adelia memutarkan bola matanya. "Ya ampun, Bu. Jangan bodoh! Apa Ibu pikir Daniel sebodoh itu kemudian mempercayai kata-kata Ibu? Dia bahkan tidak pernah menyentuhku sekali pun dan sekarang tiba-tiba aku datang kepadanya kemudian meminta pertanggung jawaban atas bayi ini. Yang benar saja! Yang ada nantinya dia mengamuk. Apa Ibu ingin diamuk oleh lelaki itu? Kalau aku 'sih ogah! Aku sudah tidak ingin berurusan dengannya lagi. Aku kapok," tutur Adelia.


"Kita coba saja, Adelia! Siapa tahu berhasil." Bu Ida mencoba meyakinkan Adelia.


"Ya, Ibu lakukan saja sendiri. Aku tidak mau ikut-ikutan. Aku takut," jawab Adelia.


"Hhh, dasar! Ya, sudah kalau begitu. Pikirkan saja sendiri bagaimana nasibmu dan bayi itu. Ibu sudah tidak mau ikut campur. Bikin sakit kepala saja!" Bu Ida bergegas keluar dari ruangan itu sambil terus menggerutu.


"Ya, aku akan memikirkan nasibku sendiri dan sebaiknya Ibu tidak usah ikut campur," kesal Adelia.


...***...


Maaf ya, Readers. Author mau kasih cerita Adelia dulu. Tapi, setelah bab ini kita kembali ke Dania sama Daniel yang lagi bahagia, kok. Biar jelas aja gitu kisah si Kodel-kodel ini πŸ€§πŸ€­πŸ™

__ADS_1


__ADS_2