Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 117


__ADS_3

Setibanya di Rumah Sakit, Adelia segera mendapatkan penanganan yang cepat dan tepat dari para tim medis. Sementara Bu Ida dan Pak Adi hanya bisa menunggu dengan cemas di luar ruangan.


"Ya, Tuhan! Semoga Adelia baik-baik saja," ucap Bu Ida dengan air mata yang bercucuran.


Sementara Bu Ida terus berdoa, mendoakan keselamatan untuk putri kesayangannya, Pak Adi malah terlihat asik dengan ponselnya. Lelaki paruh baya itu mencoba menghubungi nomor ponsel milik Dania yang sejak tadi sangat sulit dihubungi.


Ya, karena saat itu acara syukuran di kediaman Daniel masih berlangsung. Dania lebih memilih berkumpul dan bercengkrama bersama keluarga, kerabat serta teman-temannya dan meninggalkan ponselnya di dalam kamar.


"Ayolah, Dania! Angkat," keluh Pak Adi, masih memegang benda pipih itu di samping telinganya.


"Kenapa, Yah? Apa Dania menolak panggilan darimu?" tanya Bu Ida. Ia tidak sengaja mendengar keluhan yang keluar dari mulut suaminya itu.


"Bukan menolak, tetapi tidak di angkat!" jawab Pak Adi.


Bu Ida tersenyum sinis. "Heh, apa bedanya?"


"Ya, bedalah, Bu! Bagaimana 'sih Ibu ini," sahut Pak Adi


"Sekarang kamu lihat sendiri 'kan bagaimana cara putri kesayanganmu itu berterima kasih kepada kita yang selama ini sudah susah payah membesarkannya. Mengangkat panggilan darimu saja ia tidak sudi," kesal Bu Ida.


"Apaan sih, Bu. Apa Ibu sudah lupa bahwa di kediaman Tuan Daniel ada acara syukuran? Mungkin saja 'kan Dania masih sibuk dengan acara tersebut hingga ia tidak memperhatikan ponsel miliknya," tutur Pak Adi.

__ADS_1


"Heh, alasan. Ya, sudah kalau begitu. Kenapa Ayah tidak mencoba menghubungi nomor ponselnya Tuan Daniel, atau Tuan Roy saja? Siapa tahu bisa lebih cepat. Lagi pula kita di sini hanya ingin meminjam uang kepada mereka, Yah, bukan meminta. Nanti kalau kita sudah punya uang, kita bisa menggantinya," jelas Bu Ida.


"Iya, iya, baiklah."


Seperti biasa, Pak Adi pun mengalah. Ia kembali mengikuti perintah Bu Ida untuk menghubungi nomor ponsel Daniel. Pak Adi mencari nama Daniel di antara banyaknya daftar kontak yang berjejer di ponsel tersebut. Hingga akhirnya Pak Adi menemukan nomor ponsel lelaki itu dan segera menghubunginya.


Namun, hal itu terjadi lagi. Daniel pun tidak menerima panggilan dari Pak Adi. Pak Adi tidak ingin menyerah begitu saja. Ia terus mencoba menghubungi nomor ponsel Daniel hingga ia merasa bosan sendiri karena panggilannya masih tidak di angkat oleh lelaki itu.


"Ah, sebenarnya mereka kenapa?" celetuk Pak Adi dengan wajah kesal.


"Kenapa? Tidak diangkat lagi?" tanya Bi Ida dengan alis berkerut.


Namun, kali ini Pak Adi tidak ingin menjawab pertanyaan dari Bu Ida. Ia tidak ingin mendengar ocehan wanita bawel itu lebih panjang lagi. Bisa-bisa kali ini panjangnya melebihi rel kereta api.


"Ya, Pak Adi?"


"Ah, akhirnya." Pak Adi mengelus dada sambil tersenyum lega karena panggilannya diterima oleh Roy.


"Begini, Tuan Roy. Sebenarnya saya ingin bicara sama Tuan Daniel dan saya harap Anda bersedia memberikan saya waktu untuk bicara dengannya," tutur Pak Adi.


Roy melirik ke arah Daniel yang sedang asik bercengkrama dengan istri serta keluarga kecilnya. "Sebentar, akan saya sampaikan permintaan Anda kepada Tuan Daniel," sahutnya.

__ADS_1


Roy pun bergegas menghampiri meja Daniel dan Dania. Ia berdiri di samping Daniel kemudian berbisik di samping telinganya. "Tuan, Pak Adi ingin bicara dengan Anda."


Daniel menautkan kedua alisnya heran. Ia heran kenapa Pak Adi ingin bicara kepadanya melalui ponsel karena sepengetahuan Daniel, Pak Adi masih berada di pesta tersebut.


"Pak Adi? Bukankah ia masih berada di sini?"


Roy menggelengkan kepalanya pelan. "Pak Adi sudah pulang tanpa permisi kepada Anda," jawab Roy.


Daniel menekuk wajahnya. Namun, ia tidak terlalu memikirkan masalah itu karena ia sendiri sudah hapal bagaimana sikap dan perilaku Pak Adi dan Bu Ida yang sebenarnya.


"Baiklah, sini."


Roy menyerahkan ponsel miliknya kepada Daniel. "Ya, Pak Adi?"


"Tuan Daniel, syukurlah! Mohon maaf sebelumnya, jika panggilan saya kali ini mengganggu waktu dan acara Anda. Hari ini saya terpaksa pulang cepat karena Adelia mengalami sebuah insiden yang tidak terduga. Ia mengalami pendarahan hebat dan sekarang kami sedang berada di Rumah Sakit. Kami butuh kemurahan hati Anda, Tuan Daniel. Kami butuh uang untuk membayar biaya Rumah Sakit dan sebagainya. Kami tidak meminta, kami hanya meminjam. Nanti jika kami sudah punya uang, kami berjanji akan segera menggantinya," lirih Pak Adi.


Raut wajah Daniel masih tampak datar. "Bicarakan hal itu kepada Dania," jawabnya.


Daniel segera menyerahkan ponsel tersebut kepada Dania. Walaupun bingung, Dania tetap menyambutnya kemudian mendengarkan penjelasan dari Pak Adi. Setelah beberapa saat, Dania pun menatap Daniel dengan tatapan sendu.


"Ya, ya! Aku mengerti. Tidak usah pasang wajah seperti itu di hadapanku," ucap Daniel tanpa mendengarkan penjelasan Dania terlebih dahulu.

__ADS_1


...***...


__ADS_2