Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 94


__ADS_3

"Kita kemana sih, Mas?" Dania memperhatikan jalan dan jalan yang mereka lalui sekarang bukanlah jalan menuju kediaman mereka.


"Ke suatu tempat di mana istriku yang baik hati ini diterima kehadirannya," jawab Daniel sembari membawa tubuh Dania ke dalam pelukannya.


"Apaan, sih?" Dania tersenyum kemudian membalas pelukan lelaki itu.


Tidak berselang lama, mobil yang ditumpangi oleh Dania dan Daniel pun berhenti tepat di depan sebuah rumah mewah. Dania membulatkan matanya karena ia mengenali tempat itu.


Daniel membuka pintu mobil kemudian mengulurkan tangannya kepada Dania yang masih duduk di dalam.


"Mari," ucap Daniel sambil tersenyum manis.


"Terima kasih," jawab Dania sembari menyambut uluran tangan Daniel.


Baru saja Dania menginjakkan kakinya di halaman nan luas itu, tiba-tiba pintu rumah megah itu terbuka dan tampaklah sosok wanita cantik yang kini tengah berlari ke arahnya dan di belakang wanita itu tampak Sang Suami mengikutinya dari belakang.


"Dania sayang, akhirnya kalian datang juga! Ibu sudah tidak sabar menunggumu kedatanganmu sejak tadi," ucap Bu Riska dengan sangat antusias menyambut kedatangan Dania.

__ADS_1


"Ibu." Dania mengulurkan tangannya kemudian memeluk tubuh Bu Riska dengan erat.


"Sayang. Kamu tahu, saat Daniel bilang ingin mengajakmu ke sini, Ibu dan Selly langsung memasak makanan kesukaanmu," ucap Bu Riska sembari melerai pelukan mereka kemudian menuntun Dania masuk ke dalam rumah megahnya.


"Memangnya Ibu masih ingat apa masakan kesukaanku?" Dania tersenyum sambil mendelik ke arah Bu Riska. Sementara Daniel dan Om Tommy berjalan di belakang mereka sambil berbincang ringan.


"Nasi goreng buatan Ibu. Benar 'kan? Apa mungkin sudah berubah?" Bu Riska tampak cemas.


Dania tersenyum kecil. "Benar. Aku pikir Ibu sudah lupa."


"Tidak mungkin Ibumu lupa, Nak Dania. Karena setiap tahun, di hari ulang tahunmu, Ibumu selalu memasak masakan yang sama. Nasi goreng favoritmu," sela Om Tommy yang berjalan tepat di belakang Bu Riska.


"Ya. Dan mau tidak mau, Selly dan Om Tommy harus memakan nasi goreng itu," sambung Daniel.


"Untung enak, Niel," jawab Om Tommy sambil terkekeh.


"Ah, tentu saja enak, lah. Masakan Ibu selalu enak. Benar 'kan, Bu." Dania kembali memeluk tubuh Bu Riska.

__ADS_1


Bu Riska hanya tertawa pelan dan terus melangkah menuntun Dania menuju ruang makan.


"Selamat datang, Dania!" seru Selly saat Dania dan yang lainnya tiba di ruang makan. Selly yang baru saja selesai menata aneka makanan dan minuman di meja makan nan berukuran besar tersebut, segera menghampiri Dania dan membawanya ke sebuah kursi khusus yang disediakan untuknya.


"Ya, ampun! Entah mengapa kok aku merasa seperti ratu ya di sini," ucap Dania sambil tertawa pelan melihat Selly dan Bu Riska yang tampak sibuk menyambut kedatangannya.


"Ya. Kamu akan menjadi Ratu di tempat yang tepat. Di mana orang-orang di tempat itu benar-benar menerima kehadiranmu dengan tangan dan hati terbuka, Dania. Sekarang bandingkan ketika kamu datang ke tempat, di mana kehadiranmu sama sekali tidak diinginkan. Beda 'kan?" Bisik Daniel di samping telinga Dania.


Dania menoleh ke arah Daniel dan menatapnya lekat. Sementara lelaki itu terus tersenyum sambil mengangkat kedua alisnya. Sekarang Dania mengerti kenapa Daniel mengajaknya ke tempat Om Tommy.


"Ya, sekarang aku mengerti," jawab Dania sambil mengangguk pelan.


"Bagus!" Daniel mengacak pelan puncak kepala Dania.


Bu Riska meraih piring milik Dania dan mengisinya dengan nasi goreng buatannya. Dania mencoba menolak, tetapi wanita itu bersikeras ingin melayani anak perempuannya itu.


"Tidak usah, Bu."

__ADS_1


"Tidak apa-apa, Nak. Biarkan Ibu yang melakukannya untukmu," jawab Bu Riska.


...***...


__ADS_2