
"Ayo, ayo, ayo!"
Terdengar suara riuh dan gelak tawa anak-anak di halaman yang luas tersebut. Ada dua kelompok anak yang sedang melakukan lomba tarik tambang. Bagian kelompok A, diketuai oleh Dania dan Selly. Sementara di kelompok B, diketuai oleh Yaya dan teman-temannya.
Setelah berjuang dengan keras, akhirnya perlombaan itu dimenangkan oleh kelompok A, di mana Dania dan Selly menjadi ketuanya. Sorak sorai pun menggema. Anak-anak begitu senang walaupun hadiah yang mereka dapatkan tidak seberapa.
Sementara tim pengajar dan para peserta didik tengah asik menikmati acara sederhana mereka, Daniel dan anak buahnya hanya menonton dari kejauhan. Di antara banyaknya kumpulan manusia di sana, hanya Dania lah yang paling menonjol di mata Daniel.
Ia terus memperhatikan Dania, tanpa berkedip sedikitpun. Wajahnya sedikit masam memperhatikan Dania yang tengah asik berdiri di halaman bersama Selly, padahal sinar matahari sudah mulai terik.
"Roy, tolong ambilkan aku payung! lihatlah istriku, gara-gara mementingkan lomba ini, dia rela panas-panasan," titah Daniel kepada Roy.
"Baik, Tuan." Roy pun bergegas pergi menuju mobilnya kemudian meraih sebuah payung yang memang selalu tersedia di sana.
"Ini, Tuan."
Roy menyerahkan payung tersebut kepada Daniel dan segera di sambut olehnya. Daniel membuka payung tersebut kemudian membawanya ke tengah lapangan, di mana Dania berada.
Saat itu Dania tengah asik menyemangati salah satu anak didiknya yang sedang mengikuti lomba balap karung melawan anak-anak dari kelas lain. Ia sadar bahwa cuaca saat itu semakin panas.
__ADS_1
Namun, secara tiba-tiba udara di sekitarnya menjadi lebih sejuk. Dania mendongak dan ia melihat sebuah payung besar tengah melindunginya dari sengatan sinar matahari. Ia segera berbalik dan menatap sosok tegap yang berdiri di belakangnya sambil memegang payung tersebut.
"Mas Daniel," ucap Dania sambil tersenyum lebar.
"Cieee ...." seru Selly dan yang lainnya. Menggoda Daniel dan Dania yang terlihat sangat romantis.
Wajah Dania merona menahan malu. Sementara ekspresi Daniel tampak datar, ia tidak peduli apapun kata orang-orang di sekitarnya. Yang penting saat itu, ia bisa melindungi istri kesayangannya dari sengatan sinar matahari.
Erick yang tadinya hanya fokus pada acara lomba, kini ikut memperhatikan pasangan itu. Untuk beberapa saat Erick ikut terpaku. Namun, beberapa detik berikutnya, sudut bibir lelaki itu mulai terangkat. Ia tersenyum tipis karena salut akan perlakuan Daniel yang sama sekali tidak pernah ia bayangkan sebelumnya.
"Ternyata lelaki menyebalkan itu bisa bersikap manis juga. Baguslah kalau begitu! Setidaknya, lelaki itu bisa menunjukkan bahwa dirinya masih berguna untuk Dania," gumam Erick.
"Kenapa kamu melihatku seperti itu, Erick? Apa suasana hari ini masih kurang panas untukmu? Jika ya, aku bisa membuat suasananya menjadi lebih panas lagi," goda Daniel kepada Erick yang masih memperhatikan kebersamaannya bersama Dania.
"Jangan banyak omong, Tuan Daniel. Mau bertarung denganku? Kita duel, satu lawan satu," sahut Erick sambil menyeringai.
"Jangan-jangan, aku tidak mau! Kumohon, jangan!" Dania ketakutan mendengar tantang Erick kepada suaminya.
Daniel terkekeh pelan sambil mengusap lembut kepala Dania yang tengah ketakutan tersebut. "Tenang saja, Dania sayang. Yakinlah, Suamimu ini pasti menang."
__ADS_1
"Bagus! Kalau begitu biarkan anak-anak yang akan memilih permainan buat kita. Bagaimana?" lanjut Erick.
"Hmm ... lomba apa saja, terserah. Aku yakin bahwa aku pasti bisa mengalahkanmu," gumam Daniel pelan. Namun, masih terdengar jelas di telinga Dania saat itu. Ya, Daniel sangat yakin bahwa ia bisa mengalahkan Erick di permainan tersebut, selama itu bukan balap motor.
Sontak saja Dania tergelak setelah mendengar perbincangan kedua lelaki itu. Ternyata apa yang ada dalam pikirannya berbanding terbalik dengan kenyataannya.
Dania yang tadinya hampir putus asa memikirkan duel maut yang akan dilakukan oleh kedua lelaki itu, akhirnya bisa sedikit lebih tenang setelah tahu bahwa mereka hanya berduel dalam sebuah lomba.
"Oh, Tuhan! Syukurlah. Aku hampir saja mati lemas memikirkan duel maut kalian," ucap Dania.
"Memangnya apa yang kamu pikirkan, Dania? Apa kamu berpikir bahwa aku akan beradu jotos dengan lelaki ini? Ih, ogah! Maaf, tapi aku tidak ingin mengotori tanganku," sahut Erick sambil terkekeh.
"Heh! Banyak omong! Sekarang tentukan saja lomba apa yang akan kita lakukan?!" kesal Daniel sambil menekuk wajahnya.
"Lomba balap karung!" Teriakkan anak-anak terdengar menggema di halaman yang cukup luas tersebut.
Erick tertawa pelan dan menatap Daniel dengan tatapan meremehkan. "Aku setuju dan buat kamu, Tuan Daniel, bersiap-siaplah untuk kalah!" ucap Erick dengan keyakinan penuh.
Ia sangat yakin bahwa ia pasti bisa mengalahkan Daniel yang notabenenya adalah anak manja dan tidak mungkin bisa menaklukkan permainan itu.
__ADS_1
"Jangan yakin dulu, Erick! Kamu belum tahu siapa aku," jawab Daniel tidak mau kalah.
...***...