
Hai, Gaeyyss!
Jangan lupa, ya! Cerita Melody Untuk Galaxy sudah launching. πππ
Author kasih tahu, ya. Di sequel Daniel dan Dania ini gak ada kisah sedih-sedih, gak ada nangis-nangis. Kisahnya ringan, simple dan tidak panjang, kok.
Buat yang bersedia mampir, Author ucapkan terima kasih banyak.
Dan satu lagi ... kalau ada kata-kata atau kalimat yang tidak berkenan di hati para Readers, Author minta maaf sedalam-dalamnya kepada kalian. π€§π€§π£
Ok, Gaeysss! Love you all πππ
Melody Indah, 22 tahun, seorang gadis yatim piatu yang bekerja sebagai penyanyi dangdut di sebuah kafe, Cafe Dut's. Wajahnya nan cantik dan suaranya yang enak di dengar, membuat ia menjadi bintang di kafe tersebut. Yang selalu ditunggu-tunggu oleh para fansnya.
Suatu hari Galaxy Putra Dirgantara, 27 tahun, mendapatkan undangan dari sahabatnya, sang pemilik kafe untuk ikut menikmati pertunjukan yang akan menampilkan aksi Melody.
Galaxy cukup terkejut setelah tahu bahwa bintang pertunjukan di malam itu adalah Melody. Gadis yang selama ini selalu menghindarinya karena satu alasan.
Pertemuan mereka saat itu, membuat Galaxy semakin penasaran pada sosok Melody yang berbeda dari wanita-wanita cantik yang selama ini berlomba untuk mendapatkan perhatiannya. Jika wanita lain bersaing memperebutkan hati Galaxy, beda dengan Melody. Gadis itu bahkan menyebut Galaxy sebagai pembawa sial untuknya dan selalu mencoba menghindari lelaki itu.
πππ
Cuplikan Bab 1
"Aduh, bagaimana ini? Apakah tidak bisa lebih cepat lagi, Pak?" tanya Melody cemas.
Pemilik bengkel tersebut menggelengkan kepalanya perlahan. "Tidak bisa, Neng. Ini bocornya bukan hanya satu lubang, tapi ada beberapa lubang di sana dan sini." Ia menunjuk beberapa lubang di ban motor milik Melody.
__ADS_1
"Waduh, gawat! Kalo kelamaan menunggu, bisa-bisa Pak Boss marah," gumam Melody sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Kalau boleh Bapak kasih saran. Ini motor ditinggal saja di sini. Nanti, besok pagi Neng bisa jemput motornya kembali."
"Baiklah kalau begitu. Aku titip motorku di sini Pak. Tolong jaga baik-baik, soalnya ini satu-satunya benda berharga yang aku miliki," ucap Melody sebelum meninggalkan bengkel tersebut.
"Siap, Neng."
Melody pun bergegas pergi, menuju tempat kerjanya. Beruntung letak bengkel itu tidak jauh dari Cafe Dut's, di mana Melody bekerja sebagai penyanyi dangdut di tempat itu.
"Ah, ada-ada saja," celetuk Melody sambil berlari kecil. Kedua tangan Melody memegang tali ransel yang ada di pundak kanan dan kirinya agar tidak jatuh ketika ia ajak berlari.
Dari posisinya saat ini, Melody sudah bisa melihat bangunan megah bertuliskan Cafe Dut's tersebut. Hanya tinggal puluhan meter lagi, ia pun akan segera tiba di sana.
Di sisi lain.
"Tuh, 'kan! Mommy bilang juga apa, Gala. Sebaiknya kamu itu diantar jemput saja, tapi kamu malah ngeyel. Sekarang terbukti 'kan ucapan Mommy?" celetuk Dania dengan wajah menekuk di seberang telepon.
"Iya, Mom. Iya!" jawab Galaxy sambil tersenyum tipis.
"Baiklah, sekarang kamu di mana? Biar Mommy ke depan dan meminta Pak Memet agar segera menjemputmu."
Galaxy memperhatikan sekelilingnya. Sementara tangan lelaki itu masih memegang benda pipih tersebut di samping telinganya.
"Aku menunggu di depan sebuah kafe yang bernama Cafe Dut's. Katakan pada Pak Memet untuk secepatnya menjemputku di sini ya, Mom."
"Cafe Dut's? Oh, ok-ok. Tunggulah beberapa menit lagi."
Sementara Dania memerintahkan pak Memet untuk segera menjemputnya, Gala masih menunggu di tempat itu dengan sabar. Ia berdiri tak jauh dari sebuah kafe yang bernama Cafe Dut's tersebut sambil memainkan ponselnya.
__ADS_1
Namun tiba-tiba ....
Brugkh!
Gdubrakk!
"Aw!"
Galaxy merasa ada seseorang yang sedang menabrak tubuhnya. Setelah itu terdengar lagi suara seseorang jatuh ke tanah sambil memekik kesakitan. Sama sekali tak terjadi apa-apa pada Galaxy. Hanya saja tubuh kekarnya itu bergeser beberapa centi dari posisinya semula.
Galaxy melirik seseorang yang tadi jatuh dan memekik kesakitan di bawah sana. Seorang gadis cantik dengan penampilan yang sangat sederhana. Gadis itu menatap Galaxy dengan penuh rasa kesal. Ia bangkit dari posisinya sambil menggerutu.
"Hei, Tuan! Jalanan ini bukan punya nenek moyang Anda, sehingga Anda tidak bisa berdiri seenak di tengah jalan seperti itu," kesal gadis itu dengan mata melotot.
Galaxy menoleh kanan dan kiri. Tak ada sesiapapun di sana. Hanya dia dan gadis itu. Memang ada beberapa lagi di belakangnya. Namun, jaraknya cukup jauh dan tidak mungkin gadis itu bicara pada yang lain.
"Kamu bicara padaku?" tanya Galaxy dengan alis yang saling bertaut.
Galaxy menepuk jidatnya. "Ya, ampun! Ternyata Anda cakep-cakep oon, ya! Ya, tentu saja saya bicara sama Anda. Trus Anda pikir saya bicara sama mahkluk tak kasat mata begitu?"
Galaxy tak menampakkan ekspresi apapun di wajahnya. Ia menampakkan telapak tangannya ke hadapan gadis itu sembari membuang muka.
Melody semakin kesal saja. Bukannya digubris, lelaki itu bahkan sama sekali tidak peduli. "Hhh, dasar lelaki aneh!"
Karena tidak ingin berdebat lebih jauh lagi, akhirnya Melody mengalah dan segera masuk ke dalam kafe tersebut.
"Yang waras mengalah!" gumamnya.
...***...
__ADS_1