
Beberapa hari kemudian.
"Silakan masuk, Tuan." Pak Sopir pribadi Daniel membukakan pintu mobil mewah untuknya dan juga Dania yang sejak tadi terus memeluk lengannya dengan erat seolah tidak ingin lepas sedikit pun.
"Terima kasih." Daniel mempersilakan Dania masuk terlebih dahulu ke dalam mobil tersebut kemudian baru ia menyusul dan duduk di samping gadis itu.
Setelah Daniel duduk, Dania kembali meraih tangan Daniel dan memeluknya erat sama seperti sebelumnya. Melihat gelagat aneh Sang Istri, Daniel pun kebingungan dan bertanya kepadanya.
"Dania sayang, kamu baik-baik saja, 'kan?"
Dania yang sedang asik menyandarkan kepalanya di pundak lelaki itu segera menoleh. "Aku baik-baik saja, kok," sahut Dania sambil tersenyum hangat.
Namun, senyuman itu mendadak sirna dan wajah cantiknya terlihat sendu. "Ehm, sebenarnya ...." Dania menghentikan ucapannya.
"Sebenarnya, apa?" Daniel tampak bingung.
"Ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiranku. Jika aku berkata jujur, Mas janji tidak akan marah, ya!" ucap Dania sambil memelas.
Daniel tersenyum tipis kemudian meraih tubuh Dania dan membawa gadis itu ke dalam pelukannya. "Baiklah, aku berjanji tidak akan marah. Sekarang katakan, apa yang sedang mengganggu pikiranmu," sahut Daniel.
"Janji?" Dania mengacungkan jari kelingkingnya ke hadapan Daniel dan lelaki itu pun segera menautkan jari kelingkingnya ke jari mungil istrinya itu.
"Ya, aku janji."
Dania menghela napas panjang sebelum ia memulai ucapannya. "Bagaimana jika suatu hari nanti Kak Adelia kembali kemudian meminta maaf kepadamu? Apakah kamu bersedia memaafkannya dan menerimanya kembali?" tanya Dania dengan wajah cemas menatap Daniel.
__ADS_1
Selain takut Daniel meradang karena sudah berani menyebutkan nama Adelia di hadapan suaminya itu, Dania juga takut akan jawaban yang keluar dari bibir Daniel. Ia tidak sanggup jika nantinya lelaki itu benar-benar memilih Adelia dari pada dirinya.
Namun, bukannya marah, Daniel malah terkekeh pelan. "Kalau menurutmu?" Lelaki itu melirik ke arah Dania yang tampak memucat karena saking gugupnya.
Dania menggelengkan kepalanya pelan. "Entahlah. Aku tidak tahu," jawabnya ragu-ragu.
"Jujur, pada saat pertama kali Adelia memilih pergi dariku, aku marah. Benar-benar marah. Aku bahkan berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah memaafkannya, Dania. Aku akan balas perbuatannya kepadaku. Namun, sekarang berbeda. Aku sudah tidak lagi membencinya. Kamu tahu kenapa?"
Daniel kembali melirik Dania sambil tersenyum tipis. Sementara Dania refleks mendongak, kemudian menatap Daniel lekat. Hatinya berdebar-debar tak karuan setelah mendengar penjelasan dari lelaki itu.
"Ke-kenapa? Apa karena Mas masih mencintai Kak Adel?" ucap Dania dengan terbata-bata.
Daniel mendengus kesal. Ia memasang wajah malas ketika bersitatap dengan istrinya itu. Ada sedikit rasa kesal di hati Daniel ketika Dania berkesimpulan bahwa dirinya masih mencintai Adelia.
"Aku 'kan cuma bertanya," lirih Dania sambil menggulung-gulung pakaiannya. "Ehm ... jadi Mas sudah tahu kemana dan dengan siapa Kak Adel pergi?" tanya Dania lagi dengan perlahan. Takut kembali menyinggung perasaan lelaki itu.
Maklum saja, walaupun lelaki itu memiliki wajah yang tampan nan rupawan tetapi hatinya sensitif sekali. Sedikit saja menyinggung perasaannya, api di hatinya akan segera menyambar dan membuat amarahnya kembali berkobar-kobar.
Daniel tersenyum tipis. "Aku tahu. Namun, sekarang aku sudah tidak peduli kemana dan dengan siapa wanita itu pergi. Dan sekarang aku sadar, di balik kepergian Adelia ternyata Tuhan sudah mempersiapkan seorang gadis yang jauh-jauh lebih baik darinya. Jadi menurutku, tidak seharusnya aku membenci Adelia karena kepergiannya sudah menjadi skenario Tuhan," tutur Daniel.
Perlahan Dania menyunggingkan sebuah senyuman. Matanya membulat sempurna dan ia menatap lelaki itu dengan sangat antusias. "Apakah gadis itu aku?" tanya Dania dengan hati berbunga-bunga.
"Menurutmu?" Daniel kembali meraih tubuh Dania ke dalam pelukannya.
"Ya, aku!" jawab Dania dengan sangat yakin.
__ADS_1
"Itu lah sebabnya kenapa aku mengutus Max menjadi pengawal pribadimu. Aku ingin Max menjagamu di saat aku tidak berada di sampingmu. Selain untuk memastikan bahwa kamu selalu aman, aku juga ingin pastikan bahwa kamu tidak akan pernah pergi meninggalkanku sama seperti yang dilakukan oleh Adelia," tutur Daniel lagi.
Dania memeluk tubuh kekar itu dengan erat sambil menciumi aroma tubuhnya yang maskulin. "Percayalah padaku, Mas Daniel sayang, aku tidak akan pernah pergi darimu. Tidak akan! Tapi, ...." Tiba-tiba Dania menekuk wajahnya kesal.
"Aku tidak setuju jika Mas memerintahkan Max untuk terus mengikutiku bahkan hingga aku mengajar. Yang ada muridku kabur semua setelah melihat lelaki sangar itu!" kesal Dania.
Daniel terkekeh pelan. "Apa peduliku! Yang penting kamu aman dari lelaki pengganggu itu. Jika ia nekat menyentuh tubuhmu yang berharga ini, maka aku pastikan bahwa Max tidak akan segan-segan mematahkan lengannya," jawab Daniel tanpa beban.
Wajah Dania semakin menekuk. "Kamu mengerikan, Mas Daniel. Bagaimana jika ada nyamuk yang menggigitku dan Mas Erick refleks menyentuhku untuk membunuh nyamuk tersebut, apa Max akan tetap mematahkan tangannya?"
"Baik Erick maupun nyamuk itu akan mendapatkan hukuman yang sama karena sudah berani menyentuhmu. Kamu tahu itu!" tegasnya.
"Oh, astaga!" kesal Dania.
"Sudah, jangan bahas soal Erick maupun nyamuk sialan itu. Sekarang aku mau tanya, apa tamu bulananmu sudah pulang? Aku sudah tidak sabar, Dania! Juniorku terus merengek setiap malam!" kesal Daniel kemudian.
Dania terkekeh pelan. "Sebenarnya sudah sejak kemarin, Mas. Tapi, tidak mungkin 'kan kita memulai malam kita di Rumah Sakit?"
Mendengar jawaban Dania, Daniel pun tersenyum lebar. "Berarti malam ini kita sudah bisa memulainya?" tanya Daniel dengan sangat antusias.
Dania mengangguk. "Ya!"
"Yess!" Daniel tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Akhirnya penantian panjangnya akan terbayar kontan malam ini.
...***...
__ADS_1