
Di perjalanan menuju Yayasan Cahaya Asa.
"Lagian siapa suruh dekat-dekat sama Erick," gumam Selly, pelan tetapi terdengar dengan sangat jelas di telinga Dania. Gadis itu membuang tatapannya ke arah lain dan seolah-olah tidak pernah mengatakan apapun.
Plak! Dania refleks memukul paha gadis itu.
"Aw! Kenapa aku dipukul, Dania?" pekik Selly sembari mengelus pahanya yang baru saja kena pukul oleh Dania.
"Habisnya mulutmu itu menyebalkan, sama seperti Mas Daniel," kesal Dania.
"Tapi, itu 'kan benar. Kak Daniel sendiri yang bilang begitu padaku," jawab Selly.
"Memangnya Kakak tercintamu itu bilang apa, ha? Apa yang diucapkan oleh Kakakmu itu tidak semuanya bisa dipercaya! Lagian, aku kenal Erick sudah sejak lama dan hubungan kami tidak lebih dari sekedar sahabat. Itu saja," kesal Dania.
"Tapi, sekarang 'kan sudah ada Kak Daniel. Kak Daniel itu maunya kamu hanya menjadi miliknya dan ia tidak ingin siapapun mendekatimu, termasuk sahabatmu itu," tutur Selly yang tidak mau kalah.
Dania tersenyum tipis mendengar jawaban Selly barusan. "Benarkah, dia bilang seperti itu padamu?"
"Mungkin Kak Daniel tidak mengatakannya secara langsung, tapi menurut yang aku tangkap dari perkataannya kepadaku, ya seperti itu!" jawab Selly.
"Kalau benar begitu, apa menurutmu Mas Daniel mencintaiku? Tapi ...." Dania menundukkan kepalanya dan kini raut wajahnya terlihat sedih.
Selly melirik Dania kemudian meraih wajah gadis itu. "Tapi kenapa, Dania?"
Dania membuang napas berat kemudian tersenyum tipis. "Bukan apa-apa," jawabnya.
__ADS_1
Sebenarnya Dania masih tidak yakin jika Daniel bisa membuka hati untuknya. Dari percakapan Daniel dan tante Riska yang ia tangkap saat itu membuat Dania yakin bahwa Daniel hanya mencintai Adelia dan mungkin akan seperti itu selamanya.
"Dania, kalau menurutku Kak Daniel itu sudah jatuh hati padamu hanya saja gengsinya masih terlalu tinggi untuk mengakuinya langsung padamu. Lihat saja perhatian yang ia berikan kepadamu, ya walaupun sebenarnya agak lebay."
"Entahlah, aku masih belum yakin," lirih Dania.
Tak terasa, mobil yang dikemudikan oleh Pak Sopir pribadi Daniel tiba di depan Yayasan Cahaya Asa. Karena ditugaskan untuk menunggu Dania hingga selesai mengajar, Pak Sopir tersebut memilih memarkirkan mobil milik Daniel tersebut ke tempat parkir.
Beberapa orang anak didik Dania datang menghampirinya. Mereka memperhatikan mobil mewah milik Daniel tanpa berkedip sedikitpun.
"Ini mobil milik siapa, Kak?" tanya salah satu dari mereka.
"Mobilnya suami kakak, memangnya kenapa? tanya Dania sambil tersenyum hangat menatap anak didiknya yang terlihat sangat kagum dengan mobil milik Daniel.
"Emm, bagaimana, ya? Nanti Kakak tanyakan dulu sama suami kakak. Kalau dia bersedia, baru kita jalan bareng menggunakan mobil ini, bagaimana?"
"Mereka siapa, Dania? Anak didikmu? Kenapa tidak diajak saja sekarang? Apa kamu tidak melihat wajah polos mereka? Ah, aku jadi tidak tega melihatnya," bisik Selly di samping Dania.
"Ya, aku tahu. Tapi tanpa seizin Mas Daniel, aku tidak berani mengiyakannya," jawab Dania.
"Ah, iyakan saja. Mas Daniel tidak sepelit yang kamu pikirkan. Yakinlah padaku," ucap Selly lagi.
"Baiklah, tapi tidak hari ini. Mungkin besok atau lusa," jawab Dania kemudian.
Dania pun mengajak anak didiknya untuk memasuki yayasan tersebut. Namun, baru beberapa langkah mereka meninggalkan tempat itu, tiba-tiba sebuah motor sport berwarna merah masuk ke area parkir dan berhenti tepat di samping mobil mewah milik Daniel.
__ADS_1
Mata Selly terbelalak setelah menyadari siapa yang baru saja memasuki area parkir tersebut. Ia begitu hapal nomor plat yang terpasang di motor tersebut dan nomor plat itu sama seperti nomor plat milik seseorang yang menolongnya kemarin siang.
Benar saja, setelah lelaki itu membuka helmnya, Selly pun mengenalinya sebagai lelaki yang kemarin berhasil menyelamatkan ponsel miliknya yang dijambret oleh orang jahat.
Setelah menyimpan helm serta jaketnya, Erick pun bergegas menghampiri Dania. Seperti biasa, Erick menyunggingkan sebuah senyuman hangat ketika bersitatap dengan Dania. Tak ada kata bosan bagi Erick untuk menatap wajah cantik gadis itu walaupun sekarang ini Dania sudah menjadi milik orang lain.
"Selamat pagi, Dania," sapa Erick yang sama sekali tidak menyadari keberadaan Selly di samping Dania. Bagi Erick, kalau ia sudah menatap Dania, semua orang yang ada di sisi gadis itu akan tampak seperti bayangan yang tidak akan pernah kelihatan dengan jelas di matanya.
"Erick," balas Dania.
Selly benar-benar syok setelah tahu bahwa Erick yang menolongnya kemarin adalah Erick sahabatnya Dania. Lelaki yang benar-benar tidak disukai oleh Daniel.
"E-Erick?" pekik Selly dengan terbata-bata.
Sontak Erick pun menoleh. "Kamu?!" pekik Erick, tidak kalah terkejutnya setelah sadar bahwa gadis manja yang kemarin ia tolong ternyata berada di tempat itu.
"Sedang apa kamu di sini?" tanya Erick dengan wajah heran menatap Selly.
"Kalian sudah saling kenal?" tanya Dania yang juga tidak kalah bingungnya.
***
Maaf, late UP. Jaringan wifi di tempat Author masih gangguan. Kadang timbul kadang tenggelam, mana katanya sampai besok pula π€§π€§π€§
Kalau Author gak UP itu artinya Author kagak bisa masuk NT. Soalnya kalo mau masuk NT itu jaringan harus benar-benar kuat. π€ππ€§ Nasib berada di ujung kota.
__ADS_1