
"Ingat ya, Selly! Jangan pernah ceritakan hal memalukan itu kepada Dania," tegas Daniel kepada Selly yang masih duduk di samping tempat tidurnya.
Saat itu Dania kembali ke kediamannya untuk mengambil barang keperluannya dan meminta Selly menggantikan posisinya untuk sementara.
"Oke, Kak! Tentu saja, tapi ... apa yang Bu isa aku dapatkan sebagai imbalan tutup mulut, ha?" sahut Selly.
"Dasar Adik tidak tahu diuntung!" kesal Daniel.
Tiba-tiba Daniel dan Selly dikejutkan dengan kedatangan Tante Riska dan Om Tommy di ruangan itu. Pasangan suami istri tersebut langsung menghampiri tempat tidur Daniel.
"Ayah, Ibu, sejak kapan kalian tiba di sini?" tanya Selly sambil memeluk tubuh kedua orang tuanya itu secara bergantian.
"Setibanya di sini, kami langsung menuju Rumah Sakit dan belum sempat mengunjungi rumah kita," jawab Sang Ayah.
Ya, karena kesibukan Om Tommy yang bertugas mengurus cabang perusahaan milik mendiang orang tuanya di luar negeri, mereka sering bolak-balik dari negara tetangga dan negara asal mereka. Termasuk Tante Riska dengan butiknya yang mulai berkembang di negara tersebut.
"Apa yang terjadi padamu, Nak?" tanya Tante Riska sambil menautkan kedua alisnya memperhatikan kondisi Daniel saat itu.
Daniel melototkan matanya kepada Selly yang kembali terkekeh pelan setelah mengingat isi video yang ia tonton bersama para pengawal Daniel kemarin sore. Tatapan elang Daniel saat itu seolah mengancam Selly agar tidak membicarakan masalah yang sebenarnya kepada Tante Riska dan Om Tommy.
"Tenang saja! Rahasia Kak Daniel aman bersamaku," sahutnya dengan isyarat bibir sementara suaranya sama sekali tak terdengar.
Daniel sedikit lebih tenang. Ya, setidaknya jumlah orang yang mengetahui hal memalukan itu tidak kembali bertambah.
__ADS_1
"Daniel?" Tante Riska kembali memanggil Daniel sebab lelaki tampan itu tidak juga menjawab pertanyaannya.
"Ah, ya, Tante! Aku baik-baik saja, aku hanya terpeleset karena salah seorang CS-ku bekerjanya tidak becus dan membuatku terjatuh," sahut Daniel.
Tante Riska menautkan kedua alisnya sambil melempar pandang bersama suaminya, Om Tommy. "Masa sih, Daniel? Hanya gara-gara terpeleset kamu jadi seperti ini?"
"Ya, seperti itulah." Daniel tersenyum kecut sambil menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal.
Walaupun sebenarnya Tante Riska tidak mempercayai kata-kata Daniel saat itu, mengingat banyaknya luka di tubuhnya. Namun, Tante Riska memilih untuk tidak bertanya lagi. Ia tidak ingin Daniel tersinggung jika ia terus mempertanyakan hal itu.
"Oh ya, di mana istrimu, Dania?" Tante Riska menoleh ke kanan dan ke kiri mencari keberadaan gadis itu.
"Tadi dia pulang, tapi aku yakin sebentar lagi dia pasti akan kembali," jawab Daniel sambil memperhatikan jam dinding yang menggantung di ruangan itu.
"Ya, Bu! Mereka memang diciptakan berjodoh. Coba Ibu sandingkan nama mereka, nama mereka terdengar hampir sama. Daniel dan Dania! Belum lagi ikatan batin di antara mereka, beugh! Pokoknya tidak ada yang menandingi!" seru Selly dengan begitu antusias menceritakan hal itu kepada Ibunya itu.
"Kamu benar, Selly sayang. Mungkin Dania memang sengaja dipersiapkan Tuhan untuk Daniel," sahut Tante Riska sambil mengelus lembut puncak kepala Daniel. Sementara Daniel tampak tersipu malu. Terlihat jelas dari pipinya yang kini terlihat merah merona.
Tidak berselang lama setelah kedatangan Tante Riska dan Om Tommy, Dania pun tiba di Rumah Sakit tersebut bersama salah seorang sopir pribadi Daniel. Dania berjalan menuju ruangan Daniel dan diikuti oleh sopir tersebut dari belakang sambil menenteng barang bawaan Dania.
"Kata salah satu pengawal Tuan Daniel, saat ini Tuan sedang kedatangan tamu. Tuan Tommy bersama istrinya, Nyonya Riska," tutur Pak Sopir kepada Dania yang sedang melangkah di depannya.
"Benar kah? Lah, kenapa Mas Daniel tidak bilang padaku! Astaga, semoga aku masih sempat bertemu dengan mereka," gumam Dania, semakin mempercepat langkahnya.
__ADS_1
"Pelan-pelan saja, Nona. Lagi pula, Tuan Tommy dan Nyonya Riska tidak akan pulang sekarang, kok." Pak Sopir coba menjelaskan.
"Serius? Bapak tahu dari mana?" tanya Dania sembari menoleh kepada lelaki itu.
"Dari salah satu pengawal Tuan Daniel yang masih berjaga di sana, Nona."
"Oh, syukurlah kalau begitu." Dania menghembuskan napas lega karena akhirnya ia memiliki kesempatan bertemu dengan keluarga tercinta Daniel.
Beberapa menit kemudian.
Dania tiba di depan ruangan Daniel di rawat. Pengawal yang masih berjaga di tempat itu segera membungkuk hormat kemudian membukakan pintu ruangan itu untuknya.
"Terima kasih, Pak," ucap Dania sambil tersenyum hangat.
"Sama-sama, Nona."
Ketika pintu ruangan tersebut terbuka, tampak semua mata tertuju padanya. Dania tampak grogi saat bersitatap bersama orang-orang di ruangan itu. Dania kembali menyunggingkan senyuman manisnya kepada mereka kemudian berjalan menghampiri tempat tidur Daniel.
"Sayang, kenalkan ini Om Tommy dan Tante Riska," ucap Daniel, memperkenalkan Om dan Tantenya itu kepada Dania.
"Dania." Dania mengulurkan tangannya sembari tersenyum. Namun, senyuman itu mendadak sirna setelah ia bersitatap mata dengan Tante Riska.
"Da-Dania ...." Mata Tante Riska berkaca-kaca dan bibirnya tampak bergetar ketika menyebutkan nama gadis itu.
__ADS_1
...***...