Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 113


__ADS_3

"Sayang, kenalkan ini Tuan Marco. Beliau adalah sahabat dari mendiang Ayah dan sekarang menjadi rekan bisnisku juga."


Daniel memperkenalkan salah satu tamu undangan yang datang menghampiri mereka kepada Dania, Sang Istri yang masih setia berdiri di sampingnya.


Pria yang bernama Tuan Marco itu mengulurkan tangannya kepada Dania sembari tersenyum hangat. Usia Tuan Marco mungkin lebih tua dari Ayahnya, Pak Adi. Namun, penampilan lelaki itu masih bisa dibilang keren. Walaupun ada sesuatu yang begitu mengganggu indera penglihatan Dania saat itu.


"Marco Juan."


"Dania." Dania pun segera menyambut uluran tangan pria itu sambil tersenyum hangat.


"Selamat ya, Daniel. Sebentar lagi kamu akan menjadi seorang Ayah dan aku yakin sekali bahwa calon bayimu ini tidak akan kalah cantik dan tampan dari Ayah dan Ibunya," ucap Tuan Marco sambil tersenyum ramah.


"Amin. Terima kasih, Tuan Marco," sahut Daniel sambil membalas senyuman lelaki itu.


Dania terus memperhatikan Tuan Marco ketika berbincang bersama Daniel tanpa berkedip sedikitpun. Bahkan hingga lelaki itu kembali ke mejanya dan menikmati hidangan yang sudah disediakan bersama Sang Istri.


Secara tidak sengaja Daniel melihat ke arah Dania yang masih memperhatikan Tuan Marco. Tersungging sebuah senyuman aneh di wajah cantik Dania. Hal itu membuat Daniel merasa bingung sekaligus penasaran apa yang begitu menarik di diri Tuan Marco hingga Dania terlihat begitu serius memperhatikannya.


"Kenapa kamu terus memperhatikan Tuan Marco, Sayang? Jangan terlalu di tatap seperti itu, nanti Tuan Marco malah menyangka yang tidak-tidak," ucap Daniel.


Dania terkekeh pelan. "Ada sesuatu yang begitu menarik perhatianku, Mas."


"Apa itu?!" Daniel semakin penasaran.

__ADS_1


"Lihatlah kepala plontosnya, Mas. Aku heran bagaimana bisa kepala Tuan Marco bisa terlihat berkilau seperti itu? Bolehkah aku menyentuhnya, Mas?"


Dania menatap Daniel sambil tersenyum kecut. Namun, dari tatapan wanita itu seolah menyatakan kepada Daniel bahwa ia sungguh-sungguh ingin menyentuh kepala plontos milik Tuan Marco yang terlihat berkilau itu.


"Ya ampun, Sayang. Bisakah kamu meminta hal lain saja? Untuk yang satu itu, aku tidak bisa. Aku begitu menghormati Tuan Marco. Bahkan beliau sudah menganggapku seperti anaknya sendiri. Please ya, Sayang. Mintanya yang lain saja," sahut Daniel dengan wajah cemas.


Ekspresi wajah Dania mulia berubah. Terlihat jelas kekecewaan di wajah cantiknya. Daniel mulai panik, ia takut mood wanita itu memburuk lagi hanya gara-gara keinginannya menyentuh kepala plontos Tuan Marco tidak dipenuhi.


"Eh, apa kamu tahu, Sayang? Salah satu penjaga kebun kita ada yang kepalanya plontos juga. Namanya Mang Udin. Kalo mau, sama Mang Udin aja, ya. Mang Udin pasti dengan senang hati mengijinkanmu menyentuh kepala plontosnya," bujuk Daniel.


"Kok, Mang Udin sih, Mas? Aku maunya sama Tuan itu, bukan Mang Udin," proses Dania.


"Ada apa sih, Sayang? Kok, wajahnya di tekuk begitu?" tanya Riska dengan wajah heran.


"Ini, Bu. Dania punya permintaan aneh lagi. Masa iya aku harus kasih tau ke Tuan Marco bahwa istriku ingin menyentuh kepalanya. Kira-kira apa yang akan dipikirkan oleh Tuan Marco nanti?" tutur Daniel dengan wajah cemas.


Riska dan Tommy tertawa pelan setelah mendengar penuturan Daniel. Sementara Dania mencoba mencari pembelaan kepada Bu Riska supaya di ijinkan menyentuh kepala plontos yang tampak berkilau tersebut.


"Aku hanya ingin menyentuhnya saja, Bu. Sekali saja! Setelah itu aku akan minta maaf sama Tuan Marco karena sudah lancang kepadanya," bujuk Dania tidak mau kalah.


"Ya, sudahlah, Daniel. Kamu coba saja, Tuan Marco pasti mengerti, kok. Maklum bumil," sela Om Tommy kepada Daniel.


"Iya, Mas. Ayah benar tuh! Ya, ya, mau ya!" Dania begitu bersemangat karena ia tidak sendirian. Ada Om Tommy yang saat ini berada di pihaknya.

__ADS_1


Daniel menghembuskan napas berat. "Baiklah. Tapi bagaimana cara menjelaskannya kepada Tuan Marco?"


"Jelaskan saja yang sebenarnya, Danial. Om yakin Tuan Marco pasti mengerti, kok," lanjut Om Tommy.


Daniel pun akhirnya mengangguk. Ia berjalan ke arah meja Tuan Marco dengan cepat kemudian menghentikan langkahnya tepat di hadapan pasangan itu.


"Daniel? Ada yang bisa aku bantu?" Tuan Marco tersenyum semringah menatap Daniel yang berdiri tepat di hadapannya.


Daniel menarik sebuah kursi kemudian duduk di sana sambil tersenyum kecut. "Begini, Tuan Marco. Istri saya punya keinginan aneh dan saya tidak bisa menolaknya. Dia ingin sesuatu dari Anda, apakah Anda bersedia mengabulkan keinginannya?" tutur Daniel tampak ragu-ragu.


Tuan Marco dan Sang Istri saling tatap sejenak dan kemudian tersenyum lebar menatap Daniel. "Apa itu, Daniel? Katakan saja. Selama aku masih bisa membantu, aku akan lakukan apapun yang diminta oleh Istrimu," jawab Tuan Marco dengan wajah serius.


"Ehm, begini, Tuan." Daniel kembali melirik ke arah Dania yang sudah tidak sabar ingin menyentuh kepala plontos milik Tuan Marco.


"Istri saya ingin meminta izin untuk menyentuh kepala Anda. Sekali saja, Tuan Marco. Bagaimana?" tanya Daniel dengan wajah harap-harap cemas.


Tuan Marco dan Sang istri tergelak mendengar keinginan Dania barusan. Lelaki itu akhirnya menganggukkan kepalanya dan hal itu membuat Daniel begitu senang.


"Ya, boleh-boleh!"


"Serius, Tuan Marco? Anda tidak marah, 'kan?"


"Tidak lah, Daniel. Kenapa aku harus marah?" jawabnya sambil terkekeh pelan.

__ADS_1


...***...


__ADS_2