
"Di mana aku? Kalian membawaku kemana?" Adelia yang baru saja sadar dari pingsannya, tiba-tiba panik setelah menyadari bahwa ia sedang berada di tempat yang asing.
"Ke suatu tempat yang jauh! Di mana Ibumu atau siapapun tidak bisa menemukan keberadaanmu," jawab Samuel sambil menyeringai licik.
"Dasar lelaki brengs*k! Kurang ajar!" Adelia meradang. Ia melemparkan bantal, guling dan selimut yang ada di sampingnya ke arah Samuel.
Lelaki itu malah tergelak. Ia malah melenggang pergi dan meninggalkan Adelia yang masih kesal di ruangan itu. Namun, sebelum Samuel benar-benar meninggalkannya, ia sempat mengunci pintu tersebut dari luar agar Adelia tidak bisa keluar.
Sepeninggal Samuel, Adelia bangkit dari posisinya. Ia mencoba mencari jalan keluar, tetapi sepertinya usahanya sia-sia saja. Semuanya buntu dan tak ada jalan keluar di sana.
Adelia menemukan sebuah jendela dan ia pun segera mengeceknya. Baru saja ia melihat ke luar jendela, ia sudah merasakan kepalanya berputar-putar sebab wanita itu takut akan ketinggian. "Ya, Tuhan! Kepalaku," ucap Adelia sambil memijit pelipisnya.
Sekarang Adelia sadar bahwa dirinya sedang berada di lantai 5, di sebuah gedung bertingkat yang sudah tidak terpakai lagi. Di sekeliling bangunan itu pun tampak sepi dan tak ada satupun manusia yang tampak di sana.
"Sebenarnya tempat apa ini?" gumam Adelia sembari melihat ke sekeliling bangunan tersebut. "Mana tempat ini tinggi sekali. Apa aku berani melompat dari sini?" Adelia tersenyum tipis. "Ya, dan setelah itu dengan bangganya malaikat maut pun menjemputku."
Adelia mencoba mencari sesuatu yang bisa ia gunakan untuk membantunya keluar dari tempat itu. Namun, sayangnya ia tidak menemukan apapun di sana. Termasuk tambang yang ia sudah ia bayang-bayangkan sebelumnya.
"Sialan! Tidak ada apapun yang bisa membantuku keluar dari tempat ini!" Adelia kembali duduk di tepian ranjang dengan tangan menyilang di dada. .
"Ish, apa Ibu sudah meminta bantuan sama Daniel? Kok, sampai sekarang Daniel tidak juga bertindak! Apa dia tidak mengkhawatirkan keadaanku?" gerutunya.
Sementara itu.
Dua buah mobil sedang memantau keadaan di tempat itu dari jarak yang lumayan dekat. Mobil milik Roy berserta anak buahnya dan mobil satunya lagi milik anggota kepolisian yang memang sengaja diajak oleh Roy untuk membantu mereka.
Tidak seorangpun menyadari kedatangan mereka termasuk Samuel. Setelah keluar dari kamar Adelia, sekarang lelaki itu tengah asik menenggak miras bersama beberapa anak buahnya.
"Kalian memang hebat! Kalian bisa menemukan tempat ini. Tempat yang begitu sempurna untuk dijadikan tempat persembunyian," ucap Samuel sambil menyunggingkan senyumannya.
__ADS_1
"Ya, tentu saja donk, Boss! Siapa dulu, gue!" balas salah seorang dari anak buahnya dengan sangat bangga. Ia mengangkat gelas minuman yang ada di tangannya kemudian mengulurkannya ke hadapan Samuel.
"Tos dulu donk, Boss!"
Samuel pun menyambutnya. "Tos!"
***
"Sekarang!"
"Siap, Boss!"
Para anggota polisi berpakaian serta bersenjata lengkap mulai mengatur posisi mereka untuk mengepung Samuel bersama anak buahnya. Begitu pula anak buah Roy, sejak tadi mereka sudah gatal ingin melakukan penyerangan.
Samuel yang begitu yakin bahwa posisi mereka sangat aman, tidak menyadari bahwa dirinya dan anak buahnya sudah terkepung oleh para anggota kepolisian serta anak buah Roy.
Seorang anggota polisi yang merupakan pemimpin di penggerebekan itu, melepaskan tembakan ke udara dan membuat Samuel serta anak buahnya kelabakan. Anak buah Samuel refleks mengeluarkan senjata mereka. Namun, sayangnya mereka sudah terlambat. Mereka terkepung dan jumlah mereka pun kalah banyak.
"Angkat tangan dan letakkan senjata itu di lantai!" titah Kepala Polisi.
Karena sudah merasa terkepung dan kalah jumlah, anak buah Samuel pun perlahan meletakkan senjata mereka di lantai, tepat di hadapan mereka.
"Kalian bilang tempat ini aman! Tapi kenapa malah jadi seperti ini!" kesal Samuel kepada salah satu anak buahnya.
Tak satu pun di antara mereka menjawab pertanyaan Samuel. Mereka pun bingung bagaimana bisa para anggota polisi serta anak buah Daniel berhasil menemukan persembunyian mereka.
Salah seorang anggota polisi mengambil dan mengamankan senjata para penjahat itu. Setelah semuanya aman, para anggota polisi pun segera mengamankan mereka, termasuk Samuel.
"Lepaskan aku!"
__ADS_1
Samuel mencoba berontak dan ia tidak terima diseret-seret seperti itu. Bukannya mendapatkan perlakuan lebih baik, Samuel malah mendapatkan sebuah pukulan tepat di kepalanya oleh salah satu anggota polisi.
"Diam kamu!"
Sementara para polisi tengah mengamankan para penjahat tersebut, beberapa orang anak buah Roy naik ke lantai atas untuk mencari keberadaan Adelia. Ruangan demi ruangan mereka masuki, tetapi mereka tidak juga berhasil menemukan wanita itu. Hingga akhirnya mereka berada di depan sebuah kamar yang kini sedang ditempati oleh Adelia.
"Sepertinya di sini!"
"Baiklah!"
"Nona Adelia! Jika Anda mendengar suara saya, menjauhlah dari pintu!"
Mendengar suara itu, Adelia pun senang bukan kepalang. Ia yakin suara itu adalah suara anak buah Daniel.
"Ya, aku mendengarnya!" jawab Adelia dengan begitu bahagia. Adelia menjauh dari pintu dan berdiri di posisi yang menurutnya sudah aman.
Tiga lelaki bertubuh tinggi besar itu mengatur posisi mereka dan bersiap mendobrak pintu tersebut.
Brugkhh!
Brugkhh!
Brugkhh!
Akhirnya pintu tersebut terbuka setelah beberapa kali didobrak oleh para lelaki bertubuh besar itu.
"Daniel?!" pekik Adelia sambil tersenyum lebar.
***
__ADS_1