Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 93


__ADS_3

"Dania. Yuk, bantu Ibu mempersiapkan makanan," ajak Bu Ida kepada Dania.


"Baik, Bu." Baru saja Dania ingin beranjak mengikuti Bu Ida menuju dapur, tiba-tiba saja ponselnya berdering.


Dania meraih ponselnya dan melihat ke layar. Ia menyunggingkan sebuah senyuman hangat saat tahu bahwa suaminya lah yang sedang menghubunginya.


"Ya, Sayang."


"Bersiaplah, aku akan segera menjemputmu," ucap Daniel.


"Tapi ...." Dania terdiam sejenak sambil melihat ke arah dapur. "Ibu sedang mempersiapkan makanan untuk kita."


"Kita bisa makan di tempat lain."


Dania menghela napas dalam. "Baiklah."


Setelah Daniel memutuskan panggilannya, Dania pun segera berkemas dan mengurungkan niatnya membantu Bu Ida yang sedang sibuk menata hidangan ke atas meja. Sementara Adelia tengah membersihkan dirinya di kamar lantai atas.


"Sepertinya kita harus pulang, Max. Suamiku sedang di perjalanan menuju ke sini untuk menjemputku," ucap Dania sambil mengemasi barang-barang miliknya.


"Siap, Nona."

__ADS_1


Bu Ida memperhatikan Dania yang sedang berkemas dari ruangan dapur. Wanita itu menekuk wajahnya sejenak, kemudian kembali tersenyum hangat seperti sebelumnya. Ia berjalan menghampiri Dania kemudian mulai berbasa-basi lagi.


"Dania sayang, kamu mau kemana?"


"Maaf, Bu. Sepertinya aku tidak bisa ikut makan bersama kalian. Mas Daniel akan segera menjemputku," jawab Dania.


Bu Ida berpura-pura memasang raut wajah kecewa. "Loh, kok pulang, sih?"


"Ya, Dania. Kenapa tidak kamu ajak saja Tuan Daniel makan bareng kita," sambung Pak Adi yang baru tiba di ruangan itu.


"Ehm, maafkan aku."


Tin ... tin ...!


"Aku permisi dulu ya, Bu, Yah."


"Baiklah."


Bu Ida dan Pak Adi pun mengikuti langkah Dania yang kini berjalan menuju halaman depan bersama bayangan ke duanya, Max.


Sementara itu di kamar lantai atas, di mana Adelia baru saja menyelesaikan ritual mandinya. Wanita itu tidak sengaja menengok ke jendela kamar setelah mendengar suara klakson yang sengaja ditekan oleh sopir pribadi Daniel.

__ADS_1


Adelia membulatkan matanya setelah melihat sosok Daniel yang terlihat begitu keren, bersandar di samping mobilnya sambil tersenyum manis.


"Daniel! Ya Tuhan, kamu semakin tampan saja," pekik Adelia sambil tersenyum lebar.


Wanita itu berniat menemui Daniel di bawah sana. Namun, beberapa detik berikutnya, Adelia pun membatalkan keinginannya itu. Tepat di saat Dania tiba di sana dan menghampiri Daniel.


"Dania!" gumam Adelia dengan wajah masam.


Daniel menyambut kedatangan Dania kemudian memeluknya dengan erat. Tak lupa, lelaki itu melabuhkan ciuman hangatnya di puncak kepala Dania, sama seperti biasanya.


"Tidak mungkin! Bagaimana bisa ... akh!" Adelia menghentak-hentakkan kakinya ke lantai kamar. Ia kesal melihat sikap manis Daniel terhadap Dania.


Sorotan tajam Adelia terus tertuju pada pasangan itu. Bahkan hingga mobil yang membawa Daniel dan Dania menghilang dari pandangannya.


"Tidak mungkin! Aku yakin Daniel hanya berpura-pura saja. Dia berpura-pura bahagia di hadapan Ayah dan Ibu," geram Adelia.


Adelia menghampiri tempat tidur yang ada di dalam kamar tersebut kemudian duduk di tepiannya masih dengan wajah masam. Kini tatapan wanita itu tertuju pada paper bag pemberian Dania yang diletakkan oleh Bu Ida di atas meja rias.


"Hhh!" Adelia yang tidak bisa menahan rasa penasarannya, akhirnya meraih paper bag tersebut dan membawanya ke tempat tidur.


"Apa sih isinya? Kalo paper bag-nya sih, dari butik langgananku. Entah dengan isinya," gumam Adelia sembari membuka paper bag tersebut kemudian mengeluarkan isinya. Adelia menenteng pakaian yang dibelikan oleh Dania dan ia pun tersenyum sinis.

__ADS_1


"Jelek! Aku tidak suka," geram Adelia sembari melemparkan pakaian itu ke lantai kamar.


...***...


__ADS_2