
Keesokan paginya.
"Mas Daniel. Acara campingnya akan dimulai nanti malam, pagi ini cuma diadakan lomba kecil-kecilan saja buat menghibur anak-anak. Mas bisa menyusulku nanti sore. Benar 'kan, Selly?" Dania melirik Selly yang ternyata juga ingin ikut bersamanya ke yayasan.
"Ya. Itu benar, Kak!" sahut Selly sambil tersenyum manis menatap wajah Daniel yang sudah terlihat masam.
"Tidak. Jika aku bilang ikut, maka aku akan ikut," tutur Daniel sembari masuk ke dalam mobilnya kemudian melirik Dania agar segera menyusulnya.
Dania dan Selly saling lempar pandang untuk sesaat. Yang ada dalam pikiran kedua gadis itu sama. Sama-sama khawatir jikalau lelaki itu malah mengacaukan pesta kecil-kecilan mereka nantinya.
"Ayo, masuk!" titah Daniel kepada Dania.
"Ya, ya, baiklah."
Dania pun masuk kemudian duduk di samping Daniel. Sementara Selly memilih duduk di depan, di samping sopir pribadi Daniel dari pada duduk di antara pasangan tersebut. Ia tidak ingin dirinya menjadi seperti udara, ada tetapi tidak terlihat di antara mereka.
Mobil mewah itu pun segera melaju dan di susul oleh dua buah mobil lagi di belakang mereka. Satu mobil biasa dan satunya lagi mobil box yang entah apa isinya. Dania menatap heran kepada mobil-mobil tersebut kemudian mulai bertanya kepada suaminya itu.
"Mas. Ngomong-ngomong, siapa yang ada di mobil itu dan mau kemana mereka? Jangan bilang mereka juga ikut ke yayasan, ya!" Dania mulai khawatir karena ia memiliki firasat yang tidak mengenakkan.
Daniel tersenyum tipis. "Itu Roy beserta para pengawal. Mereka akan menemani kita malam ini," sahutnya dengan santai.
__ADS_1
"Apa?!" pekik Dania dengan mata membesar menatap wajah Daniel yang terlihat datar. "Lalu mobil box itu apa isinya?" lanjut Dania.
"Itu barang-barang keperluan kita. Tidak usah khawatir, nanti juga kamu pasti akan berterima kasih padaku," jawab Daniel sembari meraih pundak Dania.
Selly pun ikut menoleh ke arah mobil-mobil tersebut dan gadis itu tertawa pelan setelah melihatnya. "Ya, ampun!"
"Mas, kita cuma camping satu malam saja. Bukannya camping selama sebulan," ucap Dania sambil menahan rasa kesal.
"Ya. Aku tahu. Dan itu memang keperluan kita untuk satu malam. Jika untuk satu bulan, kamu pasti bisa bayangkan banyaknya deretan mobil box yang akan mengikuti perjalanan kita," jawabnya dengan gamblang.
Dania memijit pelipisnya. "Memang apa isi box itu?"
"Hanya keperluan kita," jawab Daniel singkat dan jelas.
"Ya, Tuhan! Apa mungkin lelaki menyebalkan itu juga ikut ke sini?" gumam Erick sambil menggelengkan kepalanya pelan menatap iring-iringan mobil milik Daniel.
"Bukankah itu Dania?" sahut yang lainnya sembari ikut memperhatikan kedatangan ketiga mobil tersebut.
"Ya, Dania dan suaminya. Tuan Daniel Dirgantara, lelaki yang kini menjadi donatur tetap yayasan kita," jawab Erick.
"Wah! Bagus donk, Rick! Kita punya tamu kehormatan dan seharusnya kita menyambut mereka, bukannya malah memperhatikan mereka dengan wajah aneh di sini," sambung Yaya.
__ADS_1
Yaya pun berlari kecil menghampiri mobil milik Daniel dan tepat di saat itu Daniel keluar dari mobilnya sambil menggandeng Dania.
"Selamat datang kembali di Yayasan Cahaya Asa yang kita cintai ini, Tuan Daniel Dirgantara," sapa Yaya sambil membungkuk hormat.
"Ish, Yaya. Apaan, sih!" Dania tampak malu-malu karena sahabatnya itu menyambut kedatangan mereka dengan sangat berlebihan.
Yaya pun kembali tersenyum. "Mari. Silahkan masuk, Tuan dan Nyonya Dirgantara."
Sementara Daniel, Dania dan Selly bergabung bersama Erick dan yang lainnya, para pengawal dan Roy tengah sibuk mengatur barang-barang keperluan Sang Tuan Besar untuk camping nanti malam.
Yaya mengajak Daniel berbincang-bincang seputar yayasan tersebut. Sementara Dania dan Selly membantu mempersiapkan lomba yang akan diadakan hari ini.
"Aku lihat di tempat ini tidak ada perpustakaan untuk anak-anak membaca buku, benar kah itu?" tanya Daniel sambil memperhatikan tempat itu.
"Ya, Tuan Daniel. Sebenarnya tempat ini punya banyak kekurangan dan yang Tuan Daniel sebutkan tadi adalah salah satunya. Bahkan untuk belajar pun, anak-anak harus bergantian menggunakan buku mata pelajaran," jawab Yaya.
Daniel mengangguk pelan sembari memperlihatkan sekeliling tempat itu. "Baiklah kalau begitu. Aku akan bicarakan masalah ini kepada asisten pribadiku dan dia yang akan mengurus semuanya. Aku berencana akan bangun sebuah perpustakaan di sana." Daniel menunjuk sebuah ruang kosong yang rencananya akan ia bangun sebuah perpustakaan di sana. "Oh, ya. Tidak lupa ruang kelas serta beberapa fasilitas di tempat ini yang perlu dibenahi."
"Benarkah itu, Tuan Daniel?" Yaya begitu bersemangat mendengar penuturan Daniel barusan dan ia berharap apa yang dikatakan oleh Daniel benar-benar menjadi kenyataan agar yayasan itu menjadi tempat yang lebih baik lagi.
"Ya, tentu saja."
__ADS_1
...***...