
"Nah, setelah ini coba Tuan putar gas yang ada di sebelah kanan Anda dengan sangat pelan. Kemudian setelah motornya sudah jalan, coba jaga keseimbangan motornya agar Anda tidak jatuh," ucap salah seorang anak buah Daniel yang mencoba memberi tahu lelaki itu tata cara menggunakan motor tersebut.
Daniel tersenyum tipis. "Kamu ini menjelaskannya detail sekali. Kamu pikir aku bocah kecil yang baru berusia tiga tahun apa?"
"Emm, maafkan saya, Tuan. Saya hanya ingin mencoba mengingatkan Anda," sahut lelaki itu sambil tersenyum kecut.
Ia dan Roy saling tatap dengan tatapan cemas. Kedua lelaki itu tengah mencemaskan keselamatan majikannya tersebut. Namun, karena Daniel terlihat begitu yakin, maka mereka pun menurut saja dan tidak berani protes lagi.
Daniel bersiap memutar bagian gas yang ada di sebelah kanannya. Tatapan lelaki itu fokus ke depan dengan gaya bak pembalap profesional yang siap menguasai arena balap.
Roy mengelus dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Ia yakin majikannya itu hanya akan berakhir di bed pasien sebuah Rumah Sakit.
"Hei, Roy! Tolong rekam aksiku, ya! Aku ingin mengabadikan moment-moment pertama kali aku mengendalikan benda ini!" titah Daniel dengan kepercayaan diri setingkat dewa.
Roy pun mengangguk walaupun sebenarnya ia sangat yakin apa yang akan ia rekam nanti adalah suatu hal yang sangat memalukan. Dan mungkin Daniel pun tidak akan sanggup melihatnya.
Huft! Daniel menghembuskan napas dalam. "Baiklah! Aku bisa! Aku pasti bisa!" gumam Daniel, untuk menyemangati dirinya sendiri.
Ketika Daniel bersiap meluncur dengan benda keren itu, Roy dan anak buahnya tengah menatap Daniel dengan harap-harap cemas. Jantung mereka berdegup dengan kencang dan dalam hati mereka, mereka terus berdoa agar lelaki itu baik-baik saja. Bukan hanya itu, Roy yang mendapatkan tugas menjadi kameraman dadakan, terlihat gemetar di saat mengacungkan ponsel canggihnya ke hadapan Sang Majikan.
Saking semangatnya, Daniel lupa akan pesan anak buahnya soal gas yang harus diputar dengan lembut dan penuh perasaan. Dan ....
__ADS_1
Brumm! Ngeeeeeennggggggg ...!
Daniel yang terlalu bersemangat, memutar gas tanpa kendali. Motor baru nan keren itu meraung dan meluncur seperti roket. Benda beroda dua itu melaju tanpa arah, apalagi Sang Pengemudi sudah kehilangan kendali atas motor tersebut.
"Eh, eh, motor ini kenapaa! Aaakkhhh ...!" Daniel histeris. Apa yang ia bayangkan soal benda keren itu ternyata salah. Sangat-sangat salah!
Braakkkk!!!
Daniel yang sudah ketakutan setengah mati, segera melepaskan pegangannya dari motor tersebut. Daniel memberanikan diri melompat dari benda itu dan membuat tubuhnya terpental hingga beberapa meter, sementara motor sport keren itu masih melaju menuju gerbang. Hingga akhirnya ...
Bruaakkkk!
Motor itu terlihat seperti banteng yang tengah mengamuk dan menyeruduk gerbang dengan sangat kuat hingga mengakibatkan gerbang yang terbuat dari besi nan kokoh tersebut rusak. Bukan hanya itu, motor itu pun rusak tiada rupa. Beruntung Daniel melompat terlebih dahulu dan tidak ikut-ikutan menyeruduk gerbang. Kalau tidak, entah bagaimana keadaan lelaki itu saat ini.
Lelaki itu tergolek lemah di halaman nan luas tersebut. Sementara anak buahnya, segera berlarian menuju tempat di mana Daniel tergolek lemah tak berdaya. Begitu pula Roy, Sang Asisten yang sejak tadi merekam kejadian menegangkan itu, bergegas menghampiri majikannya tersebut.
"Tuan Daniel, apa Anda baik-baik saja?!" pekik Roy sambil mengecek kondisi Daniel saat itu. Wajahnya memucat dan ia sangat mencemaskan keadaan big bossnya itu. Bahkan wajahnya terlihat lebih pucat dari pada wajah Daniel yang jelas-jelas mengalami kecelakaan tersebut.
"Baik-baik saja, apanya? Apa kamu tidak lihat bagaimana kondisiku saat ini?" lirih Daniel sambil menahan sakit di sekujur tubuhnya.
Para lelaki yang tadi menyaksikan aksi akrobatik Daniel segera membantu lelaki itu dan membawanya masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Dasar motor sialan! Awas saja, setelah ini aku pastikan kamu akan berada di pelelangan," umpat Daniel dengan mata terpejam. Tak ada rasa lain yang ia rasakan saat ini selain rasa sakit yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Lelaki itu bahkan tidak bisa merasakan kakinya.
Tanpa pikir panjang, Roy segera membawa Daniel ke Rumah Sakit untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Sementara itu.
Dania masih di Yayasan Cahaya Asa bersama Selly. Kedua gadis itu tengah asik menikmati istirahat makan siang bersama anak didiknya. Selly masih terlihat suntuk karena Erick sama sekali tidak menggubris dirinya.
"Ini untukmu, Dania." Salah seorang teman sesama pengajar di tempat itu, menyerahkan segelas teh hengat kepada Dania dan Dania pun segera menyambutnya sambil tersenyum hangat.
"Terima kasih banyak." Namun, baru saja gelas itu beralih ke tangan Dania, tiba-tiba benda yang terbuat dari kaca tersebut retak dan dalam hitungan sepersekian detik berikutnya, gelas itu pun pecah dan mengenai tangan Dania.
"Aw!" pekik Dania sambil memperhatikan tangannya yang terluka dan terlihat darah segar mengalir dari luka tersebut.
"Kamu kenapa, Dania?" Selly sontak menghampiri Dania yang terlihat panik.
"Sepertinya aku harus pulang, Selly. Entah kenapa perasaanku tidak enak," jawab Dania.
"Tapi--" Selly mencoba protes karena ia masih ingin berada di tempat itu. Walaupun tidak dihiraukan oleh Erick, paling tidak ia masih bisa melihat lelaki tampan itu dari dekat.
"Tidak ada tapi, Selly! Aku harus pulang," sahut Dania sembari bangkit dari posisinya.
__ADS_1
...***...