
"Bu, maafkan aku! Tapi untuk saat ini aku tidak bisa bercerita banyak kepada Ibu soal di mana aku dan dengan siapa aku sekarang. Saat ini aku butuh pertolongan, Bu! Aku dalam keadaan darurat! Tolong minta bantuan kepada Tuan Daniel karena yang bisa menyelamatkan aku sekarang hanya dia," jelas Adelia dengan bibir bergetar.
Adelia benar-benar ketakutan. Takut Samuel tiba-tiba bangun dan memergoki apa yang sedang ia lakukan di dalam ruangan tersebut.
"A-apa maksudmu, Nak? Ibu tidak mengerti. Darurat apa? Tolong jelaskan kepada Ibu, Nak! Jangan buat Ibu khawatir," sahut Bu Ida dengan wajah cemas.
"Sudah kubilang, Bu! Aku tidak bisa bercerita sekarang! Yang aku butuhkan saat ini hanyalah pertolongan dari Tuan Daniel. Sebab hanya dia yang bisa menyelamatkan aku. Jadi, cepatlah temui Tuan Daniel dan minta bantuan kepadanya agar ia dan anak buahnya bisa menemukan keberadaanku," lanjut Adelia.
"Ba-baiklah, Nak. Ibu mengerti," jawab Bu Ida dengan terbata-bata.
Dan, apa yang dikhawatirkan oleh Adelia oun menjadi kenyataan. Samuel terbangun dari tidurnya dan ia tersentak kaget saat menemukan tempat kosong di sebelah tubuhnya.
"Brengs*k! Di mana wanita itu! Dia pasti kabur lagi, sialan!" umpat Samuel sembari bangkit dari tempat tidurnya kemudian berjalan menghampiri pintu kamar.
Namun, baru saja ia ingin menggapai gagang pintu, tiba-tiba matanya menyeret ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. "Apa mungkin Adelia sedang berada di dalam kamar mandi?"
Samuel mengurungkan niatnya keluar dari kamar itu. Ia malah berjalan menghampiri pintu kamar mandi sambil mengendap-endap agar tidak ketahuan oleh Adelia.
__ADS_1
Setibanya di depan pintu, Samuel meletakkan telinganya di daun pintu dan mencoba mendengarkan suara yang berasal dari dalam ruangan tersebut. Samar-samar Samuel mendengar suara Adelia yang sedang berbincang dengan seseorang di dalam sana dan hal itu membuat Samuel heran sekaligus terkejut.
"Adelia bicara sama siapa? Apa mungkin dia ...." Tiba-tiba Samuel teringat akan ponsel milik Adelia yang ia simpan di dalam lemari pakaiannya.
Samuel bergegas menghampiri lemari tersebut dan mencari keberadaan ponsel milik Adelia di dalam sana. Ia tersenyum lega setelah menemukan ponsel itu masih aman di posisinya. "Hmm, syukurlah! Tapi, ponsel siapa yang digunakan oleh Adelia di dalam sana?"
"Ah, ponselku!" Samuel kembali panik setelah menyadari bahwa ponselnya lah sedang bersama Adelia di dalam sana. Samuel meraih jaketnya dan merogoh saku tempatnya menyimpan ponsel tersebut. Dan ternyata benar, ponsel kesayangannya sudah raib dan ia sangat yakin bahwa ponsel tersebut ada bersama Adelia.
Samuel bergegas kembali ke pintu kamar mandi. Ia menggedor-gedor pintu tersebut dengan sangat keras hingga membuat Adelia terperanjat. "Adelia, keluar kamu! Aku tahu kamu sedang berada di dalam sana," teriak Samuel dengan wajah memerah.
"Gawat! Sam sudah bangun!" Tubuh Adelia gemetar. Ia segera memutuskan panggilannya bersama Bu Ida padahal saat itu mereka belum selesai bicara. Namun, Adelia tidak berani meneruskan percakapannya bersama Bu Ida.
Sementara itu.
Perlahan Adelia menghampiri pintu ruangan itu dan membuka kuncinya. Adelia tersenyum kecut saat bersitatap mata bersama Samuel yang saat ini berdiri di hadapannya dengan wajah mengerikan. Bak singa lapar, Samuel siap menerkam Adelia hidup-hidup.
"A-ada apa, Sam? Ta-tadi aku lagi buang air kecil," tutur Adelia dengan terbata-bata.
__ADS_1
Samuel meraih tangan Adelia dengan kasar kemudian menyeret wanita itu agar keluar dari ruangan tersebut. Ia membawa Adelia menghampiri tempat tidur kemudian mendorongnya dengan keras hingga Adelia terjengkang di atas tempat tidurnya.
"Kembalikan ponselku!" Samuel mengulurkan tangannya ke hadapan Adelia dan meminta wanita itu untuk mengembalikan ponselnya.
"A-apa maksudmu, Sam? A-aku tidak mengerti," jawab Adelia seolah-olah tidak mengerti apa maksud Samuel saat itu.
"Sudah! Jangan berpura-pura lagi, Adelia! Sini, kembalikan ponselku!" Teriakkan Samuel menggema di ruangan itu hingga membuat nyali Adelia pun menciut.
Dengan gemetar, Adelia menyerahkan ponsel tersebut kepada Samuel. Samuel pun menyambutnya dengan kasar kemudian mengecek panggilan yang baru saja dilakukan oleh wanita itu.
"Nomor siapa ini?" Samuel memperlihatkan layar ponselnya kepada Adelia dengan wajah dingin.
Adelia tidak menjawab. Ia hanya menggelengkan kepalanya dengan cemas bercampur takut. Karena Adelia tidak juga menjawab pertanyaannya, Samuel kembali menghubungi nomor tersebut kemudian meletakkan ponsel tersebut ke samping telinganya.
"Adelia, hallo! Apa kamu mendengar Ibu, Nak?"
Terdengar suara Bu Ida dari seberang telepon. Setelah mengetahui siapa yang dihubungi oleh Adelia, Samuel pun kembali tersenyum sinis sembari memutuskan panggilannya.
__ADS_1
"Apa kamu pikir dengan menghubungi Ibumu, Ibumu bisa menyelamatkan kamu dari cengkeramanku, Adelia?" Samuel menggeleng pelan sambil menyeringai licik. "Tidak semudah itu, Adelia sayang!"
...***...