Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Rumah Baru Pak Adi


__ADS_3

Dania memperhatikan jalan yang dituju oleh Pak Sopir yang kini membawanya menuju kediaman Pak Adi dan Bu Ida. Namun, ada yang membuat Dania heran. Jalan yang dilalui oleh lelaki itu bukanlah jalan yang biasa ia lalui.


"Ehm, maaf, Pak. Sepertinya Bapak salah jalan. Ini bukan jalan menuju kediaman Ayahku," ucap Dania sambil menautkan kedua alisnya menatap jalanan yang ia lewati.


Pak Sopir tersenyum hangat. "Ini sudah benar, Nona."


Dania kesal mendengar jawaban Pak Sopir tersebut. Bukannya mendengarkan apa yang ia katakan, lelaki itu malah bersikukuh bahwa ia sudah benar.


"Pak. Ini bukan jalan menuju kediaman Ayah saya. Kenapa Anda tidak percaya dengan apa yang saya katakan, sih?!" kesal Dania. Di saat kepalanya sedang buntu dengan permasalahan yang sedang ia hadapi, lelaki itu malah menambah kekesalannya saja.


"Tidak, Nona Dania. Nona Dania tenang saja. Duduk dan bersantai lah," sahut Pak Sopir tersebut. Jawaban yang membuat Dania semakin naik darah.


Dania menghela napas berat kemudian menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi mobil. Wajahnya menekuk sempurna dan ia sudah kehilangan kata-kata.


"Huh! Paling-paling setelah ini Anda akan putar balik!" batin Dania sambil melirik kesal menatap Pak Sopir yang masih fokus pada kemudinya.


Setelah beberapa saat, mobil yang ditumpangi oleh Dania tersebut berhenti di depan sebuah rumah yang berukuran cukup besar. Dua kali lebih besar dari kediaman Ayahnya. Di halaman rumah tersebut tampak sebuah mobil baru berwarna hitam pekat sedang terparkir rapi.


"Rumah siapa ini, Pak? Ini bukan rumah Ayahku! Bapak ini bagaimana, sih?!" kesal Dania sambil memasang wajah masam menatap lelaki paruh baya tersebut.


Bukannya menjawab pertanyaan dari Nona kesayangan Tuannya itu, Pak Sopir malah menekan klakson berkali-kali hingga tampaklah seorang laki-laki paruh baya keluar dari rumah tersebut.


"Ayah?!" pekik Dania setelah menyadari bahwa lelaki yang baru saja keluar dari rumah tersebut adalah Ayahnya.

__ADS_1


"Tuan Daniel," seru Pak Adi dengan wajah semringah. Lelaki itu melangkah dengan cepat menuju pagar kemudian membukanya. "Silakan masuk, Tuan."


Karena kaca mobil milik Daniel terlihat gelap dari luar, Pak Adi tidak mengetahui bahwa yang datang saat itu bukanlah Tuan Daniel, melainkan anak gadisnya, Dania.


Pak sopir memasukkan mobil mewah milik Daniel ke halaman depan rumah tersebut. Ia memarkirkan mobil tersebut tepat di samping mobil baru berwarna hitam yang sudah terparkir di halaman itu sebelumnya.


"Sebenarnya ini rumah siapa, Pak? Bagaimana Ayahku bisa berada di sini?" tanya Dania heran.


"Ini rumah yang diberikan oleh Tuan Daniel untuk Ayah Anda, Nona. Sebagai ucapan terima kasihnya. Termasuk mobil ini juga," sahut Pak sopir sambil menunjuk ke arah mobil yang kini berada di samping mobil mereka.


"Benarkah? Tapi ... terima kasih untuk apa?" tanya Dania heran.


Pak Sopir tersebut keluar dari mobil kemudian membukakan pintu yang berada di samping Dania sambil tersenyum hangat. "Ucapan terima kasih karena sudah memberikan pengganti yang jauh lebih baik," sahut Pak Sopir.


Dania yang tadinya cemberut, kini tampak menyunggingkan sebuah senyuman tipis setelah mendengar jawaban dari Pak Sopir tersebut. Tepat di saat itu Pak Adi berdiri di samping Pak Sopir kemudian melirik ke dalam mobil milik Daniel.


"Tidak ada Tuan Daniel. Hanya aku, Ayah. Hanya aku," sahut Dania yang sedikit kesal karena Ayahnya itu hanya mengharapkan kedatangan Daniel dan bukan dirinya.


Pak Adi tersenyum kecut. "Oh, Ayah kirain Tuan Daniel juga ikut," sahutnya.


"Sayangnya tidak," sahut Dania datar.


"Oh, ya sudah. Sebaiknya kita masuk, Dania. Ibumu sedang membuat minuman di dalam," sahut Pak Adi sembari menuntun Dania memasuki rumah barunya. Rumah yang jauh terlihat lebih baik dari rumah mereka sebelumnya.

__ADS_1


"Rumah baru Ayah?" tanya Dania.


"Ya, bagaimana, Dania sayang? Bagus 'kan? Mobil itu juga, semua ini pemberian Tuan Daniel untuk kami sebagai ucapan terima kasihnya karena sudah memberikan sosok istri seperti dirimu," jawab Pak Adi.


Dania terdiam dan matanya tetap tertuju pada lelaki paruh baya yang kini berjalan di sampingnya itu. "Ternyata apa yang dikatakan oleh Pak Sopir itu benar. Tapi, aku masih bingung apa maksud Mas Daniel melakukan ini," batin Dania.


Ketika masuk ke dalam rumah tersebut, Dania melihat Bu Ida yang sedang melangkah menghampirinya. Wajah wanita itu tampak semringah, tidak kalah dari ekspresi Pak Adi sebelumnya.


"Di mana Tuan Daniel?" tanya Bu Ida sambil memperhatikan sekeliling dan wanita itu terlihat kecewa setelah sadar bahwa Tuan Daniel tidak ikut bersama Dania.


"Jadi hanya kamu, Dania?" tanyanya sambil melenggang mendahului Dania dan Pak Adi yang berjalan di belakangnya.


"Ya, hanya aku. Maaf jika mengecewakanmu, Bu," jawab Dania dengan tegas.


Setibanya di sofa, Bu Ida dan Pak Adi pun mempersilakan Dania untuk duduk di sana. "Duduklah, Nak," ajak Pak Adi sambil tersenyum hangat.


"Terima kasih," jawab Dania.


Bu Ida memperhatikan penampilan Dania yang kini jauh-jauh lebih cantik dan modis dari Dania yang ia kenal sebelumnya. Apalagi pakaian dan perhiasan yang dikenakan oleh gadis itu bukanlah sembarangan. Semuanya bermerek dan perhiasan yang dikenakannya pun adalah perhiasan mahal yang tidak mungkin sanggup ia beli.


"Aku permisi dulu. Kalian bicara saja dan silakan diminum minumannya," ucap Bu Ida sembari bangkit dan ingin beranjak dari tempat itu.


"Tunggu sebentar, Bu Ida. Tetaplah disini karena ada yang ingin aku bicarakan kepada kalian dan ini sangat penting," sahut Dania dengan nada tegas.

__ADS_1


Bu Ida yang tadi berniat pergi dari ruangan itu akhirnya mengurungkan niatnya dan kembali ke posisinya semula.


...***...


__ADS_2