
"Bagaimana? Sudah ketemu belum?" Adelia berbicara lewat ponsel dengan salah satu sahabat lama, ketika masih aktif menjadi model.
"Udah ada, tapi kamu punya uang nggak? Soalnya ini mahal," jawab sahabatnya.
"Hhh, kalau aku sudah meminta pertolonganmu, itu artinya aku sudah mempersiapkan semuanya!" kesal Adelia.
Wanita itu tertawa kecil. "Baiklah, temui aku di Cafe. Aku akan menunggumu di sana."
"Baiklah, aku segera otw."
Adelia memutuskan panggilannya kemudian menyimpan benda pipih itu ke dalam sebuah tas kecil. Tas kecil yang akan menemani Adelia ke Cafe untuk menemui sahabat lamanya itu.
"Hhh, semoga saja dia tidak menipuku."
Adelia merapikan rambut kemudian memoles sedikit liptint ke bibirnya. Setelah itu ia pun bergegas keluar dari kamar tersebut. Kamar yang menjadi tempat ternyaman nya dalam beberapa hari ini. Yang melindungi telinganya dari suara omelan dan hardikan Sang Ibu.
Ketika melewati ruang televisi, Adelia sempat melirik Bu Ida dan Pak Adi yang ternyata tengah bersantai di ruangan itu. Namun, hanya sebentar. Ia kembali mengalihkan pandangannya dan terus melangkah dengan cepat.
"Adelia, mau kemana kamu?"
Namun, Adelia tidak memperdulikan panggilan Bu Ida. Ia terus berjalan hingga menuju halaman depan. Ternyata Bu Ida tidak tinggal diam. Ia segera berlari dan menyusul Adelia hingga ke halaman depan.
"Del, Adelia! Kamu tuli, ya!" kesal Bu Ida dengan wajah cemberut.
"Ish, apa sih, Bu!" Adelia menghentikan langkahnya kemudian berbalik dan menatap wajah kesal Bu Ida yang berjalan menghampirinya.
"Mau kemana kamu? Mau jual diri lagi sama lelaki yang tidak bertanggung jawab itu, iya?" kesal Bu Ida.
__ADS_1
"Ya ampun, Ibu. Kenapa Ibu bicara seperti itu, sih? Memangnya siapa yang Ibu maksud? Samuel, iya? Heh, Bu. Samuel itu sudah mendekam di penjara. Jadi, buat apa aku menemui lelaki itu? Kayak yang gak ada pekerjaan aja," kesal Adelia sambil menyilangkan tangannya ke dada.
"Lah, trus kamu mau kemana dengan pakaian rapi seperti itu?" Bu Ida tidak mau kalah.
"Aku ingin menemui teman lamaku, Bu. Aku lelah berdiam diri terus di rumah ini. Aku jenuh, Bu. Jenuh!"
Adelia menghentakkan kakinya ke tanah kemudian berbalik dan melanjutkan perjalanannya keluar dari pekarangan rumahnya. Sementara Bu Ida hanya bisa menatap punggung Adelia yang semakin menjauh dari pandangannya sambil terus menggerutu.
Setelah Adelia menghilang dari pandangannya, Bu Ida pun kembali masuk ke dalam rumah itu. Ia kembali menghampiri Pak Adi yang masih bersantai dengan ditemani secangkir kopi panas kesukaannya.
"Kenapa wajahmu ditekuk seperti itu, Bu? Ada masalah lagi sama Adel?" tanya Pak Adi ketika Bu Ida datang menghampirinya dengan wajah kusut.
"Itu, Adelia. Entah mau kemana lagi anak itu. Memang benar-benar susah diatur," umpatnya sembari duduk kembali di posisinya semula.
"Loh, memangnya dia tidak ikut kita ke acara pesta syukurannya Tuan Daniel, ya?" tanya Pak Adi.
"Halahhh, tidak mungkin dia mau. Memangnya siapa yang sudi datang di pesta syukurannya mantan? Tuan Daniel 'kan mantannya Adelia," sahut Bu Ida.
"Ayah saja. Ibu pun ogah," ketus Bu Ida.
"Oh, jadi kalian tidak ada yang mau ikut aku datang ke pesta syukurannya Tuan Daniel, begitu? Ya, sudah. Tidak apa-apa. Aku bisa sendiri."
Tiba-tiba Bu Ida teringat akan Riska yang sekarang tampil semakin cantik dan mempesona. Terlintas di pikirannya sesuatu yang jelek-jelek tentang wanita itu.
"Bagaimana jika Riska kembali menggoda Adi? Bisa-bisa dia kembali kepincut sama mantan istrinya itu. Ah, ini tidak bisa di biarkan," gumam Bu Ida dalam hati.
"Baiklah-baiklah! Aku ikut Ayah," jawab Bu Ida kemudian.
__ADS_1
Sementara itu.
Dengan menaiki sebuah taksi online yang sudah ia pesan, akhirnya Adelia tiba di sebuah Cafe di mana Sang Sahabat sudah menunggu kedatangannya. Wanita itu tersenyum kemudian melambaikan tangan kepada Adelia yang baru tiba di tempat itu.
"Del, sini!" panggilnya
Setelah membayar jasa taksi online tersebut, Adelia pun bergegas menghampiri meja yang sudah dipesan oleh wanita itu.
"Mana barangnya?" tanya Adelia tanpa berbasa-basi lagi.
"Ish, sabar dong, Del. Duduk dulu lah, apa kamu tidak rindu dengan sahabat lamamu ini?" celetuk wanita itu sambil tersenyum hangat.
Akhirnya Adelia pun menjatuhkan dirinya di salah satu kursi. Ia duduk di sana sambil memasang wajah malas.
"Ini uangnya. Aku rasa jumlahnya sudah lebih dari cukup," Adelia mengeluarkan sejumlah uang dari dalam tasnya kemudian meletakkannya ke atas meja.
Wanita itu tersenyum lebar melihat sejumlah uang yang diserahkan oleh Adelia. "Bagus lah kalau begitu. Aku sih takut aja, takut kamu tidak bisa bayar. Kan sekarang kamu--"
"Ya, aku memang sudah sepi job. Tapi aku masih punya banyak simpanan, puas!" kesal Adelia.
"Iya, iya! Maaf deh kalau begitu."
Wanita itu segera meraih uang yang diberikan oleh Adelia kemudian menghitungnya. Iw tersenyum lebar setelah selesai menghitung uang tersebut. Sembari menyimpan uang itu ke dalam tasnya, ia juga mengeluarkan sebuah benda kecil berbungkus kertas kepada Adelia.
"Ini barangnya. Jangan lupa berdoa sebelum menggunakannya," ucap wanita itu sambil menyeringai.
Adelia mendengus kesal. "Tertawalah sepuasmu! Aku tidak peduli," sahut Adelia sembari meraih benda itu dan menyimpannya ke dalam tas.
__ADS_1
Setelah mendapatkan barangnya, Adelia pun segera pergi dari tempat itu dan meninggalkan sahabat lamanya di sana sendirian.
...***...