
"Ingat, Sayang. Tetap bersamaku dan jangan pernah menjauh dariku. Kamu mengerti?" ucap Daniel, mencoba mengingatkan Dania.
"Ya, tentu saja, Sayang."
"Bagus." Daniel mencium puncak kepala Dania dan kini mereka melangkah bersama menuju Ruangan di mana Adelia di rawat.
Kedatangan pasangan itu di sambut hangat oleh Bu Ida dan Pak Adi. Mereka tampak begitu senang, terlebih Bu Ida. Ya, dia sangat senang karena akhirnya ia terbebas dari beban berat yang hampir saja membelenggu hidupnya.
"Selamat datang, Tuan Daniel, Dania. Apa kalian ingin bicara bersama Adelia? Dia sudah sadar kok, dan sudah bisa di ajak bicara," ucap Bu Ida dengan wajah semringah.
Dania memperhatikan wajah dingin Daniel kemudian bertanya kepada lelaki itu. "Apakah kamu ingin menemui Kak Adel, Mas?"
"Tidak." Jawaban yang begitu singkat, tetapi jelas.
Dania pun mengerti dan ia tidak ingin memaksakan hal itu kepada Daniel. Ia tersenyum kemudian meraih tangan Bu Ida yang ingin membukakan pintu ruangan Adelia.
"Tidak usah, Bu. Lagi pula kami hanya sebentar di sini. Biar kami duduk di sini saja," ucap Dania kepada Bu Ida.
"Oh, baiklah kalau begitu."
Daniel menuntun Dania duduk dengan perlahan di sebuah kursi tunggu dan ia pun ikut duduk di sana sambil memperhatikan sekelilingnya.
__ADS_1
"Sebenarnya Kak Adel sakit apa, Bu?"
Bu Ida dan Pak Adi saling tatap dan mereka tampak ragu menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada Adelia kepada pasangan itu.
"Ehm, sebenarnya ...." Bu Ida terdiam dengan kepala tertunduk. Ia bingung harus bagaimana menceritakannya.
"Adelia hampir saja kehilangan nyawanya karena mengalami pendarahan hebat akibat menelan pil penggugur kandungan. Benar 'kan, Bu Ida?" sambung Daniel dengan wajah dinginnya menatap Bu Ida.
Bu Ida membulatkan matanya. Ia tidak mengerti bagaimana Daniel tahu cerita itu. Padahal baik ia maupun Pak Adi tidak pernah bercerita sebelumnya.
"Benarkah itu?" Dania pun tampak syok mendengarnya.
"Ba-bagaimana Tuan tahu cerita itu?" tanya Bi Ida dengan terbata-bata.
"Tentu saja aku tahu. Aku tahu semua tentang kalian, Bu Ida. Dan aku bahkan sangat tahu bagaimana kalian memperlakukan Dania-ku ketika masih bersama kalian. Apa kah kalian ingin tahu, apa saja yang aku ketahui tentang kalian semua?"
Bu Ida menggelengkan kepalanya dengan cepat. Ia tidak ingin seluruh keburukannya terbongkar hanya gara-gara Daniel mengatakan semua yang diketahuinya.
"Ti-tidak usah, Tuan. Maafkan saya," sahut Bu Ida dengan wajah panik.
"Dari mana kamu tahu soal itu, Mas? Aku sendiri bahkan tidak mengetahui soal itu," ucap Dania dengan wajah terheran-heran.
__ADS_1
"Ya, tentu saja aku tahu. Aku harus tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum aku memutuskan untuk membantu mereka," jawab Daniel dengan santainya.
"Lalu, bagaimana sekarang kondisinya, Bu?" tanya Dania kepada Bu Ida dengan wajah cemas.
"Begitulah, Nak. Beruntung Ayah dan Ibu cepat membawanya ke Rumah Sakit. Jika terlambat sedikit saja, mungkin Adelia sudah ...." Bu Ida menghentikan ucapannya sejenak sembari menarik napas dalam kemudian menghembuskannya lagi.
"Bagaimana dengan bayinya?" tanya Dania dengan ragu-ragu.
Bu Ida menggelengkan kepalanya secara perlahan. "Sudah tidak ada dan yang lebih malangnya lagi, Adelia terancam tidak bisa memiliki keturunan lagi, Dania. Rahimnya rusak akibat pil penggugur kandungan yang ia minum," tutur Bu Ida sambil menangis tersedu.
"Ya, Tuhan. Yang sabar ya, Bu. Semoga ada hikmah di balik semua kejadian ini," ucap Dania sambil mengelus lembut punggung Bu Ida.
"Iya, Nak. Semoga saja," lirih Bu Ida sembari mengusap air matanya.
"Tuan Daniel. Terima kasih banyak atas bantuan Tuan kepada keluarga kami. Seandainya Tuan Daniel tidak bersedia membantu, entah bagaimana nasib kami saat ini," tutur Bu Ida dengan mata berkaca-kaca menatap Daniel.
"Berterima kasihlah kepada Dania sebab semua keputusanku ada padanya," sahut Daniel.
"Terima kasih banyak, Nak Dania."
Dania melirik Daniel sambil tersenyum tipis. "Sudah, Bu. Tidak apa-apa, kami malah sangat senang bisa membantu Ibu dan Ayah," jawab Dania, mewakili Daniel yang masih enggan bicara bersama wanita paruh baya itu.
__ADS_1
...***...