Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 114


__ADS_3

"Asal jangan minta aku menumbuhkan rambutku saja. Sebab aku tak mampu," jawabnya sambil tergelak.


"Terima kasih, Tuan Marco. Tunggu, biar saya panggil Istri saya dulu."


Daniel memanggil Dania dan wanita itu dengan semangat 45 segera menghampiri meja Tuan Marco bersama Sang Istri.


"Bagaimana, Mas? Boleh?" tanya Dania sembari berdiri di samping Daniel.


"Ya. Tuan Marco memperbolehkan kamu menyentuh kepalanya. Tapi, hati-hati ya, Sayang. Jangan kasar-kasar, gak boleh!" ucap Daniel sembari mengelus lembut perut istrinya itu.


"Iya, iya! Baiklah," sahut Dania.


Dania menghampiri Tuan Marco sambil tersenyum semringah. Sementara Tuan Marco segera menundukkan kepalanya untuk mempermudahkan Dania menyentuh kepalanya.


"Permisi ya, Tuan."


"Silakan, Nak."


Perlahan Dania menyentuh kepala plontos milik Tuan Marco dengan lembut. Ia heran bagaimana kepala lelaki itu bisa terlihat kinclong dan tak ada noda sedikitpun di sana. Sementara Daniel hanya bisa memijit kepalanya yang tidak sakit sambil memperhatikan Dania yang begitu semangat menyentuh kepala lelaki itu.


"Astaga! Apa yang dilakukan oleh Dania di sana, Bu?"


Selly histeris setelah sadar apa yang dilakukan oleh Dania saat itu. Ia membulatkan matanya sembari memperlihatkan apa yang dilakukan oleh Dania saat itu.

__ADS_1


"Maklum. Bawaan jabang bayi, Sell. Ia bisa menginginkan apa saja yang menurut orang lain tak masuk akal sekalipun. Hati-hati, kamu pun akan merasakannya nanti. Jangan-jangan kamu lebih gila dari Dania lagi," sahut Tommy sambil tertawa pelan, menggoda anak perempuannya itu.


"Ish, Ayah!" protes Selly.


Setelah keinginannya terkabul, Dania pun tersenyum puas. Beberapa kali Dania mengangguk hormat kepada Tuan Marco dan berterima kasih kepadanya.


"Terima kasih banyak, Tuan Marco. Maaf, jika saya sudah mengganggu kenyamanan Anda dan Nyonya," ucap Dania.


"Tidak apa-apa, Nak. Orang hamil mah memang begitu. Permintaannya kadang memang di luar nalar," sahut Tuan Marco.


"Boleh, Ibu sentuh perutmu?" tanya istri Tuan Marco kepada Dania sambil tersenyum hangat.


"Tentu saja boleh, Bu. Sentuh lah," jawab Dania.


"Amin, Bu. Terima kasih," jawab Dania.


Wanita itu mengulurkan tangannya ke hadapan Dania dan mereka pun berpelukan. Riska, Tommy dan Selly yang sejak tadi memperhatikan apa Dania yang dilakukan oleh Dania dari kejauhan, kini datang mendekat.


"Maafkan anak kami ya, Tuan Marco. Dia memang sedikit cerewet saat ini. Maklum, moodnya masih belum normal," ucap Bu Riska kepada Tuan Marco karena merasa tidak nyaman.


"Tidak apa, Bu Riska. Saya mengerti, kok."


Sementara Dania begitu senang karena permintaan anehnya sudah terkabul. Di kediaman Pak Adi dan Bu Ida.

__ADS_1


Adelia berbaring dengan posisi meringkuk di atas tempat tidurnya. Ia memegang perutnya yang sakit dengan wajah memucat.


"Akh, sialan! Mereka tidak pernah bilang bahwa aku akan merasakan sakit yang amat sangat seperti ini!" keluh Adelia dengan wajah yang memucat.


Ia terus mencengkram erat perutnya sambil meringis kesakitan. "Ya ampun, sakit sekali!"


Saking sakitnya, Adelia sampai berguling-guling di atas tempat tidurnya. Cukup lama Adelia menahan rasa sakit tersebut, hingga akhirnya ia merasakan ada sesuatu yang keluar dari area pribadinya. Seperti cairan kental dengan jumlah yang cukup banyak.


Di tengah-tengah rasa sakit yang ia rasakan, Adelia menyunggingkan sebuah senyuman. Ia senang karena obat yang diberikan oleh sahabat lamanya itu benar-benar bekerja dengan baik.


"Ah, akhirnya!"


Dengan sisa-sisa tenaganya, Adelia mencoba bangkit dari tempat tidurnya. Adelia berdiri dengan berpegangan di sandaran tempat tidur kemudian memperhatikan sepreinya yang berantakan tersebut. Ada bercak darah yang cukup banyak di sana dan itu bukanlah darah kotor, melainkan darah segar yang keluar dari daerah sensitifnya.


"Ya ampun, banyak sekali!" gumam Adelia.


Adelia berjalan dengan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Ia berniat membersihkan dirinya dari darah yang terus mengucur di area pribadinya tersebut. Setibanya di ruangan tersebut, Adelia segera melepaskan celana serta pakaiannya. Yang tersisa hanya braa untuk menutupi kedua buah kenyalnya.


Adelia duduk di toilet dan membiarkan cairan itu mengalir dengan sendirinya. Seiring banyaknya cairan merah itu keluar, tenaga Adelia pun semakin berkurang. Kepalanya terasa berputar-putar dan penglihatannya menjadi buram. Belum lagi rasa sakit yang begitu melilit perutnya, sama sekali belum berkurang sedikitpun.


"Ampun! Apalagi ini?!" pekik Adelia.


...***...

__ADS_1


__ADS_2