Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 119


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian.


"Ya ampun, pinggangku!" keluh Dania sembari menjatuhkan dirinya di sofa ruang utama.


Daniel terkekeh pelan mendengar keluhan Sang Istri yang sudah mulai kewalahan membawa perut besarnya. Lelaki itu ikut duduk di samping Dania kemudian meraih kaki wanita itu dan meletakkannya ke atas pangkuannya.


"Sini, biar aku bantu pijat, ya."


Daniel pun tanpa risih, mulai memijat kaki Dania yang terlihat membengkak. Bukan hanya kakinya, bahkan wajahnya pun sekarang terlihat semakin chubby. Berat badan Dania juga ikut-ikutan meningkat, seiring dengan perkembangan si Daniel Junior di dalam perutnya.


Dania menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa sambil memejamkan mata. Ia begitu menikmati pijatan yang dilakukan oleh suaminya itu.


Tiba-tiba seorang penjaga keamanan datang menghampiri mereka untuk memberitahu sesuatu. "Tuan, di luar ada tamu."


Daniel mengangkat kepalanya kemudian menatap lekat Penjaga Keamanan tersebut. "Siapa?"


"Nona Adelia. Dia bilang ada yang ingin ia bicarakan kepada Tuan dan Nona. Dan ia juga berjanji tidak akan membuat masalah ataupun keributan," jawab lelaki sangar bertubuh besar tersebut.


Dania membuka matanya. "Persilakan dia masuk."


"Baik, Nona." Penjaga Keamanan itu pun segera pergi dan kembali ke depan gerbang untuk menemui Adelia yang menunggunya di sana.


Daniel memasang wajah malas ketika menatap Dania yang masih menyandarkan kepalanya di sandaran sofa. "Dania ...."


"Tidak apa, Mas. Kak Adel sudah berubah, kok. Dia sudah tidak menyebalkan sama seperti dulu. Percayalah padaku," ucap Dania sembari menarik kakinya dari pangkuan Daniel dan membenarkan posisinya.


"Aku tidak akan menjamin keselamatannya, jika ia berani berbuat hal yang aneh-aneh lagi kepadaku," sahut Daniel dengan wajah serius.

__ADS_1


Dania tertawa pelan sembari memeluk lengan kekar Daniel. "Tidak akan. Aku berani jamin."


Tidak berselang lama, Adelia pun tiba di ruangan itu sambil tersenyum hangat menatap Daniel dan Dania.


"Bolehkah aku duduk?" tanyanya karena Daniel dan Dania masih diam tanpa bicara sepatah katapun.


"Oh, iya. Silakan duduk, Kak," ucap Dania sembari membalas senyuman Adelia. Sementara Daniel masih saja memasang wajah malas.


Adelia pun segera duduk dan kembali tersenyum. Namun, senyumannya kali ini terlihat berbeda dari sebelumnya. Ada kesedihan yang terlihat di balik senyuman itu.


"Daniel, Dania, hari ini aku ingin meminta maaf kepada kalian atas semua perbuatan yang pernah aku lakukan. Aku benar-benar menyesal," ucap Adelia seraya menundukkan kepalanya. Punggungnya tampak bergetar dan wanita itu terisak di sana.


Setelah kejadian itu, Adelia memang banyak berubah. Ia tidak lagi menyebalkan sama seperti sebelumnya. Ia bahkan cenderung pendiam dan lebih banyak mengurung diri di dalam kamar. Kejadian yang menimpanya hari itu, membuat Adelia sadar bahwa selama ini ia memang salah dan ia sangat menyesali perbuatannya.


"Benarkan kataku?" bisik Dania kepada Daniel sambil tersenyum manis


Daniel masih tidak bicara sepatah katapun. Bibirnya tetap terkunci rapat dan ia seakan tidak peduli dengan semua itu.


Dania mengangguk cepat. Walaupun Adelia adalah sosok Kakak yang selalu bersikap buruk terhadapnya. Namun, ia tidak pernah sekalipun menaruh dendam kepada wanita menyedihkan itu.


"Tentu saja, Kak. Kenapa tidak. Benar 'kan, Mas?" Dania melirik Daniel yang masih memasang wajah malas.


"Apa?" sahut Daniel yang seolah tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Dania saat itu.


"Ih, astaga Mas Daniel! Bilang iya!" tegas Dania dengan wajah menekuk.


"Iya, iya!" jawab Daniel sambil mendengus kesal dan tampak jelas bahwa lelaki itu tidak ikhlas ketika mengatakan 'iya'.

__ADS_1


"Tidak apa, Dania. Aku tidak bisa memaksa kalian untuk memaafkan semua kesalahanku. Tapi setidaknya aku merasa sedikit lebih lega karena sudah berhasil mengucapkan permintaan maafku kepada kalian." Adelia tersenyum kecut sambil meremass-remass kedua tangannya.


"Ya. Aku memaafkanmu, Adelia. Lagi pula aku berhutang budi padamu. Jika hari itu kamu tidak kabur dariku, mungkin aku tidak akan pernah mendapatkan berlian ini," sahut Daniel seraya mengusap lembut puncak kepala Dania.


Dania menekuk wajahnya. "Ih, Mas Daniel. Jangan bicara seperti itu. Kan tidak enak sama Kak Adel," bisik Dania.


"Lah, kenapa? Lagi pula aku mengatakan yang sebenarnya. Aku bahagia karena sudah mendapatkanmu. Ya, walaupun kamu agak mengesalkan selama berbulan-bulan ini," jawab Daniel tidak mau kalah.


Adelia hanya bisa tersenyum tipis sembari memperhatikan perdebatan kecil antara pasangan itu. Walaupun berdebat, tetapi mereka tetap terlihat romantis di matanya.


"Oh ya, Dania. Kapan jadwal operasimu? Kudengar dari Ibu katanya kamu akan melakukan operasi cecar," tanya Adelia.


"Iya, Kak. Jadwal operasi cecarnya minggu depan. Dokter terpaksa mengambil keputusan itu karena bayi kami berukuran jumbo dan tidak memungkinkan aku melahirkan secara normal," sahut Dania sambil tertawa pelan.


"Benarkah? Aku doakan semoga operasinya berjalan dengan lancar. Semoga kamu dan bayi kalian selamat dan sehat. Sayang, aku tidak bisa mengunjungimu," ucap Adelia sambil tersenyum kecut.


"Kenapa?" tanya Dania heran.


"Aku akan pergi ke luar kota, Dania. Dan mungkin aku akan jarang pulang. Aku mendapatkan sebuah job dari salah satu temanku, tapi bukan sebagai model. Aku ditawari bermain di salah satu sinetron di televisi swasta dan gajinya pun lumayan dari pada nganggur. Setidaknya, aku masih bisa bantu-bantu Ibu," tutur Adelia.


"Kakak yakin pekerjaan Kakak aman?" tanya Dania yang tampak cemas mendengar penuturan wanita itu.


Adelia tersenyum. "Aman, kok. Kamu tenang saja."


"Wah, ada kemajuan," sela Daniel masih dengan wajah dinginnya menatap Adelia.


Adelia terkekeh pelan. "Hanya pemain pembantu, Niel. Ya, setidaknya dengan bekerja di sana, aku tidak lagi menjadi beban untuk Ayah dan Ibuku."

__ADS_1


"Baguslah," sahut Daniel.


...***...


__ADS_2