
"Bersiap!" teriak Selly yang berperan sebagai wasit untuk kedua lelaki itu.
"Eh, Selly! Ingat, apa yang sudah kita bicarakan tadi!" ucap Daniel dengan setengah berbisik dan sorotan tajam mata elangnya terus tertuju pada Selly yang kini berdiri di antara dirinya dan Erick.
"Jangan berpikir untuk bermain curang ya, Tuan Pemarah!" kesal Erick yang tidak suka saat Daniel mulai menekan Selly yang menjadi wasit di antara mereka.
"Ya, Kak Daniel. Maafkan aku, tapi kali ini aku tidak bisa menuruti keinginanmu," tegas Selly.
"Ck!" Daniel berdecak sebal sambil memasang wajah masam. "Dasar Adik tidak berguna!"
"Sudahlah, Sayang! Menang atau kalah, kamu tetap menjadi seorang pemenang di hatiku," bisik Dania pelan di samping telinga Daniel.
Daniel tersenyum setelah mendengar kata-kata Dania barusan. Layaknya booster, yang membuat dirinya menjadi bersemangat untuk mengalahkan Erick. Lelaki paling menyebalkan yang pernah ia temui.
"Baiklah, aku berjanji akan memenangkan pertandingan ini untukmu. Kamu lihat baik-baik, ya!" ucap Daniel dengan mantap.
"Ya, aku percaya padamu."
Selly mengangkat sebelah tangannya ke udara sembari berteriak. "Bersiap! Satu ... dua ... tiga!"
Setelah hitungan ke tiga, Daniel dan Erick pun segera memacu langkah mereka dengan cara melompat-lompat. Walaupun tampak kesusahan, tetapi kedua lelaki itu tetap semangat melakukannya, terutama Daniel.
__ADS_1
"Ayo! Ayo! Ayo!" teriak seluruh penonton yang ada di halaman tersebut.
Dengan penuh semangat mereka menyemangati jagoan mereka masing-masing. Kubu Daniel berteriak dengan sangat keras, kubu yang diketuai oleh Dania. Sementara kubu Erick diketuai oleh Yaya dan ia pun tidak kalah semangat dari Dania saat berteriak menyemangati pendiri Yayasan Cahaya Asa tersebut.
"Ayo, Mas Daniel sayang! Kamu pasti menang! teriak Dania.
"Walaupun Kakakmu itu kadang suka menyebalkan, tetapi aku akan tetap mendukungnya karena dia adalah suamiku! Dan tugasku sebagai istri, aku harus mendukung Mas Daniel sepenuhnya," tutur Dania kepada Selly yang sempat meliriknya dengan wajah heran.
"Oh, begitu ya!" Selly menganggukkan kepala pelan. "Kak Erick! Semangat, aku mendukungmu! Kakak pasti bisa mengalahkan Kak Daniel!" teriak Selly kemudian.
Erick tersenyum tipis mendengar teriakkan Selly dan ia melirik kepada Daniel dengan tatapan mengolok-olok. "Kau dengar itu, Tuan Daniel? Bahkan Adikmu saja berada di kubuku!"
Hanya satu yang ada di pikiran Daniel saat itu, memenangkan lomba tersebut untuk membuktikan pada Dania bahwa dirinya jauh lebih unggul dari pada Erick.
Begitu pula yang ada di pikiran Erick saat itu, ia gemas ingin memenangkan lomba tersebut dan membuktikan pada semua orang Daniel bukanlah siapa-siapa. Hanya seorang lelaki lemah yang bersembunyi di balik kekuasaannya.
Daniel melirik Max yang berdiri di antara deretan para penikmat lomba tersebut. Max si Muka Datar pun mengerti. Lelaki itu menganggukkan kepalanya pelan, bahkan tidak ada sesiapapun yang menyadari akan hal itu.
Ketika Erick melewatinya, tiba-tiba Max menjulurkan kakinya ke depan dan menghalangi langkah Erick. Sontak saja Erick terjatuh bersama karung goni yang masih menyelimuti separuh tubuhnya.
Melihat hal itu, sontak saja para penonton pun berteriak. Ada yang memberikan semangat agar Erick segera bangkit dan ada pula yang mengejeknya sambil tertawa.
__ADS_1
Daniel tersenyum dengan santainya. Ia melirik lelaki itu dengan sorotan mengejek. Erick tentu saja marah. Erick kesal karena ia sadar Daniel sudah berlaku curang dengan memerintahkan Max untuk menjatuhkannya.
"Ah, kamu curang, Tuan Daniel! Kamu sengaja 'kan, menyuruh orang ini agar ia menjatuhkanku!" kesal Erick sembari bangkit dari posisinya kemudian melemparkan karung goni tersebut ke tanah.
Ia juga menghampiri Max kemudian menunjuk wajah lelaki sangar itu karena saking kesalnya. Max mendengus kesal dengan mata melotot tajam menatap Erick. Nyali Erick tiba-tiba menciut dan menarik kembali jarinya sembari tersenyum kecut.
Daniel tidak peduli, ia terus melompat-lompat hingga akhirnya lelaki itu berhasil mencapai garis finish. "Yesss! Aku menang dan kau kalah!" teriaknya dengan wajah semringah.
"Aku tidak terima! Kamu curang dan aku ingin perlombaan ini diulang!" kesal Erick.
"Sudahlah, Erick! Akui saja, kamu kalah dan aku menang!" sahut Daniel dengan santainya menghampiri Dania. Dania yang tidak tahu kecurangan suaminya, tentu saja sangat bangga. Ia tidak pernah menyangka bahwa ternyata suaminya itu bisa memenangkan perlombaan ini.
"Selly, kamu sebagai juri pasti tahu bahwa Kakakmu itu sudah bermain curang! Ia meminta lelaki sangar itu untuk menjatuhkanku, benar 'kan?!" kesal Erick yang masih mencari pembelaan.
Namun, karena saat itu Selly tidak melihat kejadian itu, ia pun terpaksa menggelengkan kepalanya. "Maafkan aku, Kak Erick. Tapi sepertinya Kak Daniel memang menjadi pemenangnya," jawab Selly.
"Huh! Kalian sama saja! Ternyata kalian memang sudah bersekongkol untuk menjatuhkan aku," gerutu Erick sembari melenggang pergi.
"Kak Erick! Bukan seperti itu, Kak!" teriak Selly. Ia mencoba menahan langkah Erick. Namun, Erick tidak peduli dan terus melangkah hingga menghilang dari tempat itu.
...***...
__ADS_1