Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Menagih Hutang


__ADS_3

"Sekarang Tuan beristirahat lah," ucap Dania sembari menyelimuti Daniel yang kini sedang berbaring di atas tempat tidur mewahnya.


Baru saja Dania ingin beranjak, tiba-tiba Daniel meraih tangan gadis itu. "Tunggu sebentar!"


Dania pun segera berbalik dan menatap lelaki itu dengan alis yang saling bertaut. "Ada apa, Tuan?"


"Kamu lupa sesuatu? Malam ini aku ingin menagih hutang-hutangmu padaku!" ucap Daniel kemudian sembari menarik tangan Dania secara tiba-tiba hingga ia jatuh tepat di tubuh kekar lelaki itu.


Dania tampak salah tingkah, sementara lelaki itu terus tersenyum menatapnya. "Hu-hutang apa?"


Daniel bangkit dari posisinya kemudian duduk dan bersandar di sandaran tempat tidur. Sementara tangan Dania masih melekat erat di dalam genggamannya.


"Apa kamu lupa, sekarang aku adalah donatur tetap di Yayasan Cahaya Asa yang didirikan oleh Erick gara-gara dirimu. Dan sekarang aku ingin meminta bayaranku soal itu," ucap Daniel sambil menyeringai menatap gadis itu.


Dania menelan salivanya dengan susah payah. Sekarang ia baru ingat soal permintaan Daniel sebelumnya. "Ya, Tuhan! Sebenarnya apa yang dia inginkan dariku," gumam Dania dalam hati.


"Bagaimana caraku membayarnya, Tuan? Bukankah Tuan sendiri tahu bahwa aku tidak punya uang?" lirih Dania.


"Bukan! Aku tidak butuh uang, karena uangku sudah lebih dari cukup. Aku ingin kamu membayarnya dengan cara yang lain," jawab Daniel yang kembali menyeringai licik.

__ADS_1


Dania menautkan kedua alisnya, heran. Namun, melihat dari seringaian yang tampak di wajah tampan lelaki itu, Dania tahu ada sesuatu yang tidak beres, yang diinginkan oleh lelaki itu darinya. "A-apa itu?"


Daniel tidak menjawab saat itu. Namun, tangan lelaki itu mulai menjalar dari tangan Dania kini turun menuju perutnya. "Aku ingin menitipkan sesuatu di sini, boleh 'kan?"


Deg!


Tubuh Dania sontak menegang. Mata gadis itu membulat sempurna. Ia mengerti apa maksud lelaki itu, tetapi ia berpura-pura seolah tidak mengerti. "A-apa maksud, Tuan? A-aku tidak mengerti," tanya Dania dengan terbata-bata.


Daniel kembali tersenyum dan meraih wajah Dania agar mendekat ke arahnya. "Aku yakin kamu mengerti, Dania. Dan kamu tidak boleh menolak, bukankah kamu istriku? Kamu berdosa jika menolak keinginan suamimu ini," ucap Daniel dengan jarak yang begitu dekat. Bahkan jaraknya bersama gadis itu hanya tinggal beberapa centimeter.


Dania pun menganggukkan kepalanya dengan cepat setelah mendengar penuturan lelaki itu. "Ehm, sebenarnya aku takut, Tuan," ucap Dania dengan wajah pucat.


"Kenapa harus takut?" Daniel menatap lekat kedua bola mata indah Dania saat itu.


Daniel tersenyum puas mendengar penuturan gadis itu. Ia begitu bahagia karena impiannya selama ini menjadi kenyataan. Memiliki seorang istri yang benar-benar original dan belum pernah tersentuh sama sekali.


Daniel kembali meraih wajah Dania yang tertunduk agar segera melihat ke arahnya. "Hei, apa kamu tahu, ini juga yang pertama kalinya untukku. Jadi, kita bisa memulainya dengan lembut," ajak Daniel.


Mata Dania membulat. "Benarkah? Serius, ini yang pertama kalinya untukmu? Ah, kenapa aku tidak percaya, secara Tuan itu--"

__ADS_1


"Apa?!" sela Daniel dengan ekspresi wajah kesal.


"Ah, bukan apa-apa! Aku hanya ingin bilang bahwa Tuan itu 'kan kaya raya dan juga tampan. Pasti banyak sekali wanita-wanita cantik yang rela melakukan apa saja untuk Anda," tutur Dania.


"Ya, itu memang benar. Aku bisa mendapatkan wanita manapun kalau aku mau. Bahkan mereka tidak segan memberikan kehormatan mereka kepadaku, tapi aku masih memegang erat janjiku selama ini. Aku pernah berjanji pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan pernah menyentuh wanita manapun sebelum wanita itu sah menjadi istriku," tegas Daniel dengan wajah serius menatap Dania.


"Benarkah?" Wajah Dania tampak berseri-seri.


"Ya, percayalah padaku. Malam ini akan menjadi malam pertama kita. Pertama untukku dan pertama pula untukmu," ucap Daniel sambil mengelus lembut pipi Dania yang kini terlihat merona menahan malu.


"Sekarang, apa kamu bersedia jika aku meminta hakku malam ini?" tanya Daniel lagi, mencoba meyakinkan.


Dania yang tadinya nampak ragu, sekarang memantapkan hatinya. "Ya, baiklah. Aku bersedia," jawab Dania.


Setelah mengucapkan hal itu, Dania bangkit dari posisi duduknya kemudian melepaskan genggaman erat tangan Daniel.


"Hei, kamu mau ke mana?" tanya Daniel sambil menautkan kedua alisnya karena Dania bersiap pergi dari tempat tidur mewah mereka.


"Aku ingin bersiap-siap, Tuan. Tunggulah sebentar di sini," ucap Dania sembari melangkahkan kakinya menuju kamar mandi.

__ADS_1


Daniel tersenyum lebar setelah mendengar penuturan gadis itu. Entah persiapan seperti apa yang ingin dilakukan oleh gadis itu, yang pastinya Daniel sangat senang. Dengan sabar, Daniel menunggu Dania kembali padanya dan membiarkan gadis itu melakukan persiapan menyambut malam pertama mereka.


...***...


__ADS_2