
"Begini saja, Sayang! Kalau kamu memang ingin bergadang, sebaiknya kita bangunkan seluruh penghuni rumah. Bagaimana? Jadi, acara begadangnya 'kan jadi lebih asik," ajak Daniel sambil menyeringai menatap Dania.
"Baiklah, aku setuju." Dania mengangguk dan anehnya wanita itu setuju dengan ide bodoh yang tercetus di kepala Daniel.
"Ayo, sini!" Daniel menuntun Dania dan mengajaknya keluar dari kamar. Mereka melangkah menuju ruang utama sambil tertawa pelan.
"Coba lihat ini ya, Sayang! Perhatikan baik-baik."
Daniel mempersiapkan suaranya kemudian menghitung satu sampai tiga. "Satu ... dua ... tiga!"
"Tolong, woy! Toloooonggggg!" teriak Daniel dengan lantang di tengah pagi-pagi buta. Di mana penghuni di rumah megah itu sedang terlelap tidur.
Dan benar saja, pintu kamar pun mulai terbuka dan penghuninya keluar dengan mata membesar. Mereka bergegas menghampiri asal suara dengan wajah panik. Bahkan ada di antaranya membawa pentungan di tangan.
"Ada apa, Tuan Daniel? Ada maling?!" pekik salah seorang pelayan.
Bukan hanya pelayan, penjaga keamanan yang sedang berjaga di depan pun datang dengan tergopoh-gopoh kepada Daniel.
"Iya. Ada apaan sih, Kak?" Selly keluar dari kamarnya sambil mengucek mata dan beberapa kali menguap.
"Tidak ada apa-apa. Aku sengaja membangunkan kalian karena Nyonya besarku ini sedang mengalami insomnia dan ia sama sekali tidak mengijinkan aku untuk tidur. Oleh sebab itu, kalian pun harus ikut begadang bersama kami!" jelas Daniel.
Huft!
Seluruh orang yang berkumpul di ruangan itu menghembuskan napas berat.
"Eh, kenapa? Kalian keberatan, ya?" ucap Daniel kemudian sambil bertolak pinggang. Sementara Sang Istri terus tersenyum sambil memeluk lengan Daniel dengan erat.
__ADS_1
"Tidak, Tuan." Para pelayan itu pun menggelengkan kepalanya.
"Aku keberatan. Aku mau kembali ke kamar karena aku masih mengantuk," celetuk Selly sembari melangkah menuju kamarnya.
"Woy! Siapa yang suruh kamu kembali, ha? Kembali lagi ke sini," titah Daniel dengan mata melotot menatap Selly yang kini memasang wajah menekuk sempurna. "Yang boleh kembali hanya para penjaga keamanan, sementara kalian akan bergadang bersama kami!"
"Tapi, Kak!" protes Selly sambil melangkah balik.
"Tidak ada kata tapi," sahut Daniel sambil menjatuhkan dirinya bersama Dania ke sofa yang ada di ruangan itu.
"Sekarang apa yang harus kami lakukan, Kak?" lirih Selly sambil menguap.
Ia menjatuhkan dirinya di sofa, tak jauh dari Daniel dan Dania berada. Sementara para pelayan ada yang duduk di sofa dan ada yang duduk di lantai dengan kepala bersandar di sofa sambil mencuri-curi waktu tidur mereka di saat Daniel lengah.
"Tanya saja si Nyonya Besar," jawab Daniel.
"Kita ngerujak aja, yuk. Tiba-tiba aku ingin makan rujak bersama kalian," pinta Dania.
Selly menepuk jidatnya sambil bergumam. "Ini bumil benar-benar bikin naik darah. Masa iya ngerujak pagi-pagi buta seperti ini? Aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika perut itu semakin membesar dan ia kena insomnia di setiap malamnya. Apakah seluruh penghuni rumah ini juga akan ikut bergadang bersamanya? Jika itu benar, maka aku akan berhenti menginap di sini."
"Kenapa diam? Kalian tidak mau, ya?" Dania mulai memasang wajah masam.
"Mau, Nona. Mau!"
Para pelayan pun bergegas ke dapur menyiapkan keinginan aneh Nona mereka tersebut. Ada yang mengupas buah sambil menguap. Ada yang mengulek sambel kacang sambil manggut-manggut karena rasa kantuk kembali menyerang mereka.
"Hei, teman-teman. Bagaimana nasib kita semua selama sembilan bulan ke depan? Apa kalian merasa bahwa kita akan baik-baik saja?" celetuk salah satu dari mereka, yang berperan sebagai kepala pelayan.
__ADS_1
"Hmm, entahlah, kami ragu."
Setelah selesai mereka pun kembali ke ruang utama sambil membawa aneka buah yang sudah dikupas lengkap dengan sambel kacang favorit Dania.
"Ini, Nona."
Dania pun tersenyum puas. Ia meraih sepotong mangga muda kemudian mencocolnya ke sambel kacang buatan para pelayannya itu.
"Ehm, enak sekali!" gumam Dania. "Ayo, di makan, gih! Temani aku," ajak Dania.
Selly dan para pelayan pun segera mencicipi rujak tersebut. Rasa rujak yang manis, asem dan asin, membuat mata mereka akhirnya benar-benar terbuka lebar. Rasa kantuk yang tadinya menyerang mereka akhirnya menghilang.
Sementara Sang Pemilik rujak malah tertidur setelah mencicipi beberapa potong mangga muda. Daniel membenarkan posisi Dania kemudian bersiap membawa Dania kembali ke kamar mereka.
"Kalian habiskan saja rujaknya, kami mau tidur. Jangan ribut!" ucap Daniel dengan setengah berbisik kepada Selly dan para pelayan yang masih asik menikmati rujak tersebut.
"Ish! Kak Daniel tidak bertanggung jawab!" kesal Selly yang juga kehilangan rasa kantuknya.
Tanpa mempedulikan wajah kusut Selly, Daniel membawa Dania kembali ke kamar mereka dan segera pergi tidur.
Sementara itu di ruang utama.
"Non Selly, ini rujak cocoknya dikasih nama apa ya?" celetuk seorang pelayan.
"Rujak Nyai Kunti. Lihat saja, kita ngerujak bareng di jam-jam si Nyai kunti keluyuran," jawab Selly.
...***...
__ADS_1