Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 84


__ADS_3

Daniel tidak bicara sepatah katapun. Namun, tatapan elang lelaki itu terus tertuju pada pasangan suami-istri yang sedang duduk di hadapannya.


"Tuan Daniel. Kami minta maaf jika kedatangan kami saat ini mengganggu aktivitas Anda." Pak Adi melirik Bu Ida yang sejak tadi sudah gatal ingin bicara kepada lelaki itu.


"Ayo cepat, Pak! Katakan saja!" bisik Bu Ida yang sudah tidak sabar ingin memberitahukan soal Adelia kepada Daniel.


"Begini, Tuan Daniel. Baru saja Adelia menghubungi Istri saya dan mengatakan bahwa dia ...." Pak Adi menghentikan ucapannya karena raut wajah Daniel tampak berubah saat itu.


"Lanjutkan!" titah Daniel.


Walaupun saat itu Daniel sangat kesal ketika mendengar nama Adelia disebutkan, tetapi ia juga penasaran dengan apa yang ingin dibicarakan oleh Pak Adi kepadanya.


"Adelia berkata kepada kami, bahwa saat ini dia dalam bahaya dan butuh pertolongan dari Anda, Tuan Daniel. Adelia meminta kami untuk segera menemui Anda karena hanya Tuan Daniel yang bisa menyelamatkannya," tutur Pak Adi dengan wajah cemas.


"Ya, itu benar, Tuan Daniel. Kami tidak bohong," sambung Bu Ida sambil menganggukkan kepalanya dengan cepat.


Daniel menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi sambil tertawa pelan. Tidak ada yang tahu apa yang sedang ditertawakan oleh lelaki itu.

__ADS_1


"Adelia," gumam Daniel sambil menatap ke langit-langit ruangan tersebut.


Melihat ekspresi Daniel saat itu, Bu Ida benar-benar sangat bahagia. Ia semakin yakin bahwa Daniel masih mencintai anak perempuannya.


Daniel menghentikan tawanya kemudian kembali menatap Pak Adi dan Bu Ida dengan tatapan dingin.


"Apa kalian benar-benar yakin bahwa saat ini Adelia dalam bahaya?" Daniel balik bertanya.


Bu Ida menganggukkan kepalanya dengan cepat. "Ya, Tuan Daniel! Saya sangat yakin bahwa saat ini dia dalam bahaya. Saya bisa merasakan ketakutannya ketika ia bicara bersama saya di telepon," sahut Bu Ida.


Daniel tersenyum sinis. "Tapi sayangnya aku tidak percaya. Kalian tahu kenapa?"


"Karena selama ini Adelia pergi bersama kekasih hatinya dan dia baik-baik saja bersama lelaki itu. Jadi, bagaimana bisa kalian bilang dia dalam bahaya?" lanjut Daniel.


"Dengan kekasihnya? Tapi rasanya tidak mungkin," gumam Bu Ida dengan sangat pelan hingga tidak ada sesiapapun yang mendengarnya. Termasuk Pak Adi yang sedang duduk di sampingnya.


"Tapi saya tidak bohong, Tuan Daniel. Adelia sendiri yang bilang kepada saya bahwa dirinya dalam bahaya dan butuh pertolongan. Dan hanya Tuan Daniel yang dapat menyelamatkannya," jelas Bu Ida sambil memelas. Berharap Daniel iba kepadanya.

__ADS_1


"Sebenarnya aku bisa saja membantu kalian mencari tahu tentang Adelia. Tapi sayangnya aku sama sekali tidak tertarik. Wanita itu sudah meninggalkan aku untuk laki-laki lain, jadi untuk apa aku mempedulikan wanita seperti itu?" jawab Daniel dengan gamblang.


"Tapi, Tuan ...." Bu Ida mulai terisak. Air mata wanita itu kembali merembes, membasahi kedua pipinya yang sudah mulai berkerut.


Wanita itu bangkit dari posisi duduknya dan kini ia berdiri tepat di depan meja Daniel. Tanpa disangka, tiba-tiba Bu Ida bersimpuh di hadapan meja tersebut.


"Saya mohon, Tuan Daniel! Bantulah saya menyelamatkan Adelia. Ya, saya akui bahwa Adelia memang bodoh karena sudah meninggalkan Anda kala itu. Tapi, untuk kali ini saja, Tuan Daniel. Selamatkan anak perempuan saya," lirih Bu Ida.


Daniel tampak menimbang-nimbang, walaupun sebenarnya ia sangat malas kembali berurusan dengan wanita itu.


"Memohon lah kepada Dania. Karena semua keputusanku ada padanya. Jika ia mengizinkan aku membantu kalian, maka aku pun akan segera melakukannya dan memerintahkan Roy untuk bergerak. Namun, jika ia tidak memberikan aku izin, maka aku pun tidak akan melakukannya," tegas Daniel.


"Baik, Tuan Daniel. Saya akan bicara kepada Dania soal ini," jawab Bu Ida yakin.


"Tapi ku ingatkan padamu, Bu Ida! Berhati-hatilah bicara dengan istri kesayanganku itu. Jika kamu berani menyakiti hatinya sekali lagi, maka aku tidak akan segan-segan membuat kamu dan keluargamu menyesal," lanjut Daniel sambil menyeringai.


Seketika wajah Bu Ida memucat. Ia tidak menyangka bahwa ternyata Daniel tahu soal kejadian itu. "I-iya, Tuan."

__ADS_1


"Bagus lah jika kamu sudah mengerti, Bu Ida. Karena aku yakin sekali bahwa kalian tidak ingin kehilangan rumah serta mobil baru kalian."


...***...


__ADS_2