Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 103


__ADS_3

"Loh, katanya kita mau ke Dokter buat memeriksakan kakiku, tapi kenapa sekarang kita malah ke klinik Dokter kandungan?" Dania menatap heran Daniel dan Selly yang tampak tersenyum-senyum di belakangnya.


"Sudah, jangan banyak protes, Nyonya Dirgantara. Sebaiknya ikuti saja kami," celetuk Selly sambil mendorong pelan tubuh Dania agar masuk ke dalam ruangan itu.


Ketika memasuki ruangan, Dania langsung membulatkan mata saat ia melihat banyaknya antrian saat itu. Banyak sekali Ibu-ibu dengan perut buncit duduk di kursi tunggu, menunggu nama mereka di panggil oleh petugas yang bertugas di tempat itu.


Dania menghentikan langkahnya dan duduk di salah satu kursi tunggu sama seperti pasien lainnya. Namun, Selly menarik kembali tangannya dengan lembut.


"Ayo! Kamu tidak usah ikut antrian. Kak Daniel sudah membuat janji kepada Dokter terlebih dahulu," ucap Selly sambil tersenyum semringah.


"Benarkah? Memangnya bisa seperti itu?" Dania tampak kebingungan dan ia pun merasa tidak enak sama Ibu-ibu yang sudah lama mengantri di sana.


"Bisa lah! Sultan 'kan bebas," jawab Selly dengan setengah berbisik.


Dania menoleh ke arah Daniel yang kini berjalan melewatinya dan langsung disambut oleh perawat yang menjaga antrian.

__ADS_1


"Tuan Daniel? Mari, silahkan masuk, Tuan. Bu Dokter sudah menunggu kedatangan Anda," ucap Perawat itu sambil membukakan pintu ruang praktek Dokter kandungan tersebut.


"Terima kasih, Sus." Daniel melirik Dania dan meminta wanita itu agar segera masuk ke dalam ruangan. Selly kembali menuntun Dania dan melewati para Ibu-ibu yang kini menatapnya dengan wajah bingung.


"Maaf ya, Bu. Maaf," ucap Dania di sepanjang langkahnya. Ia merasa tidak nyaman karena sudah memotong antrian para Ibu-ibu tersebut.


"Sudah, tidak apa-apa, Dania." Selly tertawa pelan sambil terus menuntun Dania hingga memasuki ruang praktek Dokter tersebut.


Setibanya di ruangan itu, kedatangan Dania langsung di sambut hangat oleh Sang Dokter. "Selamat datang, Nona Dirgantara. Mari, silakan duduk."


Dokter menuntun Dania untuk duduk di kursi yang ada di depan meja milik Dokter tersebut. Dania makin heran karena ia merasa diperlakukan dengan sangat spesial hari itu.


"Sudah, diam. Kita lihat saja bagaimana hasil pemeriksaanmu nanti. Oke?" sahut Selly sembari mencium puncak kepala Dania.


Sebelum melakukan pemeriksaan terhadap kondisi Dania saat itu, Dokter sempat memberikan berbagai pertanyaan seputar tamu bulanan Dania. Dania makin bingung dan ia masih belum sadar apa alasan Daniel dan Selly membawanya ke Dokter tersebut. Walaupun bingung, Dania tetap menjawab pertanyaan Dokter dengan benar.

__ADS_1


"Kapan terakhir kali Nona Dania mendapatkan menstruasi?"


"Lupa, Dok. Aku tidak terlalu memperhatikannya. Tapi, yang pastinya bulan kemarin belum dapet. Ya, mungkin saja ini udah dekat. Kan udah tanggal muda," jawab Dania.


Dokter hanya tersenyum kemudian meminta Dania mengikutinya untuk melakukan berbagai pemeriksaan seperti berat badan, cek tekanan darah dan sebagainya. Dania tampak nyaman-nyaman saja saat itu, hingga akhirnya Dokter memintanya untuk menggunakan alat test kehamilan di dalam sebuah kamar kecil yang memang disediakan di ruangan itu.


"Jujur ya, Dok. Aku benar-benar tidak mengerti kenapa kalian memaksaku memeriksakan kandunganku seolah-olah aku ini sedang hamil. Padahal saat ini keluhanku hanya satu, kakiku sedang sakit dan aku tidak tahu kenapa. Jadi seharusnya yang diperiksa itu kakiku, bukan kandunganku," celetuk Dania dengan wajah sedikit kesal.


"Tidak apa, Nona Dania. Saya bisa pastikan bahwa tes ini tidak akan menyakiti Nona dan juga tidak makan waktu lama. Hanya sebentar, paling lama 10 menitan," bujuk Dokter.


"Oh ayolah, Sayang! Cuma sebentar saja. Siapa tahu dengan tes itu, kita bisa menemukan penyebab kenapa kakimu tiba-tiba sakit," sambung Daniel.


"Memangnya bisa begitu?" protes Dania.


"Bisa!" jawab Daniel mantap. "Ya 'kan, Dok?"

__ADS_1


Dania pun akhirnya mengalah. Ia setuju dan mengikuti keinginan suami serta Dokter itu.


...***...


__ADS_2