
Adelia refleks berlari memasuki hotel tersebut. Ia sempat di tahan oleh penjaga keamanan serta para Polisi yang berusaha ingin melakukan penyelamatan di atas sana.
"Saya kenal lelaki itu, Pak! Biarkan saya menemuinya," ucap Adelia dengan wajah panik.
"Apa Anda kekasih pria yang berada di atas sana?"
"Ya, ya! Saya kekasihnya! Percayalah," sahut Adelia bohong.
Setelah mendengar penuturan Adelia, mereka mengijinkannya masuk. Mereka bahkan menuntun Adelia hingga ke rooftop, di mana Samuel masih berdiri dengan rasa keputusan asa-annya.
Setibanya di sana.
Perlahan-lahan Adelia menghampiri Samuel yang masih berdiri di pinggiran. Pandangan lelaki itu kosong. Ia bahkan tidak mendengar suara teriakkan orang-orang yang memintanya untuk tidak melakukan hal bodoh itu.
"Sam ...," panggil Adelia sambil terus mendekat ke arah Samuel.
Mendengar suara panggilan dari Adelia, Samuel pun segera berpaling dan menatap wanita itu sambil tersenyum getir.
"A-Adelia, ngapain kamu ke sini?"
"Kamu sendiri, ngapain berdiri di sana?" tanya Adelia balik.
"Hah? Aku ...." Samuel memperhatikan dirinya yang masih berdiri di tepian rooftop.
__ADS_1
"Aku rasa hidupku sudah cukup sampai di sini, Adelia. Aku sudah cukup puas menyia-nyiakan hidupku dan sekarang sudah saatnya aku untuk pulang, menyusul kedua orang tuaku," jawab Samuel, masih dengan senyuman khasnya.
"Dasar lelaki bodoh! Kenapa kamu harus mengakhiri hidupmu dengan cara seperti ini? Memalukan. Seharusnya aku yang melakukan hal seperti itu, karena apa? Karena aku sudah bukan wanita yang sempurna lagi. Aku bahkan tidak akan pernah bisa memiliki keturunan hingga akhir hayatku, tapi aku tidak putus asa seperti dirimu. Aku malah berpikir untuk menjadi manusia yang lebih baik. Setidaknya aku masih bisa menunjukkan pada orang-orang di sekitarku bahwa aku masih berguna," jelas Adelia.
Samuel tertunduk malu untuk beberapa saat. Setelah itu ia pun kembali mengangkat kepalanya sembari melemparkan sebuah senyuman hangat kepada Adelia sekali lagi.
"Tapi ... jika nanti aku mati, kamu bersedia memaafkan semua kesalahanku, 'kan?"
"Siapa bilang?! Malah sebaliknya, aku akan semakin membencimu dengan seluruh hidupku, Sam. Sekarang kembalilah! Jika kamu kembali, maka aku berjanji akan memaafkan semua kesalahanmu," ucap Adelia sembari mengulurkan tangannya ke arah Samuel dan berharap lelaki itu menyambutnya.
"Benarkah itu? Kamu tidak sedang membohongiku 'kan, Del?" Samuel kembali tersenyum dan mata lelaki itu tampak berkaca-kaca.
"Ya, aku tidak bohong! Sekarang kembalilah," bujuk Adelia lagi.
Ia memeluk tubuh Adelia dengan erat dan terisak di sana sambil terus mengucap kata maaf. Adelia membalas pelukan Samuel sembari mengelus lembut punggungnya.
"Ya, Sam. Aku memaafkanmu."
Semua orang pun bersorak-sorai sembari bertepuk tangan melihat kejadian itu.
Beberapa hari kemudian.
Di kediaman Daniel dan Dania.
__ADS_1
Dania duduk di sofa ruang televisi sambil mendengarkan suara seseorang dari seberang telepon. Sementara putra kesayangannya juga berada di ruangan itu sambil bermain.
"Apa? Ibu serius, Kak Adelia akan segera menikah?" pekik Dania dengan mata membulat.
"Ya, Dania! Ibu tidak bohong. Ibu pun sangat senang ketika mendengarnya," jawab Bu Ida dengan semringah dari seberang telepon.
"Wah, selamat deh kalau begitu. Aku pun senang mendengarnya," jawab Dania.
Daniel yang tidak sengaja mendengar percakapan Dania ketika melewati ruangan tersebut, segera datang menghampiri dan duduk di samping Dania.
"Siapa?"
"Ibu. Dia kasih kabar bahwa Kak Adelia sebentar lagi akan menikah." Dania tersenyum dan bersandar di pundak Daniel.
Daniel mengangkat kedua alisnya. "Baguslah kalau begitu. Ngomong-ngomong siapa calon suaminya?"
"Samuel, lelaki yang kemarin sudah menahannya. Ia sudah keluar dari penjara dan katanya serius ingin bertanggung jawab kepada Kak Adelia," jawab Dania.
"Ya, semoga saja kali ini Samuel serius tidak main-main dengan keputusannya."
"Ya, aku juga berharap seperti itu, Mas."
...***...
__ADS_1