
Kini tiba saatnya untuk Dania dibawa ke ruang operasi. Beberapa orang tim medis sudah berada di ruangannya dan siap membawa Dania ke ruangan itu.
"Dania, Dania, senyum!" ucap Selly yang sejak tadi terus merekam momen-momen menegangkan melalui ponselnya.
Dania pun tersenyum ke arah kamera sambil berpose secantik mungkin. Jika Dania tampak tenang menyambut hari kelahiran bayinya, berbanding terbalik dengan Daniel. Kepanikan lelaki itu semakin menjadi saja. Ia bahkan tidak bisa menyunggingkan senyumannya.
"Kak! Kak Daniel, senyum!" goda Selly sambil mengarahkan kamera ponselnya ke arah Daniel yang masih berdiri di samping Dania.
Jangankan menoleh, ucapan Selly pun tidak didengar oleh Daniel saat itu.
"Kak, ish! Wajahnya biasa aja dong, Kak. Rileks, jangan tegang," godanya sekali lagi sambil terkekeh pelan.
Masih seperti tadi, Daniel tidak menggubris panggilan Selly. Apalagi saat ini para tim medis sudah bersiap mendorong bed yang sudah di tempati oleh Dania.
"Siap, Nona Dania?" goda salah satu Perawat sambil tersenyum menatap Dania.
"Siap dong, Sus. Malah aku tidak sabar ingin melihat bayi mungil kami," jawab Dania dengan wajah semringah.
"Baiklah kalau begitu."
__ADS_1
Para perawat itu pun mulai mendorong bed Dania dan membawanya ke luar dari ruangan itu. Sementara Daniel dan lainnya mengikuti dari belakang. Termasuk Selly yang berjalan pontang-panting sambil terus merekam momen-momen indah tersebut.
Kini mereka tiba di ruang operasi. Dania di giring masuk ke dalam ruangan itu bersama Daniel juga. Sementara Bu Riska, Om Tommy dan Selly menunggu di luar.
Sebelum operasi cecar itu dilaksanakan, para tim medis memasangkan keteter pada Dania kemudian menyuntikkan anestesi. Di mana Dania masih sadar, sementara tubuh bagian bawahnya mati rasa, atau tidak merasakan apapun.
Setelah anestesi tersebut bereaksi, sebuah kain dibentangkan di tengah-tengah tubuh Dania dan membuatnya tidak dapat melihat apa yang dilakukan oleh Dokter dan para perawat di bawah sana.
Hingga saat-saat yang paling menegangkan itu pun tiba. Di mana Dokter sudah mulai memberikan sayatan demi sayatan di perut Dania yang membulat.
Daniel masih berada di samping bed Dania sambil menggenggam tangan istrinya itu dengan erat. Bibirnya terus memanjatkan doa untuk keselamatan Dania dan juga anak pertamanya.
Oeeek ... oeeek ....
Terdengar suara tangisan bayi yang melengking. Memecahkan keheningan di ruangan itu. Daniel yang tadinya begitu tegang, akhirnya menyunggingkan sebuah senyuman lebar.
"Ya Tuhan, terima kasih banyak!" pekiknya dengan mata berkaca-kaca.
Bukan hanya Daniel, Dania pun tidak kalah bahagianya. Suara tangisan pertama Sang Bayi, membuat rasa lelah yang ia rasakan selama sembilan bulan ini terbayarkan.
__ADS_1
"Kamu dengar itu, Sayang? Bayi kita sudah lahir," ucap Daniel sembari menyeka air mata Dania yang jatuh tanpa ia sadari.
Walaupun suara bayi mungil itu sudah terdengar di telinganya. Namun, hal itu masih belum bisa membuat Daniel tenang. Ia mengkhawatirkan kondisi Dania yang masih berada dalam proses operasi.
Sementara bayi mungil itu sedang dibersihkan oleh seorang perawat, Dokter masih melakukan tugasnya di bawah sana, menutup luka sayatan pada perut Dania.
Beberapa menit kemudian. Operasi itu pun selesai. Baik Dokter maupun tim medis lainnya akhirnya bisa bernapas lega. Tak ada kendala apapun selama operasi berlangsung. Begitu pula dengan Daniel. Wajah lelaki itu kini kembali menghangat. Ia sudah bisa menyunggingkan senyumannya dengan leluasa.
Seorang perawat datang menghampiri Dania dan Daniel sembari menggendong seorang bayi mungil yang terbalut dengan kain bedong.
"Selamat ya, Tuan. Bayi Anda laki-laki," ucapnya sembari menyerahkan bayi berjenis kelamin laki-laki tersebut kepada Daniel.
Daniel segera menyambutnya dengan sangat hati-hati. "Sesuai prediksi, Sus."
Perawat itu pun menganggukkan kepalanya sambil tersenyum hangat. "Ya, Tuan. Begitu pula berat badannya, sesuai dengan prediksi, 4,2 kilogram."
"Huwahh, anak Daddy memang keren!" ucap Daniel sembari memperlihatkan bayinya kepada Dania.
"Ya, Tuhan. Tampan sekali dia, persis seperti kamu, Mas." Dania tanpa sadar kembali meneteskan air matanya.
__ADS_1
...***...