Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Bab 91


__ADS_3

"Sayang! Terima kasih banyak! Akhirnya Kak Adelia berhasil diselamatkan. Aku ingin ikut menyambut kedatangan Kak Adelia bersama Ayah dan Bu Ida. Apa Mas juga ingin ikut bersamaku?" ucap Dania dengan sangat antusias kepada Daniel melalui ponselnya.


Saat itu Daniel masih sibuk dengan pekerjaannya di kantor. Ia sama sekali tidak peduli dengan misi penyelamatan Adelia. Seandainya bukan Dania yang meminta, Daniel pasti sudah menolaknya mentah-mentah.


"Sama-sama, Sayang." Daniel melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya dan tinggal beberapa jam lagi ia akan segera kembali ke rumahnya.


"Maafkan aku, Dania sayang. Sepertinya aku tidak bisa ikut, soalnya pekerjaanku masih banyak. Tapi, aku akan datang untuk menjemputmu jika masih sempat," jawab Daniel.


Sebenarnya Daniel bisa saja pulang saat itu dan menemani Dania pergi ke kediaman Ayah mertua dan Bu Ida. Namun, Daniel benar-benar malas jika harus bertatap mata dengan Adelia. Wanita yang sudah mengkhianatinya itu.


"Oh, ya sudah kalau begitu. Biar aku berangkat sendiri saja," jawab Dania.


"Heh, jangan lupa Max!" sambung Daniel yang tidak terima mendengar istrinya ingin pergi sendirian.


Dania menepuk keningnya. "Heh, Mas Daniel! Max itu sudah seperti bayangan kedua untukku. Tak diminta pun, dia pasti mengikuti kemanapun aku pergi," sahut Dania.


"Ya, harus! Bagiku Max adalah mata ke dua-ku dan dia harus memastikan bahwa dirimu selalu aman, di manapun dan kapanpun."


Dania tersenyum. "Ehm, sudah dulu ya, Mas. Aku ingin ganti pakaian dan setelah itu berangkat ke kediaman Ayah. Dan buat kamu, semangat kerja, ya! Aku cinta padamu," ucap Dania.


"Ehm, Dania," panggil Daniel sebelum Dania memutus panggilannya.


"Ya?"

__ADS_1


"Jaga jarak dari Adelia. Ya, walaupun bagimu dia adalah Kakakmu, tetapi aku tetap tidak dapat mempercayainya. Aku tidak ingin dia menyakitimu," jelas Daniel.


Dania tertawa pelan. "Sayang. Aku kenal Kak Adel sudah sejak lama. Ya, dia memang kadang menjadi gadis yang sangat menyebalkan. Namun, dia tidak pernah melakukan hal yang aneh-aneh padaku, kok."


"Ya, memang. Tapi aku tetap tidak percaya," jawab Daniel.


"Ya, ya, baiklah. Ya, sudah. Bye, Sayang!"


"Bye. Love you." Daniel meletakkan kembali ponsel miliknya ke atas meja setelah Dania memutuskan panggilan mereka.


Setelah selesai berbincang bersama Daniel melalui ponselnya, Dania bergegas mengganti pakaian dan bersiap pergi ke kediaman baru Pak Adi dan Bu Ida. Walaupun selama ini hubungannya dan Adelia tidak pernah baik, tetapi ia tetap ingin menyambut kedatangan saudara tirinya itu.


"Aku harus membeli sebuah hadiah untuk menyambut kedatangan Kak Adel. Kira-kira hadiah yang bagus apa untuknya, ya?" gumam Dania sembari melangkah menuju halaman depan.


Setibanya di tempat itu, Max segera menghampiri Dania dengan wajahnya yang datar. Dania sempat melirik lelaki irit bicara tersebut untuk beberapa saat. Hingga ia masuk dan duduk di dalam mobil yang dikemudikan oleh sopir pribadi suaminya itu.


"Yang bagus, ya, Mbak. Soal harganya, tidak menjadi masalah."


"Baik, Nona."


Setelah cukup lama berkeliling di butik tersebut, akhirnya Dania mendapatkan pakaian yang menurutnya cocok untuk Adelia kenakan.


"Ini, Nona. Terima kasih banyak," ucap karyawan butik tersebut sembari menyerahkan paper bag berisi pakaian yang sudah dibungkus untuk diserahkan kepada Adelia nantinya.

__ADS_1


"Terima kasih kembali, Mbak."


Dania kembali ke mobil dan meneruskan perjalanan mereka ke kediaman Ayah dan Ibu tirinya.


Tidak berselang lama, Dania pun tiba di sana. Ternyata Adelia masih di perjalanan bersama Roy dan anak buahnya. Melihat kedatangan Dania, Bu Ida pun bergegas menyambutnya.


"Nak Dania! Oh, syukurlah kamu datang. Mari masuk, Nak! Ngomong-ngomong, Tuan Daniel tidak ikut?" Bu Ida merangkul pundak Dania dan mengajaknya masuk ke dalam rumah mereka.


Sebenarnya wanita itu terpaksa melakukannya. Selain karena tuntutan dari Tuan Daniel, ia pun takut kepada Max yang terus memperhatikan dirinya dengan tatapan mengerikan.


"Tidak, Bu. Mas Daniel masih sibuk dan ia tidak bisa ikut. Tapi, dia sudah berjanji akan menjemputku jika sempat." Dania terdiam sesaat. "Oh ya, di mana Ayah?" tanya Dania.


"Ayahmu di dalam. Dia sedang bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Kakakmu hari ini," jawab Bu Ida dengan wajah berseri-seri.


Dania menghembuskan napas panjang sembari tersenyum tipis menatap Bu Ida. Sempat tergelitik di dalam hati gadis itu, mungkinkah Ayah dan Bu Ida akan menyambut dirinya, sama seperti mereka menyambut Adelia. Jika seandainya yang ada di posisi Adelia sekarang adalah dirinya. Jawabannya, tidak mungkin!


"Nah, itu Ayahmu!" Bu Ida menunjuk ke arah Pak Adi yang terlihat begitu berbeda dari biasanya. Ya, lelaki itu terlihat jauh lebih keren dengan setelan kemeja serta celana formal yang kini melekat di tubuhnya.


"Wah, Ayah tampan sekali," goda Dania.


"Ya, tentu saja, donk, Dania. Hari ini adalah hari yang sangat spesial. Jadi, Ayah pun harus berpenampilan spesial pula," jawab Pak Adi dengan wajah semringah.


"Dan Ibu pun memasak banyak hari ini. Masak masakan kesukaan Kak Adelia," sambung Bu Ida.

__ADS_1


"Mari, sini, Nak. Duduklah dulu. Kamu pasti lelah 'kan setelah di perjalanan," ucap Pak Adi sembari menuntun Dania ke sofa yang ada di ruang depan. Sementara Bu Ida pamit ke dapur untuk memastikan semuanya sudah beres.


***


__ADS_2