Pengantin Pengganti Tuan Pemarah

Pengantin Pengganti Tuan Pemarah
Donatur Cahaya Asa


__ADS_3

"Wah, tampan sekali! Siapa dia?!" gumam salah satu teman mengajar Dania yang tiba-tiba membulatkan matanya sambil menatap ke arah belakang gadis itu.


"Kamu kenapa, Ya?" tanya Dania yang heran melihat ekspresi temannya itu.


"Berbalik lah!" titah Yaya kepada Dania.


Yaya membalikkan tubuh Dania hingga 180 derajat. Dan kini Dania melihat sosok yang tak asing sedang berjalan ke arahnya dengan wajah terangkat. Tangannya dimasukkan ke dalam saku dan jalannya terlihat sangat keren, bak model terkenal yang sedang melenggang di catwalk.


"Gayanya cool banget! Apakah dia seorang donatur yang akan menyumbang untuk kelancaran yayasan kita ini?" bisik Yaya di samping telinga Dania, masih dengan mata yang membulat sempurna menatap Daniel.


"Astaga! Mau apa dia ke sini!" pekik Dania dalam hati. Wajah Dania seketika memucat. Pangeran tampan yang sedang berjalan di hadapannya itu bisa saja berubah menjadi seorang monster dalam hitungan detik.


"Ehm, Yaya! Kenalkan, ini Tuan Daniel Dirgantara, Tuan ini akan menjadi donatur tetap di yayasan kita yang tercinta ini," ucap Dania sambil berbalik lagi menghadap Yaya. Sementara Daniel sudah berdiri tepat di belakang Dania.


"Hah, apa?!" pekik Daniel setelah mendengar penuturan Dania kepada Yaya. Daniel menautkan kedua alisnya dan memperhatikan wajah Dania yang begitu serius ketika mengucapkan hal itu.


"Benarkah! Oh, syukurlah! Akhirnya ada juga yang peduli dengan yayasan kita ini," pekik Yaya dengan mata berkaca-kaca menatap Daniel yang masih tampak kebingungan.


"Anak-anak, kemarilah! Kita kedatangan tamu hari ini! Ada Tuan Daniel yang akan menjadi donatur tetap di sekolah kalian yang tercinta ini," teriak Dania, memanggil anak-anak yang sedang berkumpul di segenap sudut kelas-kelas mereka.

__ADS_1


Para anak-anak itu pun berlarian menuju ke arah Dania dengan senyuman yang terus mengambang di wajah-wajah polos mereka. Kini anak-anak itu berdiri di hadapan Daniel. Mereka terlihat begitu senang karena akhirnya ada donatur yang bersedia membantu sekolah mereka yang serba kekurangan tersebut.


"Ayo, salaman sama Tuan Daniel," ajak Dania kepada anak-anak itu.


Anak-anak itu berebut menyalami Daniel dan mencium tangannya. Bahkan tidak ketinggalan kata terima kasih yang keluar dari bibir mungil mereka.


"Ya, sama-sama," sahut Daniel yang kini sudah tidak bisa berkutik lagi.


"Mari, Tuan Daniel. Saya ajak Anda untuk melihat-lihat tempat ini," ucap Yaya dengan wajah semringah.


Daniel pun mengangguk pelan kemudian mengikuti Yaya dan anak-anak yang kini menuntunnya mengelilingi tempat itu.


"Tidak ada salahnya berbagi sedikit uangmu yang tidak terhitung itu kepada mereka, Tuan Daniel. Lihatlah anak-anak itu! Lihatlah tempat ini! Kami bahkan kekurangan segala-galanya di sini," ucap Dania dengan setengah berbisik kepada Daniel yang masih memperhatikan tempat itu dengan seksama.


Dania membulatkan matanya. "A-aku? Harus bayar? Ta-tapi, bayar dengan apa?!" pekik Dania.


Daniel tidak menjawab, ia hanya tersenyum dan terus melangkahkan kakinya mengelilingi tempat itu. Sementara Dania masih terpaku di tempatnya berdiri sambil memikirkan nasibnya.


"Semoga saja Tuan Daniel tidak serius soal itu," gumam Dania dengan wajah cemas.

__ADS_1


Selesai berkeliling, bukannya pulang, Daniel malah ikut masuk ke dalam kelas di mana Dania sedang mengajar anak-anak didiknya. Lelaki itu dengan santainya duduk di sebuah kursi yang terletak paling belakang dan menjadi pusat perhatian anak-anak.


"Anak-anak! Berhenti memperhatikan lelaki itu! Perhatikan papan tulis dan kerjakan soal yang sudah Kakak berikan!" titah Dania yang mulai kesal karena Daniel hanya mengganggu kegiatan belajar dan mengajarnya.


"Baik, Kak!" sahut anak-anak itu serempak dan mereka pun segera mengerjakan tugas yang sudah diberikan oleh Dania.


Sementara anak-anak didiknya tengah mengerjakan tugas-tugas yang ia berikan, Dania memilih menghampiri Daniel yang masih duduk di salah satu pojok ruangan itu. Lelaki itu tersenyum tipis menatap Dania yang datang menghampirinya.


"Kenapa Tuan masih di sini? Apa Tuan tidak bekerja?" tanya Dania dengan kesal.


"Memangnya kenapa? Kamu tidak suka aku di sini, ha?" sahut Daniel sambil menyilangkan tangannya ke dada. "Jangan lupa, kamu punya hutang kepadaku yang harus kamu bayar," lanjutnya.


"Hei, Tuan! Aku hanya ingin mengajakmu ke jalan kebaikan, kenapa malah di anggap sebagai hutang? Memangnya aku akan bayar dengan apa? Bukankah Tuan sudah tahu bahwa aku tidak memiliki gaji tetap di tempat ini?!" kesal Dania sambil menekuk wajahnya.


"Aku tidak mau tahu," jawab Daniel sambil membuang pandangannya ke arah lain.


Dania hanya bisa menghela napas berat. Ia pun pasrah dan membiarkan lelaki itu berada di sana hingga ia merasa bosan dengan sendirinya.


Sementara itu di ruangan lain. Erick masih kesal, beberapa kali ia memperhatikan ruang kelas di mana Dania mengajar. Ia kesal karena lelaki itu juga berada di sana seperti Bodyguard pribadi Dania.

__ADS_1


"Apa dia tidak punya pekerjaan hingga terus mengikuti kegiatan Dania?!" gerutu Erick sambil memukul mejanya.


...***...


__ADS_2